Pencarian populer

Kala Mobil Mewah Difungsikan sebagai Angkutan Umum di Pedalaman Papua

Deretan mobil mewah yang menjadi angkot di pedalaman Papua. (BumiPapua.com/Katharina)

Nabire, BUMIPAPUA.COM - Deretan mobil mewah seharga lebih dari setengah miliar rupiah tampak berjejer di kilometer 100 ruas Jalan Trans Papua yang menghubungkan Kabupaten Nabire dengan Dogiyai. Mobil-mobil itu di antaranya adalah Mitsubishi Expander, Toyota Hilux Double Cabin, dan juga Toyota Fortuner.

Bukan, ini bukan acara touring orang-orang berduit, melainkan mobil-mobil itu difungsikan menjadi angkutan umum di sana. Masyarakat setempat biasa memanfaatkannya untuk pergi-pulang dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya di wilayah adat Meepago, yang menghubungkan Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, hingga Paniai.

Mobil angkutan umum di pedalaman Papua. (BumiPapua.com/Katharina)

Kilometer 100 adalah lokasi yang kerap dijadikan para sopir dan penumpang untuk beristirahat sejenak, melepas lelah sambil menyeruput kopi atau teh panas, juga menyantap mi instan. Ya, sebab perjalanan menembus hutan belantara di pedalaman Papua memang semelelahkan itu.

Budi, salah satu sopir yang melayani rute Nabire-Paniai, mengatakan mobil Pajero putih miliknya disewa oleh pelanggan dengan tarif pergi-pulang Rp 5 juta. Beda rute, beda tarif. Rute Nabire-Dogiyai tarifnya Rp 3,5 juta; sedangkan Nabire-Deiyai bertarif Rp 4 juta.

Mobil mewah yang sopirnya sedang beristirahat di kilometer 100 ruas jalan rute Nabire-Dogiyai. (BumiPapua.co/Katharina)

"Untung bersih yang saya terima jika melayani rute ini bisa mencapai Rp 3-4 juta,” katanya.

Budi menyebutkan, ada juga mobil jenis serupa yang biasa dipenuhi penumpang yang rata-rata membawa hasil kebun berupa sayur-mayur atau umbi-umbian. Untuk jasa itu, tarifnya beragam, Rp 350 ribu-600 ribu per orang.

“Tak jarang mobil penumpang juga biasa membawa hewan piaraan seperti babi, kambing, dan ayam. Tarif untuk membawa hewan piaraan juga beragam, mulai dari Rp 2-5 juta. Biasanya jika bawa babi, tarifnya akan mahal,” kata Puji, sopir yang biasa mengendari Hilux berwarna merah.

Mobil-mobil angkutan ini telah dimodifikasi dengan roda cakar dan ban yang yang dirancang khusus untuk bisa melewati jalur menanjak yang terjal, berbatu, bahkan berlumpur.

"Butuh jutaan rupiah, jika mobil-mobil ini masuk bengkel. Kami harus rutin servis mobil, agar mesin tetap prima. Apalagi melewati jalur Nabire hingga Paniai yang membelah gunung,” kata Puji. (Katharina)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.54