Opini & Cerita
·
17 Agustus 2020 10:41

Agustusan Kaum Santri

Konten ini diproduksi oleh Cerita Santri
Agustusan Kaum Santri (601551)
Suasana upacara HUT RI ke 75 di Pesantren Tahfizh Daqu, Tangerang
Setiap momentum Agustusan tiba, segenap anak bangsa mengekspresikan kesyukurannya dengan beragam cara. Bagi sebagian kita yang ada di tengah kota-kota besar, sangat mungkin akan merayakan hari kemerdekaan secara berbeda dengan yang misalnya ada di pojok-pojok Republik ini. Antara yang di kawasan pegunungan, mungkin berbeda dengan yang di kawasan pesisir. Juga berbeda antara satu kelompok masyarakat dan kelompok lainnya.
ADVERTISEMENT
Lalu.. Ada yang mungkin membuat pesta, mengadakan beragam lomba. Ada juga yang mungkin menggelar doa bersama, menyelenggarakan refleksi bersama, dan atau ekspresi lainnya. Sungguh, semua itu adalah sangat indah. Kesemuanya, seolah bertemu pada satu mantra (kalimatun sawa): Indonesia Merdeka! 
Tulisan singkat nan ringan ini, sama sekali bukanlah pesan-pesan kemerdekaan. Bukan pula doa kemerdekaan atau yang lainnya. Tulisan ini anggap saja catatan singkat dari refleksi sederhana, yang harapannya dapat membantu melaporkan perihal: dalam suasana batin seperti apa, kaum santri merayakan Agustusan?
Sebelum melanjutkan, penulis mengajak untuk lebih dahulu membacakan surat al-Fatihah untuk para syuhada yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lahum al-fatihah...
Terminologi “santri” di dalam tulisan ini, tidak semakna dengan artian “santri” yang diajukan oleh Geertz saat mendedah tipologi keberagamaan masyarakat Jawa dalam magnum opus-nya: Religion of Java. Bahkan juga tidak semakna dengan artian “santri” yang disodorkan oleh UU No. 18/2019 tentang Pesantren, khususnya Bab I Butir 7. Jika yang pertama dipandang memiliki problem tipologis, maka pada yang kedua, term “santri” terasa tak cukup memadai dan cenderung “eksklusif”. Saat ini, penulis belum akan menyebut makna “santri” yang distingtif, sebagaimana yang dimaksud dalam tulisan ini. Penulis justru berencana akan menyebutkannya di bagian akhir tulisan ini, sebagai pungkasan. InsyaaAllah
Agustusan Kaum Santri (601552)
Sebagai landasan awal, izinkan penulis menawarkan semacam simpulan sementara (temporary conclusion) atau hipotesis, bahwa: masyarakat (muslim) Indonesia adalah masyarakat yang religius.
ADVERTISEMENT
Religiusitas masyarakat muslim Indonesia misalnya dapat kita tilik dari fakta sosial misalnya: semua urusan dalam kehidupan muslim Indonesia, akan selalu dikait-eratkan dengan hal ihwal agama. Apakah ada aspek kehidupan muslim Indonesia, yang tidak dikaitkan dengan ihwal agama? Bahkan, untuk “sekadar” jualan kebutuhan sehari-hari, semacam odol misalnya, produsennya sampai harus mengutip nash agama. Narasi yang dibuat oleh “para bakul”, juga lalu mengikuti narasi momentum keagamaan yang akan/tengah dirayakan masyarakat muslim. Jika hendak ditambahkan, pihak produsen pun tidak lagi melulu meminta bantuan para artis untuk menjadi bintang iklannya.
Kenyataan ini adalah trend yang nyata terjadi di tengah masyarakat, lalu ditangkap oleh penyedia jasa. Apa lalu hal seperti ini adalah salah? Tidak!. Tidak ada yang salah atas hal itu. Pada sisi tertentu, ia bahkan dipandang mengandung edukasi. Walau pada sisinya yang lain, atau mungkin justru pada sisi yang sama, akan susah memisahkan atau membedakan antara edukasi dan “eksploitasi”.
ADVERTISEMENT
Religiusitas masyarakat muslim Indonesia juga tampak pada penghormatan masyarakat kepada tokoh-tokoh agama (Islam). Perihal ini, bahkan kita mendengar di sebagian daerah, masyarakatnya lebih bersedia menghormati tokoh agama, dari pada pejabat pemerintahan yang padahal adalah pemimpin formal mereka. Di dalam konteks masyarakat yang serupa itulah, agama, atau lebih tepatnya tokoh agama, memiliki peran sangat menentukan. Sebagai yang terkahir, religiusitas masyarakat muslim Indonesia juga tampak dari sangat ramainya lalu-lintas transportasi tujuan Indonesia-Arab Saudi dan atau Arab Saudi-Indonesia. Masyarakat muslim Indonesia, sangat gandrung untuk dapat menunaikan ibadah umrah dan haji. Sekali lagi, ini adalah gejala positif. Bahwa muslim Indonesia semakin antusias dalam berlaku-agama.
Yang tersebut di atas adalah secuil dari bukti bahwa muslim Indonesia sangat religius. Sangat memerhatikan hal ihwal agama.
ADVERTISEMENT
Lalu, mungkin sebagian kita seolah mengajukan gugatan: religiusitas muslim Indonesia masih sangat formalistis. Terlalu mengedepankan sisi eksoteris dalam beragama, dan belum menyentuh hal-hal yang lebih substantif. Nada gugatan serupa ini, sangat mungkin muncul. Dan biarkan saja muncul. Gugatan semacam itu adalah bentuk dialektika, sehingga perlu juga didengar. Setidaknya dimaksudkan untuk “menjaga pandulum agar bergerak secara wajar”, sekaligus untuk menjadi reminder yang diharapkan memiliki peran korektif, dan bukan gugatan semata tanpa makna.
Jadi, apa benar religiusitas muslim Indonesia masih terlalu formalistis-eksoteris? Untuk menjawabnya, penulis ajukan informasi berikut.
Perayaan Agustusan, paling tidak dimaksudkan sebagai momentum mengingat-ingat kembali perjalanan negara bangsa Indonesia. Sebuah bangsa yang di masa lalu pernah mengalami “masa-masa sangat berat”, dijajah bangsa pendatang, bangsa asing yang keseluruhannya sangat asing. Selain itu, Agustusan juga dimaksudkan sebagai momen untuk meneladani patriotisme sekaligus nasionalisme para pejuang bangsa. Mereka, para pejuang, adalah orang-orang yang dianugerahi keberanian, kerelaan, kesediaan, ketulusan, untuk berjuang mengorbankan segalanya demi kemuliaan manusia sekaligus demi tegaknya keadilan. Sehingga, atas berkat rahmat Allah dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur: Indonesia bangkit. Indonesia melawan. Indonesia menang!. 
ADVERTISEMENT
Dengan mengingat-ingat itu semua, darah para pejuang diharapkan menetes deras kepada kita dan membakar gelora perjuangan kita, generasi yang hidup di masa sekarang.
Lantas....
Kaitannya dengan kaum santri, apakah santri dapat memiliki jiwa patriotisme juga nasionalisme?.
Kita tidak akan pernah mengajukan pertanyaan naif seperti ini!.
Pertanyaan yang mungkin kita ajukan adalah: Bagaimana santri dapat memiliki jiwa patriotisme sekaligus nasionalisme yang kokoh? 
Disebut dalam banyak catatan sejarah, bahwa motor penggerak utama masyarakat Indonesia dalam perjuangan heroik mengusir kaum penjajah adalah para tokoh agama, para Kyai, para Ulama. Imbasnya adalah: pesantren menjadi episentrum perjuangan dalam melawan penjajah. Sebab ini juga, dalam sejarahnya, pesantren lebih sering muncul di daerah “terpencil”, bahkan terpaksa harus berpindah-pindah lantaran selalu menjadi target utama “operasi“ kaum penjajah. Pasca merdeka, Pesantren seolah terus bergerak dan merangsek masuk ke jantung-jantung kota besar.
ADVERTISEMENT
Kembali ke Kyai-Ulama, yang adalah penggerak perjuangan...
Kyai atau Ulama sering dimaknai sebagai seseorang yang memiliki kedalaman pengetahuan agama (Islam), keistikomahan pengamalan ajaran agama (Islam), sekaligus kepekaan mendalam terhadap nasib sesama. Ketiganya lalu mengkristal pada sikap dan keadaan khasy-yah kepada Allah. Seorang ulama akan senantiasa tunduk dan patuh hanya kepada Allah, bukan yang lain. Seorang ulama adalah pasti pejuang keadilan, sekaligus penentang segala bentuk kezaliman. Di dalam doktrin agama, manusia wajib dimuliakan. Bahkan Allah sendiri memuliakan manusia (anak Adam as). Karenanya, segala bentuk penjajahan di atas dunia wajib dihapuskan. Itulah di antara kredo agama yang pasti tertanam kokoh dalam diri setiap Kyai-Ulama.
Para Kyai, mereka adalah orang-orang yang telah mencerap sari-pati ajaran agama. Dan dengan bekal itulah, dengan bekal keyakinan dan kedalaman atas agama itulah, mereka para Ulama-Kyai, memimpin langsung mengangkat senjata melawan penjajah.
ADVERTISEMENT
Sampai di sini menjadi jelas bahwa: patriotisme dan nasionalisme Kyai-Ulama, adalah patriotisme dan nasionalisme yang dijiwai oleh agama (Islam). Nasionalisme dalam diri Ulama-Kyai, adalah nasionalisme yang basisnya sama sekali bukan berasal dari pemikiran/filsafat manapun. Sebab nasionalisme yang tertancap kokoh dalam sanubari Kyai-Ulama adalah nasionalisme yang berbasis pada nilai-nilai suci agama (Islam).
Kita lalu paham, dalam nuansa heroisme seperti apa maklumat hubbul wathan minal iman di-titah-kan!.
Adapun santri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah “khadim” Kyai, ia akan “berusaha mati-matian” untuk menduplikasi laku-lampah Kyai. Dari keadaan seperti inilah, lantas santri mewarisi semua yang ada pada Kyainya, tak terkecuali jiwa patriotisme dan nasionalisme.
Jika sudah harus diakhiri, agaknya kita sudah dapat menegaskan bahwa benar belaka muslim Indonesia adalah muslim yang religius. Dalilnya: yang menjadi landasan nasionalisme dan patriotisme, yang selanjutnya tertanam kuat dan kokoh dalam sanubari muslim Indonesia adalah ajaran suci agama (Islam). Bukan yang lain! Tidak yang lain!.
ADVERTISEMENT
Dan sesiapa saja anak bangsa yang mewarisi patriotisme dan nasionalisme serupa patriotisme dan nasionalisme yang dimiliki Kyai-Ulama, merakalah yang penulis maksud sebagai: kaum santri!.
 
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!
INDONESIA MAJU!
INDONESIA JAYA!
 
Ditulis oleh, Muhammad Bisyri, Ketua LSP Daarul Qur’an