kumparan
13 Sep 2019 16:53 WIB

Mahasiswa yang Balik ke Papua Tak Hadiri Undangan Gubernur

Gubernur Papua Lukas Enembe bersama Ketua DPRP Yunus Wonda dan Ketua MRP Timotius Murib saat wawancara dengan wartawan. (Foto Pratiwi)
Jayapura, BUMIPAPUA.COM – Perwakilan mahasiswa Papua yang pulang ke Papua dari kota-kota studi di luar Papua, tak hadiri dan memenuhi undangan Gubernur Papua Lukas Enembe dalam pertemuan Rapat Koordinasi dan Konsulidasi Forkompinda bersama tokoh masyarakat, agama dan perempuan di Gedung Negara, Kota Jayapura, Papua, Jumat (13/9).
ADVERTISEMENT
Menurut salah satu pengurus KNPI Papua, Benyamin Gurik, dalam undangan itu seharusnya perwakilan dari mahasiswa Papua yang dari luar juga harusnya hadir, tetapi mereka tak hadir. Pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan para mahasiswa itu, tapi mereka belum bersedia ditemui.
“Tadi pagi kami bermaksud menjemput mereka dengan bus dari Universitas Cenderawasih. Setelah kami kumpul, ketua-ketua mahasiswa yang dari luar datang terus mengembalikan surat undangan yang telah disampaikan, tapi dengan permohonan maaf," ungkap Benyamin kepada wartawan, Jumat (13/9).
Benyamin juga mengatakan, para mahasiswa yang pulang ke Papua ini bukannya tak bersedia bertemu, tapi mereka ingin berbicara secara internal. Sebab mereka membutuhkan waktu dan menunggu rekan-rekan lainnya yang rencananya akan menyusul yang sudah terlebih dulu tiba di Papua.
ADVERTISEMENT
"Mereka merasa ada sebagian teman-temannya masih dalam perjalanan ke Papua. Sebagian mereka menyatakan pertemuan seperti ini penting, tapi secara internal (mahasiswa) perlu buat diskusi bersama lebih dulu, sebab satu orang tak bisa wakili orang lain. Menurut mereka begitu," jelas Benyamin.
Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Yunus Wonda menyampaikan, pertemuan rapat Forkopimda ini diangap percuma karena objek utama yang menjadi topik utama pembahasan tak hadir, yakni mahasiswa Papua yang pulang ke Papua.
"Kami mau pertemuan 100 kali pun selama anak mahasiswa tidak duduk bersama kami, tak pernah ada jawaban dan solusi. Sehingga saya sarankan masing-masing kepala daerah, bupati atau walikota bisa turun langsung untuk membuka komunikasi dengan para mahasiswa itu,” jelas Yunus, Jumat (13/9).
ADVERTISEMENT
Menurut Yunus, hal ini ia tekankan sangat penting untuk segera dilakukan. Sebab para mahasiswa yang pulang kampung (Papua) itu kini dalam posisi tertekan.
"Solusi dari kami adalah, serahkan adik-adik (mahasiswa) ini kepada pemerintah kabupaten masing-masing untuk mendata dan bicara kepada mereka," katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib. Bahkan menurut Timotius, pihaknya meminta pemerintah daerah terus berusaha menghubungi para mahasiswa yang pulang ke Papua ini agar mereka merasa diperhatikan.
"Ini adik adik (mahasiswa) yang di Papua dan ketua asrama masih tertutup belum ada yang disampaikan. Tadi kami panggil untuk distribusi bahan makanan, apa alasan mereka belum disampaikan ke MRP," kata Timotius, Jumat (13/9).
Rapat koordinasi dan konsolidasi Forko[imda Papua terkait mahasiswa Papua pulang ke Papua. (Foto Pratiwi)
Sementara Gubernur Papua Lukas Enembe menyampaikan, dari pertemuan Forkopimda ini salah satu agendanya membicarakan mahasiswa yang pulang ke Papua ini. “Kami mau mereka balik lagi ke kota studi seluruh Indonesia. Sebab perguruan tinggi di sini (Papua) tak mungkin menampung mereka,” jelasnya, Jumat (13/9).
ADVERTISEMENT
Lukas juga mengaku pihaknya belum mendapat laporan dari para mahasiswa yang pulang ke Papua ini. Sehingga akan menanyakan dan menunggu para mahasiswa ini membahas masalah ini.
“Untuk itu, kami minta hari ini perkembangan yang terjadi dari mereka. Kami juga mau tahu apa yang terjadi di tempat mereka, kenapa seperti ini. Kami ingin dengar dari mahasiswa, tapi mereka tak datang. Undangan kami ditolak seperti ini. Waktu saya datang ke Jawa Timur juga sama ditolak,” ungkap Lukas.
Untuk itu, kata Lukas, pihaknya berharap agar para bupati dapat menangani mahasiswanya yang ada di luar Papua, baik yang sudah kembali ke Papua, maupaun yang belum kembali.
“Saya harap melalui para bupati, diharapkan bisa mengetahui permasalahan pastinya seperti apa. Saya minta agar masing-masing bupati melakukan pembicara, khususnya yang sudah pulang kampung. Sehingga mengetahui pasti permasalahan yang dihadapi," jelas Lukas.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kata Lukas, pihaknya akan melakukan pengaturan kembali para mahasiswa yang pulang ke Papua ini, agar bisa mengetahui keberadaan di mana yang bisa mengkoordinir mahasiswa ini dengan baik.
"Saya juga mengapresiasi kepada para bupati yang telah melakukan yang sudah memberikan pemulihan psikologis kepada mahasiswanya pasca terjadinya kasus di Surabaya," ungkap Lukas.
Menurut Lukas, pemulihan ini sangat penting untuk psikologis mahasiswa, sehingga permasalahan yang dirasakan bisa dapat diselesaikan baik. “Pemberian pemulihan psikologis ini juga dapat dilakukan melalui posko-posko yang akan dibangun untuk mengkoordinir mahasiswa yang pulang kampung," katanya.
Lukas juga menginginkan adanya jaminan keamanan yang tertulis kepada para mahasiswa Papua. Sehingga ini nantinya dapat memberikan kepastian kepada para mahasiswa yang sudah pulang ke Papua untuk bisa balik kembali ke kota studi mereka.
ADVERTISEMENT
Sekadar diketahui, akibat pasca kasus rasisme yang dialami mahasiswa Papua di asrama-asrama mahasiswa Papua di Jawa Timur, yang akhirnya berbuntut unjuk rasa di Jakarta dan di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat.
Maka kini, para mahasiswa Papua yang sedang menempuh studi di sejumlah kota di Indonesia memilih balik ke Papua. "Dari data kami sementara, ada sekitar 1200 mahasiswa sudah pulang ke Papua dan diprediksi jumlahnya akan bertambah," kata Lukas. (Qadri Pratiwi)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan