kumparan
16 Mei 2018 15:51 WIB

Peran Raja Dalam Islamisasi Kerajaan Gowa

Konsepsi raja sebagai wakil Tuhan di bumi adalah pandangan yang berlaku umum di bumi nusantara pada masa lalu. Di Minangkabau, raja alam sangat dihormati karena ia dianggap berasal dari Tuhan. Di dalam sejarah islam konsepsi raja atau sultan adalah bayangan Tuhan telah diperkenalkan oleh ilmuwan Muslim seperti Imam Ghazali dan Ibn Taimiah. Dalam buku Ibn Taimiah yang berbicara tentang pentingnya pemerintahan. Konsepsi itu diperkenalkan oleh Ibn Taimiah dimaksudkan untuk memelihara stabilitas politik pada waktu itu, mengingat kenyataan sosial politik umat Islam sedang dilanda perpecahan setelah serangan dari bangsa Mongol.
ADVERTISEMENT
Konsepsi bahwa Sultan sebagai bayanganTuhan di bumi telah berpengaruh ke Nusantara melalui para saudagar muslim atau melalui buku-buku yang dibawa oleh mereka.Konsepsi HIkayat Raja-raja Pasai masuk ke Sulawesi Selatan setelah agama Islam diterima di daerah itu. Dalam masyarakat Sulawesi Selatan ditemukan konsepsi tentang kekusaan yang mempunyai persamaan dengan yang dikemukakan diatas. Dalam masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Makasar, ditemukan konsepTomanurung sebagai Raja pertama di kerajaan Gowa. Tomanurung dianggap suci karena berasal dari Dewata (Tuhan). Raja-raja berikutnya haruslah berasal dari keturunan Dewa/Tuhan. Jadi, kekuasaan yang diperoleh Sombaya berasal dari legitimasi secara genetik.
Kedatangan Islam di kerajaan Gowa sebagai yang dikemukakan, tidaklah merombak pranata-pranata social dan politik yang sudah ada, tetapi para pembawa Islam tetap menghormati pranata yang sudah ada tersebut mereka tinggal menyesuaikan dengan menambahkan pranata Islam yang berkembang pada masa itu, seperti pranata Kadi, Sarak, atribut Sultan, dan nama para Raja yang mencerminkan nama-nama Islam. Yang terakhir tercermin dari nama raja pertama yang menerima Islam pertama di kerajaan Gowa, yaitu I Mangrangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tomenanga ri Gaukanna.
ADVERTISEMENT
Jadi, Islamisasi yang berlangsung cepat itu disebabkan karena penyebar Islam di setiap kerajaan Sulawesi Selatan adalah semuanya dibawah pimpinan dan perlindungan Raja.
Islamisasi keberbagai daerah Nusantara tidaklah berlangsung secara bersamaan. Kedatangan Islam di kerajaan Gowa agak terlambat dibanding dengan daerah lainnya. Islam diterima di daerah ini pada awal abad ke-17 bersamaan dengan masa puncak kejayaan kerajaan ini yang ditandai dengan luasnya daerah kekusaan yang meliputi hampir separuh Nusantara bagian Timur.
Posisi Raja sebagai titisan darah dari Dewat amemberikan keuntungan tersendiri dalam hubunganny adalam Islamisasi. Penyebaran Islam yang dimulai dari istana telah mempersingkat proses Islamisasi tidak heran jika Islamisasi di Sulawesi Selatan hanya berlangsung selama 6 tahun terhitung setelah penerimaan Islam pertama oleh Sultan Alauddin tahun 1605 dan berakhir 1611. Dengan demikian, Islamisasi di Sulawesi Selatan berlakuTeori Siapa Pemilik Negeri Dialah Pemilik Agama atau seperti yang berlaku dalam masyarakat Ibn Khaldun manusia atau rakyat mengikuti agama Raja.
ADVERTISEMENT
sumber: ISLAMISASI KERAJAAN GOWA : Prof. DR. Ahmad M. Sewang, M.A
penulis:MUHAMMAD AZHAR TRIDHARMA PUTRA Mahasiswa S1 UIN JAKARTA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan