kumparan
11 Jul 2018 14:55 WIB

Butuh Helikopter untuk Pemberian Imunisasi Massal di Pedalaman Nduga

Heli Vida, satu-satunya helikopter yang biasa melayani masyarakat di pedalaman Nduga. (bumipapua.com/stefanus)
ADVERTISEMENT
Wamena, BUMIPAPUA.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Papua, membutuhkan helikopter atau pesawat carteran untuk menyisir anak-anak hingga ke pedalaman dalam melakukan imunisasi massal campak dan rubella di 32 distrik dan 420 kampung.
“Ada 12 distrik yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat dan 9 distrik dengan helikopter. Jika ini dilakukan, maka kami yakin imunisasi di Nduga bisa mencapai 100 persen,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Ina Gwijangge, di Wamena, Rabu (11/7).
Dia mengaku hingga saat ini anak-anak di kabupaten itu belum pernah mendapatkan imunisasi campak dan rubella. Imunisasi yang diberikan selama ini hanya sebatas imunisasi dasar, itu pun tidak semua anak di Nduga dapat dijangkau.
“Kami butuh dukungan semua pihak dalam melakukan program pemerintah ini. Walaupun di Nduga belum ditemukan kasus campak dan rubella. Kasus terakhir yang ditemukan di Nduga adalah pertusis,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Ina menambahkan, rubella merupakan jenis imunisasi yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari dua penyakit sekaligus, yakni campak (measles) dan campak Jerman (rubella). Vaksin rubella merupakan program nasional untuk menghindari kasus cacar air seperti yang terjadi di Papua Nugini.
“Untuk pelaksanaan kegiatan akan berlangsung Agustus dan menyisir anak usia 9-15 tahun. Kami terus melakukan kampanye untuk imunisasi ini, sebab ini adalah imunisasi massal bagi masyarakat setempat,” jelasnya.
Biasanya, satu kali perjalanan ke pedalaman Nduga dengan helikopter ataupun pesawat carteran dihargai hingga Rp 20 juta dalam satu kali perjalanan. “Jadi, kalau carter pesawat atau helikopter, bolak balik, tinggal dikalikan saja,” kata salah satu petugas di Bandara Wamena.
ADVERTISEMENT
(Stefanus)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan