Entertainment
·
12 Mei 2020 10:34

#BriiKecil: Kapal Hantu Selat Sunda

Konten ini diproduksi oleh BriiStory
#BriiKecil: Kapal Hantu Selat Sunda (4606)
Ilustrasi Kapal. Foto: flickr
Halo, siang ini kita jalan-jalan ke tengah laut Selat Sunda ya.
ADVERTISEMENT
***
Namanya Wayan, lupa nama panjangnya, tapi gw biasa memanggilnya Om Wayan.
Dia adalah teman lama Bapak gw, sudah Bertahun-tahun mereka gak berkomunikasi, sampai akhirnya bertemu lagi secara gak sengaja.
Hari itu, sekitar 18 tahun yang lalu, gw dan keluarga mengunjungi kerabat yang sedang menggelar acara pernikahan di Bandar Lampung.
Berangkat menggunakan mobil, jadi kami harus menyeberangi laut selat sunda menggunakan kapal laut antara pelabuhan Merak dan Bakauheuni Lampung.
Memutuskan untuk berangkat pada malam hari, sekitar jam sebelas malam kami mulai menyeberangi selat Sunda.
Entah kenapa, perjalanan kapal laut selat Sunda ini termasuk bagian perjalanan yang amat gw suka, apalagi kalau malam.
Suara debur gelombang yang menabrak badan kapal, semilir angin di tengah lautan, melihat tingkah polah penumpang lain, banyak hal lain lagi yang gw suka.
ADVERTISEMENT
Kapal yang beroperasi di selat Sunda ini disebut kapal RORO, kapal besar dengan dimensi kira-kira panjang 100m dan lebar 25m. Kira-kira ya, gw gak tahu pastinya.
Bisa memuat penumpang sampai seribu orang. Tapi katanya kapal yang sekarang beroperasi ukurannya sudah jauh lebih besar lagi.
Perjalanan kapal membelah selat Sunda dulu memakan waktu kurang lebih sekitar tiga jam. Gw, selama tiga jam itu gak pernah duduk di kursi penumpang, selalu berjalan-jalan keliling kapal menikmati suasana sekitar.
Kalau capek dan harus duduk, tempat kesukaan adalah di Haluan.
Haluan adalah bagian kapal yang paling depan. Semua sudah pernah nonton Film Titanic kan? Adegan di mana Leo dan Kate "Flying" di ujung depan kapal. Nah, gw biasa duduk di tempat itu.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya itu termasuk tempat terlarang bagi penumpang untuk memesukinya, tapi ya sudahlah..
***
#1
Singkat cerita, sekitar jam sebelas malam, ketika kami sudah berada di atas kapal, gw sedang duduk di Haluan, tiba-tiba Bapak tergopoh-gopoh datang menghampiri dengan wajah sumringah,
"Brii, kita ke ruang kemudi kapal yuk, kapten-nya ternyata teman lama Papa.."
Berita yang sangat gw suka, karna gw belum pernah masuk ke ruang kemudi kapal, pada saat inilah gw tahu kalau ternyata om Wayan adalah kapten kapal yang sedang kami naiki itu.
***
#2
Bapak dan om Wayan teman satu kampus, selepas kuliah mereka berpisah dan hilang kontak. Baru bertemu lagi ketika secara gak sengaja berpapasan di salah satu bagian kapal.
ADVERTISEMENT
Setelah pertemuan gak disengaja itulah kemudian om Wayan mengajak Bapak untuk berbincang di ruang kemudi.
Gak lama-lama, kami langsung menuju ruang kemudi saat itu juga.
Setelah sampai, akhirnya gw bertemu dengan Om Wayan, orang yang ramah, dengan parawakan tinggi kurus. Terlihat gagah dengan seragam Kapten lengkap dengan topi putihnya.
Beberapa saat gw memperhatikan dua teman lama itu bersenda gurau dan bercerita tentang hidup masing-masing.
Selebihnya gw lebih asik memperhatikan suasana sekitar. Bisa ditebak, pemandangan laut dari ruang kemudi jauh lebih indah lagi, walaupun sudah mendekati tengah malam.
Di ruangan ada om Wayan beserta dua kru-nya, gw, dan Bapak. Gak terlalu ramai memang.
One thing lead to another, entah dimulai dari mana, Om Wayan mulai bercerita tentang kejadian-kejadian seram yang pernah dia alami selama bekerja di atas kapal.
ADVERTISEMENT
Inilah yang gw tunggu, cerita pengalaman seram, pasti seru.
***
#3
Sebelum bertugas di Selat Sunda, om Wayan pernah bertugas di banyak tempat.
Beliau memulai cerita dengan pengalaman sewaktu menjadi kapten kapal tongkang pengangkut kontainer di jalur laut Surabaya Kalimantan.
Begini ceritanya..
Pada suatu malam di tengah laut lepas menuju Kalimantan, salah satu anak buahnya melaporkan bahwa di radio ada panggilan meminta tolong.
Panggilan itu berasal dari kapal lain yang katanya sedang terbakar. Dari koordinatnya, kapal terbakar itu gak jauh dari posisi kapal tongkang om Wayan. Maka dari itulah beliau memutuskan untuk langsung mengarahkan kapalnya ke sana.
Singkat cerita, kapal om Wayan sampai di titik koordinat yang dimaksud.
Ternyata memang benar, ada kapal di koordinat itu, kapal penumpang yang besar, kira-kira sama ukurannya dengan kapal roro selat Sunda.
ADVERTISEMENT
Tapi anehnya, kapal itu seperti gak ada kehidupan di dalamnya, kosong.
Gak ada satupun lampu menyala, alias gelap gulita.
Setelah posisi kapal sudah menjadi lebih dekat lagi, om Wayan dan kru menjadi sangat terkejut, Karena ternyata kapal itu dalam keadaan hangus, seperti baru saja terbakar.
Om Wayan memerintahkan beberapa kru untuk memeriksa ke dalam kapal hangus itu, mungkin saja masih ada orang yang masih bisa ditolong.
Para kru yang masuk hanya berbekal lampu senter dan peralatan seadanya. Sementara Om Wayan tetap memonitor dari kejauhan.
Sampai tiba-tiba..
Betapa terkejutnya om Wayan, ketika melihat para kru itu tiba-tiba berlarian keluar sambil berteriak meminta cepat dijemput dan segera meninggalkan kapal..
***
#4
ADVERTISEMENT
Setelah kembali ke kapal tongkang, para kru tadi menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami.
Jadi, ketika sedang berkeliling dalam gelapnya kapal, memeriksa ruangan demi ruangan, ternyata mereka menemukan ruang penumpang berukuran besar, berisi puluhan orang yang sedang berdiri, menatap dengan tubuh yang sudah dalam keadaan hangus terbakar.
Ketakutan, mereka langsung berlari ke luar..
Setelah itu, om Wayan memutuskan untuk meninggalkan lokasi, serta langsung membuat laporan mengenai penemuan kapal terbakar itu.
Bisa ditebak, pihak otoritas laut tidak pernah menemukan fisik kapal terbakar di koordinat yang dilaporkan om Wayan.
Seperti tidak pernah ada kapal terbakar.
Om Wayan masih punya banyak cerita menarik tentang hantu di tengah lautan, beberapa cerita masih gw ingat sampai sekarang.
ADVERTISEMENT
Nanti kapan-kapan gw akan cerita..
Kali ini gw akan ceritakan pengalaman gw dulu.
***
#5
Setelah sekitar satu jam di ruang kemudi kapal, akhirnya gw memutuskan untuk ke luar ruangan, karna obrolan om Wayan dan Bapak sudah membahas kenangan mereka ketika di kampus.
