kumparan
Bisnis14 Mei 2019 14:04

5 Penyebab Bokek selama Ramadan

Konten kiriman user
belanja_kumparan_hzndmn.jpg
Meski tidak makan dan minum di siang hari, bukan berarti bulan Ramadan membuat seseorang jadi lebih hemat. Sering kali banyak pengeluaran ekstra yang menguras kantong di bulan Ramadan.
ADVERTISEMENT
Banyak faktor yang memicu Anda harus mengeluarkan uang lebih selama bulan Ramadan. Mulai dari undangan buka bersama alias bukber yang menumpuk hingga persiapan untuk menyambut Lebaran. Belum lagi, godaan untuk memborong takjil enak yang dijajakan di pinggir jalan.
Mau tahu apa saja kegiatan yang harus dijauhi selama Ramadan agar kantong tidak kering, yuk cek!
  1. Lapar mata
Saat dalam keadaan lapar, seseorang biasanya banyak maunya. Apalagi jika bertemu dengan para pedagang takjil yang dagangannya menggiurkan. Anda rasanya ingin memborong kolak, gorengan, es buah, dan es kelapa muda, ya?
Padahal biasanya, setelah waktu berbuka puasa tiba, Anda akan cepat merasa kenyang. Alhasil, jika terlalu banyak, makanan berpotensi dibuang alias tak termakan. Sama saja dengan membuang uang bukan?
ADVERTISEMENT
Kebiasaan lapar mata semacam itu jika dilakukan setiap hari, akan mengganggu kondisi keuanganmu. Jadi, belilah makanan dalam jumlah secukupnya saja ya.
  1. Sering makan di luar
Sebagian besar mahasiswa dan karyawan yang jadi anak kos pasti memilih makan di luar ketimbang memasak sendiri menu buka puasa. Alasannya, membeli makan di luar tidak ribet dan bisa langsung makan. Sebaiknya, selingi dengan masak sendiri agar lebih hemat.
Kurangi pula kegiatan buka bersama alias bukber yang berpotensi membuat kantong Anda jebol. Memang, momen buka bersama dengan teman akan terasa seru, tapi jangan sering-sering melakukannya demi menjaga isi kantong. Biasanya lokasi bukber di restoran, kafe, atau bahkan hotel mengeluarkan biaya yang tak sedikit.
ADVERTISEMENT
  1. Gila diskon
Bulan Ramadan merupakan surganya belanja bagi para pemburu diskon. Banyak tempat-tempat belanja yang menawarkan diskon gede-gedean. Barang yang didiskon mulai dari makanan, peralatan rumah tangga, hingga pakaian. Saking semangatnya mencari diskonan, banyak orang terkadang lepas kontrol untuk belanja ini dan itu. Uang di dompet pun kian menipis dan tagihan kartu kredit membengkak, tentu Anda akan repot, bukan?
Boleh saja memanfaatkan banjir diskon yang diberikan banyak tempat belanja. Namun, pilih dan beli barang yang benar-benar dibutuhkan.
  1. Gengsi kalau tak pakai baju baru
Tradisi warga Indonesia saat bulan Ramadan salah satunya ialah menyiapkan sejak jauh-jauh hari baju untuk dipakai saat Lebaran. Tak jarang mereka belanja pakaian di mal atau butik yang harganya selangit. Nah, banyak dari kita memborong baju baru hanya untuk gengsi semata. Padahal, baju Lebaran tahun lalu saja jarang dipakai.
ADVERTISEMENT
Nah, ketimbang repot-repot beli baju baru untuk Lebaran, lebih baik Anda pilih-pilih lagi baju-baju yang masih bagus untuk dipakai saat Lebaran. Hitung-hitung menghemat juga kan?
  1. Berlebihan menyambut dan merayakan Lebaran
Umat muslim diajarkan untuk tetap selalu sederhana dan tidak bermewah-mewahan, termasuk dalam menyambut Lebaran. Sayang, terkadang masyarakat menyambut Lebaran dengan hal-hal yang meriah seperti membakar kembang api saat malam takbiran. Selain harganya juga lumayan, kembang api juga berbahaya bagi keselamatan. Lebih baik rayakan Lebaran dengan sederhana saja tanpa harus melakukan hal yang aneh-aneh.
Selain itu, tak jarang membeli banyak makanan dan minuman untuk dihidangkan kepada para tamu yang hadir bersilaturahmi saat Lebaran. Suguhan kue lebaran buat tamu sih boleh-boleh saja, asalkan jangan terlalu berlebihan. Jangan segala dibeli karena akhirnya akan membuat keuangan Anda jebol.
ADVERTISEMENT
Memang, sebagian dari Anda pasti dapat uang THR yang diberikan tempat kerja, tapi bukan berarti Anda harus bermewah-mewahan, kan? Yuk, biasakan hindari lima kebiasaan buruk di atas. Daripada menghamburkan uang THR, lebih baik Anda investasikan saja!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan