kumplus- Opini Boni rambatan
16 April 2021 16:19

Mempertanyakan Narasi Ekonomi Kreatif Milenial dan Berbagai Ketimpangannya

Pada 3 April 2021, warganet Indonesia sibuk membicarakan kehadiran Presiden Jokowi dan beberapa pejabat negara lainnya di resepsi pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Bukan kehadiran mereka yang dipermasalahkan—tentunya presiden berhak menghadiri acara pernikahan siapa pun, selama tidak melanggar protokol kesehatan—melainkan bagaimana acara itu dibingkai dan disajikan kepada publik.
Selain disiarkan di televisi selama berjam-jam, kehadiran presiden juga dikabarkan oleh akun Twitter resmi Sekretariat Negara. Dan jangan lupa bahwa ini semua terjadi selagi NTT dilanda bencana alam. Peliputan semacam itu membuat pernikahan Atta-Aurel lebih mirip pernikahan sepasang ningrat oligarki Indonesia alih-alih YouTuber populer.
Sekitar seminggu setelahnya, kita mendapati berita Bukit Algoritma, pengejawantahan terbaru dari ide “Silicon Valley Indonesia.” Proyek ini diperkirakan butuh dana sekitar Rp18 triliun. Berita ini sama sekali tidak berkaitan dengan pernikahan Atta-Aurel. Namun, jika kita sandingkan kedua berita tersebut, tidak sulit untuk mendapatkan gambaran dari rangkaian gagasan trendi yang sering kali menghiasi kesadaran kita dalam wacana bermasyarakat. Gagasan tersebut antara lain adalah “ekonomi kreatif” (dari YouTuber hingga tech startup) dan “milenial” (Atta sebagai sejenis “milenial teladan”, Silicon Valley sebagai simbol inovasi generasi milenial).
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Narasi ekonomi kreatif semestinya memberi tempat kepada para pekerja yang menopangnya, bukan melulu mengglorifikasi sosok milenial teladan. Simak opini penulis filsafat dan komikus, Bonni Rambatan, hanya di kumparan+.