kumparan
KONTEN PUBLISHER
8 Januari 2020 17:05

Mahasiswa Unkhair Protes Soal Drop Out di Tengah Seminar Rocky Gerung

RG 1.jpg
Rocky Gerung masuk ke tengah massa aksi yang melakukan protes DO dan ikut mengepal tangannya. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Demokrasi Kampus (SPDK) secara mengejutkan membentangkan spanduk dan poster di hadapan Rocky Gerung, Dr Syahrir Ibnu, dan Nurdin I Muhammad, saat Seminar Nasional sedang berlangsung.
ADVERTISEMENT
Ketiganya memang tengah menjadi pemateri pada Seminar Nasional yang digelar di Aula Banau, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Rabu (8/1).
Kejadian ini bermula saat Nurdin sedang menyampaikan bahan materinya. Sontak saja, beberapa mahasiswa berdiri. Mereka secara kompak mengangkat poster serta membentangkan sebuah spanduk yang berisi tuntutan. Di depan panggung utama, memang terlihat Wakil Rektor III Unkhair, Syawal Abdulajid.
Para mahasiswa itu melakukan protes sekaligus mendesak pihak kampus mencabut Surat Keputusan (SK) Nomor 1860/UN44/KP/2019 tentang diberhentikannya empat mahasiswa Unkhair.
Empat mahasiswa itu adalah Arbi M Nur (mahasiswa Kimia), Fahyudi Marsaoly (mahasiswa Teknik Elektro), Ikra Alkatiri (mahasiswa PKN), dan Fahrul Abdul (mahasiswa Kehutanan).
Keempatnya diberhentikan atau di-drop out (DO) karena mengikuti unjuk rasa memperingati 58 tahun deklarasi kemerdekaan rakyat West Papua pada 2 Desember 2019, di depan kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU).
RG 2.jpg
SPDK saat membentangkan spanduk di luar Aula Banau FKIP Unkhair. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Saat melihat aksi membentangkan spanduk itu, Rocky kemudian mengambil mikrofon dan berusaha menenangkan puluhan mahasiswa yang berdemonstrasi. Mereka lalu diajak ke depan.
ADVERTISEMENT
“Terangkan pada saya apa arti DO sepihak. Ada DO dua pihak? Ada DO tiga pihak?” tanya Rocky di hadapan mahasiswa. Pertanyaan itu keluar setelah ia melihat ada poster yang bertuliskan ‘Saya Korban DO Sepihak’.
“Anda bisa dipersoalkan hanya karena literasi yang kacau. Jadi kita mulai dengan ketajaman membuat pamflet, membuat poster,” kata Rocky.
Ia menjelaskan, tugas kampus adalah memfasilitasi pikiran. Kampus dimasifkan untuk menghasilkan pikiran oposisi supaya ada dialektika.
“Jadi Anda (mahasiswa) mesti duel dengan rektor, terangkan bahwa Anda beroposisi di dalam situasi metodologis, bukan situasi ideologis,” jelas sosok yang kerap menulis di Jurnal Perempuan ini.
Menurut dia, satu-satunya alasan seseorang dapat diberhentikan dari kampus adalah karena mahasiswa tersebut gagal memenuhi standar akademik kampus.
ADVERTISEMENT
“Yang diadili di kampus adalah kemampuan berargumentasi, bukan perilaku, bukan kriminalitas,” ucapnya.
RG 3.jpg
SPDK saat membentangkan spanduk dan poster di dalam Aula Banau, FKIP Unkhair. Foto: Ryan/lpmmantra
Tak lama setelah itu, puluhan mahasiswa tadi kembali ke belakang. Seminar pun dilanjutkan hingga selesai pada pukul 14.00 WIT. Ketika Rocky keluar dari Aula, Ia juga disambut dengan aksi simbolis.
Rocky lalu secara spontan masuk ke massa aksi dan mengangkat tangan, ikut bersama-sama dalam aksi tersebut. Tak berlangsung lama, Ia kemudian langsung diajak oleh pihak penyelenggara dan dikawal dengan ketat masuk ke dalam mobil.
Terpisah, Wakil Rektor III Unkhair, Syawal Abdulajid, kepada awak media, menanggapi aksi tadi secara dingin.
“Saya kira itu normal saja, karena mereka bukan baru satu kali itu. Sudah berulang kali di sini,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Menurut dia, seharusnya mahasiswa yang tidak menerima keputusan DO itu bisa melakukan pemberitahuan secara resmi ke pihak penyelanggara Seminar Nasional, tanpa harus dengan aksi membentangkan spanduk di dalam ruangan.
“Saya kira aksi itu di mana-mana kan seperti itu ya, karena mereka kan tidak menggunakan akal sehat, tidak menggunakan nalar. Kalau nalar harus ada pemberitahuan. Ini kan forum resmi,” ungkapnya. Syawal juga mengaku bahwa pihaknya sudah sangat siap apabila masalah ini digiring ke pengadilan.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan