Pencarian populer

Merasa Ditipu, Ajudan Pimpinan KKB Puncak Jaya Kembali ke NKRI

Anggota KKSB Puncak Jaya beranama Telangga Gire bersama rekanya serahkan diri ke aparat keamanan di Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. (Foto dok Pendam XVII Cenderawasih)

Jayapura, BUMIPAPUA.COM - Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, ajudan Goliat Tabuni salah satu pimpinan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Kabupaten Puncak Jaya, bernama Telangga Gire (30 tahun) menyerahkan diri ke aparat keamanan di Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya, pada pukul 08.15 WIT, Sabtu (8/6).

Menurut Aidi, Telangga Gire menyerahkan diri bersama tiga orang rekannya, yakni Pinigga Gire (25 tahun) dan Tekiles Tabuni (30 tahun). Mereka menyatakan berikrar setia kepada NKRI di hadapan Dandim 1714/PJ, Letkol Inf Agus Sunaryo didampingi 25 orang anggota Kodim di Kampung Wurak, Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya.

“Dalam penyerahan diri ini, mereka juga menyerahkan satu pucuk senjata api jenis Mosser dan sejumlah amunisi cal. 7,62. Menurut Telangga, senjata itu adalah milik polisi yang dirampas pada saat menyerang Polsek Karubaga di Kabupaten Tolikara pada tahun 2013 lalu,” jelas Aidi.

Proses penyerahan diri ini, kata Aidi, berawal dari komunikasi dengan seorang anggota Kodim 1714/PJ atas nama Sertu Jefri May yang berlangsung sejak tanggal 5 Mei 2019.

“Menurut Telangga bahwa dirinya dengan beberapa orang rekannya sudah lama ingin menyerahkan diri, tapi tak tahu bagaiman caranya karena takut ditembak TNI/Polri,” terang Aidi.

Namun setelah kenal dengan Sertu Jefri May dan kawan-kawannya, kata Aidi, terjalin komunikasi secara intens baik lewat telepon maupun dengan pertemuan secara langsung. Selama masa perkenalan dan proses komunikasi Sertu Jefri selalu melaporkan perkembangannya kepada Dandim Letkol Inf Agus Sunaryo untuk mendapatkan petunjuk.

“Dandim Agus menitip pesan bahwa TNI menjamin keselamatan mereka bila ingin menyerahkan diri secara sukarela. Pesan Dandim disampaikan ke Telangga, bahwa kita semua bersaudara, mari bersama-sama membangun Papua untuk masa depan generasi kita yang lebih baik, Papua sudah merdeka dalam bingkai NKRI,” telas Aidi menirukan pesan Dandaim.

Sementara itu, kata Aidi, Telangga beserta kelompoknya secara diam-diam mengamati interaksi TNI bersama rakyat yang terlihat sangat baik dan tidak pernah menyakiti rakyat. TNI selalu membantu rakyat, termasuk TNI membantu membangun jalan dan fasilitas lainnya.

Pada Kamis (6/6), pukul 17.00 WIT, kata Aidi, empat anggota Kodim dipimpin Sertu Jefri May melaksanakan pertemuan dengan Telangga di Distrik Tingginambut. Mereka menyatakan tekadnya untuk menyerahkan diri kembali kepangkuan NKRI. Hari itu juga mereka diantar ke Makodim untuk menghadap Dandim di Distrik Mulia Puncak Jaya.

“Pada pukul 23.00 WIT, Letkol Agus berkoordinasi dengan Bupati Puncak Jaya, Yuni Wonda tentang keinginan anggota KKB kembali ke pangkuan NKRI. Bupati menyanggupi akan memberikan mereka pekerjaan dan memperbaiki rumahnya,” jelas Aidi.

Hasil pertemuan dengan Dandim, kata Aidi, Telangga mengaku bahwa senjatanya disimpan di Kampung Wurak, Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya dan berjanji akan menyerahkan senjata itu dan akan mengajak tiga orang kawannya.

“Sehingga pada hari yang telah disepakati, yakni Sabtu (8/6), Dandim beserta 25 orang tim pengaman berangkat ke Kampung Wurak untuk menjemput Telangga Gire dan kawannya beserta senjata yang dijanjikan,” jelas Aidi.

Proses penyerahan diri ini, kata Aidi, berlangsung aman dan lancar. “Saat ini Telangga dan kawannya beserta senjatanya sudah berada di Makodim dalam rangka pendataan,” katanya.

Sementara itu, kata Aidi, Bupati Puncak Jaya Yuni Woda berencana akan melaksanakan upacara penerimaan warga ini pada Selasa (11/6) dengan mengundang warga Mulia, Puncak Jaya.

“Bupati juga berjanji akan menyalurkan pekerjaan serta membangun rumah untuk anggota KKSB yang bersedia menyerahkan diri kembali ke pangkuan NKRI,” kata Aidi.

Selama ini, kata Aidi, mereka merasa tertipu oleh Goliat Tabuni dan kelompoknya bahwa tidak lama lagi Papua akan merdeka dan mereka akan dijanjikan jabatan tinggi, ternyata semuanya itu tipu-tipu saja.

Menurut Aidi, pihak Telangga mengaku bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. “Bahkan katanya, tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga, sementara pembangunan di kampung-kampung dan di kota-kota semakin maju dan warga hidup sejahtera,” jelas Aidi menuturkan penyataan Telangga.

Aidi juga mengatakan, pihak Telangga juga memikirkan anak-anaknya agar besekolah dan nantinya hidupnya lebih baik tidak seperti dirinya. “Untuk itu, kata Telangga, pihaknya mau kerja baik-baik agar anak-anaknya bisa jadi orang berhasil. Kata Telangga, dirinya memiliki 13 orang anak masih kecil-kecil dari empat istrinya,” katanya.

Menurut Aidi, pihak Telangga juga mengimbau kepada seluruh rekan-rekannya yang masih di hutan agar segera kembali ke pangkuan NKRI agar bisa hidup normal sebagai warga negara Indonesia.

“Kata Telangga, apa yang diperjuangkan selama ini hanya mimpi kosong. Sehingga dia kasihan anak keturunannya. Untuk itu, Telangga ingin pesiapkan anak-anaknya bisa hidup lebih baik di masa akan datang,” jelas Aidi. (Katharina)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32