Lebih baik gw jalan-jalan keliling kapal..
Waktu itu kapal sepi penumpang, sangat sepi. Karna memang bukan musim mudik atau pun liburan.
Jumlah penumpangnya mungkin hanya ada puluhan, dengan beberapa mobil pribadi dan truk pengangkut barang.
Hanya sesekali gw berpapasan dengan penumpang lainnya.
Menjual nama om Wayan, Gw menjadi bebas keluar masuk ruang mana saja, deck-deck kapal yang terlarang untuk dimasuki penumpang pun gw masuki.
***
#6
ADVERTISEMENT
Akhirnya gw tiba di salah satu lantai di tengah lambung kapal, tampaknya bukan tempat untuk penumpang.
Bagian kapal ini agak gelap, hanya beberapa lampu di lorong yang menyala. Deck kanan kiri tampak kosong tak berpenghuni.
Awalnya gw ragu untuk melewati lorong itu. Tapi seperti biasa, rasa penasaran lebih besar.
Berjalan pelan menyusuri lorong yang hanya selebar 1,5m, mencoba melihat ke dalam setiap deck dengan cara mengintip melalui jendela kaca berbentuk bundar pada dindingnya.
Suasana sangat hening, hanya suara deru mesin kapal yang terdengar. Gak ada suara lainnya.
Yang aneh, sejak beberapa menit sebelumnya gak ada satu pun orang yang gw lihat, entah itu penumpang atau kru kapal.
Sepi...
Namun gw tetap berjalan menyusuri lorong itu, sambil mulai berpikir untuk mencari pintu keluar, karna suasana sudah mulai gak enak. Gw merinding..
ADVERTISEMENT
Nah, entah sudah berapa jendela deck yang gw intip, ketika akhirnya melihat ada keanehan di dalam suatu deck. Deck/ruangan yang cukup besar.
Ruangan itu ternyata besar, di dalamnya ada kehidupan, beda dengan ruangan-ruangan sebelumnya.
***
#7
Banyak orang di dalamnya yang sedang berbicara satu dengan lain. Gw gak bisa mendengar suara mereka, karna terhalang sekat besi dan sedikit tertutup suara deru mesin dari luar
Kalau diperhatikan, mereka seperti sedang melakukan jamuan makan malam, dengan meja hidangan di tengah-tengah ruangan yang terang benderang.
Mereka makan sambil berdiri dengan memegang piring makan atau gelas minuman di tangannya.
Gw semakin merasa aneh, karna sepertinya mereka bukan orang Indonesia, tapi terlihat seperti orang Jepang.
ADVERTISEMENT
Iya, gw sangat yakin kalau mereka orang Jepang. Laki-laki dan perempuan, ada juga beberapa anak kecil.
Ketika gw masih posisi berdiri mengintip dari jendela, tiba-tiba di belakang lewat dua orang lelaki berjalan dengan cepat menyusuri lorong. Wusshh..
Kaget..
Saking cepatnya mereka berjalan, gw sampai gak mendengar suara langkah kaki.
Lalu dua orang itu masuk ke ruangan yang sedang gw intip sejak tadi.
Cukup lama gw memperhatikan kegiatan yang mereka lakukan, memperhatikan gerak geriknya.
Sampai ketika ada satu orang laki-laki melihat gw sambil tersenyum, dari dalam ruangan itu.
Gw tersenyum balik..
Lalu perlahan beliau berjalan ke arah pintu keluar.
Kemudian membukanya..
Dari balik pintu dia melihat gw sambil tersenyum lagi, orang Jepang ini gak berkata apa pun. Hanya tangannya memberikan isyarat mengajak untuk masuk.
ADVERTISEMENT
Gw berjalan mendekat, dia tetap berdiri di depan pintu, masih tersenyum. Senyuman kaku yang masih gw ingat sampai sekarang.
Sesaat kemudian, kami sudah berdiri berhadapan, lalu dia mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Tetapi...
