Hati-hati, Tanpa Disadari Kebiasaan-kebiasaan Ini Termasuk Self-Harm

BUNGA CANTIKA FATIMA UDIA
MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Konten dari Pengguna
24 November 2021 21:22 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari BUNGA CANTIKA FATIMA UDIA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Seseorang dapat terlihat baik-baik saja dari luar, namun bisa saja pada kenyataannya ia mengalami kesulitan dalam hidupnya. Terkadang seseorang dapat kesulitan untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang menurutnya “enak”. Namun, tak selamanya yang “enak” itu baik. Seperti halnya dengan self-harm.
ADVERTISEMENT
Tahukah kamu apa itu self-harm? Self-harm adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk mengatasi tekanan emosional atau rasa sakit secara emosional dengan cara menyakiti dan merugikan diri sendiri tanpa bermaksud untuk melakukan bunuh diri (Jenny, 2016; Klonsky dkk, 2011).
Perilaku ini masih sering ditemukan bahkan di lingkungan sekitar kita tanpa kita ketahui, terutama pada remaja yang emosinya masih labil dan mudah terbawa arus pergaulan, karena self-harm cenderung dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan pelakunya akan berusaha untuk menutup-nutupi tindakannya tersebut.
Sumber: Pixabay
Penyebab seseorang melakukan self-harm dapat bermacam-macam. Seperti misalnya merasa kesepian, merasa dirinya tidak berguna, memiliki self-esteem yang buruk, memiliki masalah dengan keluarga, merasa terisolasi di lingkungannya, kehilangan orang terkasih, merasa putus asa, menggunakan narkoba, mengenal seseorang yang melakukan self-harm lalu menirunya, merasa terbebani dengan tugas atau tanggung jawab yang dimiliki, merasa cemas, menganggap bahwa self-harm itu edgy dan merasa perlu mengikuti trend, dan lain-lain. Pada intinya self-harm adalah bentuk tindakan yang dihasilkan dari kegagalan seseorang dalam menemukan cara mengatasi masalahnya dengan baik.
ADVERTISEMENT
Beberapa contoh perilaku self-harm adalah tindakan-tindakan seperti mengiris pergelangan tangan, membakar diri, mencederai diri sendiri, meminum obat-obatan terlarang, melakukan tindakan ceroboh untuk menyakiti diri, dan lain-lain. Namun, jarang diketahui, tindakan-tindakan self-harm juga dapat berupa tindakan-tindakan “kecil” yang tidak disadari sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini merupakan beberapa bentuk dari self-harm yang sering dilakukan tanpa sadar:
1. Menggigiti kulit di sekitar kuku hingga berdarah.
Banyak orang yang sering menggigit kulit di sekitar kuku bahkan hingga berdarah dan menimbulkan luka. Mereka melakukan hal ini karena memang kebiasaan, namun juga ada yang melakukannya karena stres, cemas, atau panik.
2. Mengelupas kulit kepala.
Tindakan ini terdengar sepele dan biasa saja. Namun, mengelupas kulit kepala dengan sengaja merupakan salah satu tindakan self-harm. Karena tindakan ini dapat melukai diri sendiri walaupun memang saat melakukannya seseorang seperti mendapat kepuasan tertentu.
ADVERTISEMENT
3. Memukul-mukul kepala ketika sedang pusing atau kebingungan.
Seperti halnya membenturkan remote yang error pada tangan atau benda keras lainnya agar kembali berfungsi, tanpa disadari, terkadang saat merasa pusing atau kebingungan kita cenderung memukul-mukulkan tangan ke kepala agar rasa pusing atau bingung tersebut hilang. Padahal hal tersebut hanya lah membuat kepala kita tambah sakit dan tidak menghilangkan apa yang sedang kita keluhkan.
4. Menyiksa diri dengan pikiran negatif yang menghancurkan diri.
Menenggelamkan diri pada pikiran-pikiran negatif yang tak berujung seperti lingkaran setan adalah salah satu tindakan self-harm yang tak banyak orang sadari. Memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi padahal belum tentu dan tidak pasti akan terjadi adalah salah satu bentuk menyiksa diri dengan pikiran negatif yang menghancurkan diri.
ADVERTISEMENT
5. Mengelupas luka pada tubuh.
Ketika kita memiliki luka, terkadang tanpa kita sadari kita akan cenderung untuk mengelupasnya karena merasa “enak” atau greget, padahal dengan begitu luka akan kembali basah dan menimbulkan luka baru yang membutuhkan waktu lagi untuk sembuh.
6. Sengaja tidak memberi asupan pada diri sendiri.
Ketika seseorang merasa sedih, ia akan cenderung tidak memberi asupan pada diri sendiri. Istilah “Mogok Makan”, adalah salah satu tindakan self-harm yang sering tidak disadari. Karena dengan tidak memberi asupan pada diri sendiri, tubuh akan melemah dan dapat jatuh sakit.
7. Mencabuti rambut.
Mencabuti rambut dengan sengaja, entah itu rambut di kepala, alis, kumis, ataupun bagian tubuh lainnya, merupakan salah satu bentuk dari self-harm yang jarang disadari seseorang.
ADVERTISEMENT
Tindakan self-harm dapat terjadi dari kebiasaan sampai kecanduan atau adiksi, hingga perilaku yang ditunjukkan dalam obsessive-compulsive disorder (OCD). Yang mana tidak mengurangi masalah atau beban yang dihadapi, namun sebaliknya menambah masalah baru. Oleh karena itu, jika sudah terdapat tanda-tanda melakukan self-harm, harus segera menyadari hal tersebut dan mencoba untuk menemukan cara yang lebih baik tanpa menyakiti diri sendiri dan menimbulkan masalah baru lainnya.
Sumber: Pixabay
Berikut ini beberapa cara untuk berhenti melakukan self-harm:
1. Mengubah mindset dan memahami self-harm.
Mengubah pikiran bahwa self-harm bukanlah satu-satunya cara yang tepat untuk melampiaskan emosi. Mengenali apa itu self-harm dan risikonya sehingga dapat muncul keinginan untuk berhenti.
2. Mencoba terbuka kepada orang lain yang dapat dipercaya.
ADVERTISEMENT
Berusaha untuk menghubungi orang yang dapat dipercaya untuk menceritakan apa yang sedang dirasakan, agar emosi dapat tersalurkan dan tidak terpendam.
3. Mencoba melampiaskan emosi dengan melakukan hobi.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk melampiaskan emosi, hanya saja ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk mencoba yang menjadi penghalangnya. Seseorang dapat mencoba sesuatu yang disukai agar emosinya tersalurkan secara positif. Seperti misalnya, melukis, menulis jurnal, memotret, membaca, mendengarkan lagu, dan lain-lain.
4. Mengelilingi diri dengan lingkungan yang positif.
Lingkungan menjadi salah satu faktor penting bagaimana seseorang berperilaku. Lingkungan yang baik akan memberikan dampak yang baik pula pada orang-orang di dalamnya. Berusaha untuk menjadi bagian dari lingkungan yang positif dapat dilakukan untuk membangun mindset yang baik dan menghindari tindakan self-harm.
ADVERTISEMENT
5. Membersihkan diri.
Terkadang jika sedang tersulut emosi, seseorang menjadi tidak berpikiran jernih. Mencoba untuk mandi dengan air yang suhunya sesuai dengan keinginan, dapat membantu diri untuk rileks dan menurunkan emosi yang sedang sulit dikendalikan.
6. Mencari bantuan profesional.
Jika dirasa tidak dapat memperbaiki hal ini sendirian, alangkah lebih baiknya untuk menggunakan tenaga profesional. Karena mereka lebih tahu cara menanggapi masalah yang sedang dihadapi secara profesional. Dapat mencoba untuk menghubungi psikolog atau psikiater.
Referensi:
Agustin, D., Fatria, R. Q., dan Febrayosi, P. 2019. "ANALISIS BUTIR SELF-HARM INVENTORY". Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni. 3(2):396-402. http://dx.doi.org/10.24912/jmishumsen.v3i2.3880
Burešová, I. 2016. "Self-Harm Classification System Development: Theoretical Study". Review of Social Science. 1(4):13-20. dx.doi.org/10.18533/rss.v1i4.21
ADVERTISEMENT
Khalifah, S. 2019. "DINAMIKA SELF-HARM PADA REMAJA". (Doctoral dissertation Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya). Diambil dari http://digilib.uinsby.ac.id/31129/3/Sayyidah%20Khalifah_J01215034.pdf