Dede Ilyas, Alumni Daqu Cariu Yang Mendadak Populer

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Cerita Santri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama Dede Ilyas mendadak populer seiring dengan keikutsertaannya di program Akademi Sahur Indonesia (AKSI) sebuah stasiun televisi swasta. Pembawaannya yang sangat kental dengan kultur sunda membuat penonton dan semua juri terpanah pada materi yang iya bawakan. Hasilnya ia lolos ke babak 12 besar.
Dasar keagamaan didapatkan oleh Ilyas saat nyantri di Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Aljannah Cariu yang merupakan salah satu cabang dari Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an. Beliau merupakan lulusan angkatan kelima yang lulus pada tahun 2020 kemarin.
Total enam tahun lamanya Ilyas menghabiskan waktu belajar di Daarul Qur’an Aljannah Cariu, dari jenjang SMP hingga SMA dan sudah menyelesaikan hafalan 30 juznya sejak kelas tiga SMP.
Bakat prestasinya sudah terlihat sejak ia mondok. Beragam penghargaan mulai dari MTQ/MHQ, hadroh, marawis, qori hingga lomba syarhil qur’an sudah ia raih.
Meski memiliki keterbatasan pada penglihatan tetapi itu sama sekali tidak menyurutkan tekat dan impian beliau untuk terus berdakwah menyiarkan agama islam karena itu adalah salah satu impian beliau sejak mondok di pesantren.
Selain itu ilyas juga memiliki keistimewaan pada suara beliau yang bagus dan merdu. Belum lagi kemampuannya menirukan berbagai suara-suara imam-imam besar salah satunya Syekh Muhammad Taha. Saking merdunya apabila beliau sedang mengimami solat maka para jamaah akan terbawa suasana dan tersihir dengan keindahan suaranya. Hingga ketika beliau masih menjadi santri beliau pernah dikirim untuk menjadi imam solat tarawih di daerah bekasi.
Oiya, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Aljannah Cariu merupakan cabang Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an yang bermitra dengan Yayasan Aljannah Darussalam menerapkan kurikulum muadalah atau TMI (Tarbiyatul Mualimin Al Islamiyah) yang mana ijazah dari pesantren ini sudah dilegalisir oleh kementrian agama dan apabila alumni lulusan pesantren ini ingin melanjutkan studi ke universitas Al-Azhar Cairo bisa tanpa tes terlebih dahulu.
Juga tidak usah pusing mengenai biaya di pondok ini, karena pesantren ini full beasiswa mulai dari makan, asrama hingga semuanya sudah ditanggung oleh pesantren dan ustaz Ilyas ini adalah satu alumni yang merasakan beasiswa tersebut.
Selain menghafal Alquran dan belajar bahasa Arab untuk kemampuan membaca kitab di pesantren ini para santri juga dididik mulai dari karakter dan adab yang tentunya dibimbing oleh para pengajar yang berkualitas.
Ditulis oleh: Nur Taufik Alghifari