Tetapi, sebelum tangan kami bersalaman, gw malah balik badan, kemudian melarikan diri.
Lari sekencang-kencangnya ke arah pintu keluar. Lari ketakutan...
Kenapa begitu? Karna gw melihat sesuatu yang sangat menyeramkan..
Sesuatu yang membuat gw panik..
***
#8
Ketika sedang berdiri berhadapan dengan orang itu, mata gw gak sengaja melihat ke arah kakinya.
Ternyata dia melayang, kakinya gak menyentuh lantai, gw langsung melihat orang-orang lain yang ada di dalam ruangan di belakangnya.
Ternyata sama, mereka semua berdiri dengan kaki gak menyentuh lantai.
ADVERTISEMENT
Melayang..
Itu yang membuat gw lari ketakutan, menuju Bapak yang ada di ruang kemudi kapal, "Loh, km dari mana Brii?" tanya om Wayan ketika gw masuk ke ruangannya.
"Dari jalan di bawah om, lihat-lihat deck" jawab gw singkat.
"Jangan jauh-jauh ke bawah ya mainnya, kapal sedang sepi ini.." katanya.
"Knapa mukanya gitu? Km habis lihat apa?" Bapak ikutan nanya, beliau curiga karna melihat wajah gw yang masih terlihat ketakutan.
Tapi sebelum gw jawab pertanyaan Bapak, om Wayan keburu duluan mulai cerita sesuatu..
Om Wayan pun mulai bercerita, "Sekitar satu bulan yang lalu, ada kejadian aneh di kapal ini.
Ketika kapal sudah bersandar di pelabuhan Merak, ada keluarga melaporkan bahwa salah satu anggota keluarganya hilang. Anak seumur Brii, masih SMP, hilang di dalam kapal"
ADVERTISEMENT
"Seluruh kru kapal dan beberapa petugas pelabuhan dikerahkan untuk mencari anak itu ke seluruh bagian kapal.
***
#9
Selama berjam-jam penyisiran gak ada hasil, anak itu belum juga ditemukan. Sempat ada yang berpikir mungkin anak itu tercebur ke laut"
"Ternyata esok harinya, anak itu tiba-tiba muncul di dalam kapal. Wajahnya terlihat kebingungan. Langsung kami pertemukan dengan keluarganya yang masih menunggu di pelabuhan.
Setelah itu, Kami bertanya kepadanya, kamu dari mana? Sembunyi di mana? Banyak pertanyaan"
"Anak itu bilang, dia bertemu beberapa turis Jepang di atas kapal, lalu mereka mengajaknya untuk makan malam di salah satu ruangan. Dia ikut ajakan mereka untuk makan malam bersama"
"Katanya acara makan gak terlalu lama, hanya satu jam.
ADVERTISEMENT
Padahal sebenarnya dia sudah hilang lebih dari 24 jam..
Cerita yang aneh, tapi apa pun juga kami tetap senang, karna anak itu telah ditemukan".
Jadi ternyata, kapal itu adalah kapal buatan Jepang yang sempat beroperasi di perairan Jepang juga. Tapi pada akhirnya dibeli oleh pihak Indonesia untuk beroperasi di Selat Sunda.
Om Wayan gak tahu pasti ada tragedi apa di balik gentayangannya hantu Jepang di kapal itu.
Tapi menurut beliau, ada rumor yang bilang, sewaktu masih beroperasi di laut Jepang, kapal ini pernah dirampok di tengah laut, seluruh kru kapal mati terbunuh.
Tapi apa pun..
Gw cuma berpikir, betapa beruntungnya gw karna gak jadi mengikuti ajakan makan malam bersama mereka..
ADVERTISEMENT
***
#10
Begitulah cerita tentang kapal berhantu di Selat Sunda.
Sampai jumpa di cerita-cerita gw berikutnya..
Salam
~brii~