News
·
19 November 2020 9:16

Beras Malind dari Petani Milenial Asal Merauke Papua

Konten ini diproduksi oleh Bumi Papua
Beras Malind dari Petani Milenial Asal Merauke Papua (46017)
Iranius Yawa, memperlihatkan beras dengan merk Malind, hasil keringat petani milenial asal Merauke Papua. (BumiPapua.com/Abdel Syah)

Merauke, BUMIPAPUA.COM- Beras Malind sengaja dikemasan dengan warna merah menyala, untuk menarik perhatian kepada siapapun melihatnya dari dekat.

ADVERTISEMENT
Apalagi di depan kemasan beras terlihat jelas gambar seekor kanguru atau dalam keseharian Suku Marind Merauke disebut saham, hewan endemik Merauke.
Kemasan produk itu tentunya mempunyai kesan tersendiri dan menjadi ciri khas kultural dari Suku Marind yang mendiami tanah datar Merauke, Papua.
Kemasan berwarna merah menyala ini berisi butiran beras berukuran 5 kilogram. Produk beras ini merupakan hasil kerja keras sekelompok petani milenial asli Papua dari Kepulauan Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua.
Seperti semboyan Rumah Semut (Musamus) yakni "Jangan lihat kerjaku, tetapi lihatlah karyaku." Itulah yang membuat sekelompok tani milenial asal Pulau Komolom (nama lain Pulau Kimaam) tetap bertahan di tengah pandemi corona.
Produk beras dengan merk Malind, menarik perhatian staf Kusus presiden asal Papua Billy Mambrasar.
ADVERTISEMENT
"Saya akan laporkan produk unggulan ini ke Pak Presiden, bahwa di Merauke ada anak muda Papua yang mampu bersaing dengan produk pangan lainnya," kata Billy Mambrasar, saat mengunjungi Merauke, Selasa (17/11).
Petani Milenial
Beras Malind dari Petani Milenial Asal Merauke Papua (46018)
Beras dengan merk Malind, hasil keringat petani milenial asal Merauke Papua. (BumiPapua.com/Abdel Syah)
Keberhasilan menciptakan produk pangan, tidak terlepas dari kerja keras kelompok tani anak muda Papua yang dikoordinir oleh Iranius Yawa.
Berbekal pendidikan lulusan strata satu (S1) bidang pertanian Universitas Negeri Musamus, Merauke, Iranius Yawa mengajak anak muda lainnya untuk mengembangkan pertanian di Merauke.
Pengembangan pertanian itu, berawal ketika anak-anak muda ini kebingungan dalam membiayai sekolah dan kuliah di Kota Merauke.
Irianus berkisah, awal mula menanam padi dimulai tahun 2010. Dia mengajaķ beberapa temannya yang saat itu masih status pelajar dan mahasiswa. Ajakan itu punya alasan, karena sebagain pelajar dan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikannya kesulitan dalam menghidupi diri sendiri.
ADVERTISEMENT
"Jauh dari orangtua, mau tidak mau harus bekerja keras untuk membiayai diri sendiri. Keingin untuk hidup mandiri, membuat kami meminjam lahan kosong milik salah satu perusahaan yang tidak jauh dari tempat tinggal," kata Iranius berkisah.
Iranius dan anak muda lainya mulai mengarap lahan kosong dengan seizin pemilik lahan setiap pulang sekolah maupun pulang |kuliah.
"Saat itu, kami nekat minta bantuan bibit padi dan obat-obatan ke pemerintah daerah. Beruntung, kami diberikan pendampingan dari pemerintah, mulai dari proses penggilingan dari gabah menjadi beras hingga pada tahap pengemasan beras yang sudah siap di pasarkan," katanya.
Saat itu. tahun 2010 dimulai dengan membentuk 1 kelompok tani. Hasil dari panen diutamakan untuk makan. Sisanya di jual ke tetangga maupun ke pasar.
ADVERTISEMENT
Usaha dan upaya pun tidak sia-sia, atas peran serta Iranius, saat ini terbentuk 7 kelompok tani yang anggotanya berasal dari pelajar dan mahasiswa.
"Petani milenial ini secara keseluruhan menggarap 300 hektar, baik di lahan milik perusahaan yang tidak digunakan, maupun di lahan milik masyarakat eks transmigrasi. Dalam satu kelompok tani terdapat 20-25 orang," katanya.
Kini, hasil dari menggarap sawah, dapat memenuhi kebutuhan kelompok tani, seperti membeli laptop untuk menunjang pendidikan, dan kebutuhan pendidikan lainya.
Hampir sebagian besar kelompok tani milenial ini berasal dari anak -anak muda Pulau Kimam yang sedang mengejar pendidikan di Kota Merauke.
"Kami tetap mengutamakan hasil dari panen untuk kebutuhan makan sendiri, sisanya di jual untuk kebutuhan biaya sekolah maupun kuliah," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Iranius mengaku, selama mengarap sawah, dirinya mampu membiayai pendidikan hingga lulus kuliah dan hal itu juga diterpakan oleh sejumlah anak muda lainnya yang mengikuti jejaknya.
"Kami yakin, jika ada kemanuan yang kuat tentunya dapat menjamin masa depan kita," ujar Iranius.
Beras ukuran 5 kilogram dengan kemasan warna merah berlogo Kangguru saat ini pun tersebar luas pada sejumlah pertokoan di Merauke.