Bisnis
·
7 Oktober 2019 21:06

Pedagang di Ternate Pasrah Jika Dilarang Menjual Minyak Curah

Konten ini diproduksi oleh Cermat
Pedagang di Ternate Pasrah Jika Dilarang Menjual Minyak Curah (17267)
Minyak goreng curah yang dijual di kios milik Mulyadi. Foto: Rizal Syam/cermat
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, akan mengeluarkan kebijakan terkait larangan penjualan minyak goreng curah pada tahun 2020, karena diangap tak higienis. Larangan ini pun berdampak pada pedagang yang ada di Kota Ternate, Maluku Utara.
ADVERTISEMENT
Mulyadi, pemilik kios sembako di pasar Bastiong, Ternate Selatan mengaku, kebijakan ini tentunya akan berdampak pada penurunan omzet jika aturan tersebut direalisasikan. "Pasti ada penurunan (omzet)," keluh Mulyadi, Senin (7/10).
Ia mengakui ketimbang minyak kemasan yang memiliki label, masyarakat lebih banyak membeli minyak goreng curah. Harga minyak curah yang lebih murah menjadi faktor utamanya. Di Ternate, 1 kg minyak goreng curah dijual dengan harga Rp 13 ribu sampai Rp 14 ribu. Sementara minyak kemasan yang memiliki label dijual dengan harga Rp 18 ribu.
"Kalau mereka (pemerintah) larang, ya enggak usah (jual) sudah. Ikut pemerintah saja," katanya, pasrah.
Senada dengan Mulyadi, pedagang lain di Pasar Bastiong, Darmawati, juga hanya bisa menerima. Namun agak berbeda dengan Mulyadi, ia menyarankan agar pemerintah lebih menyasar produsen daripada pedagang.
ADVERTISEMENT
"Kalau memang dilarang, ya jangan dilarang di pasar, yang produksinya itu yang dilarang," tegasnya.
Menurut dia, konsumen terbanyak minyak goreng curah adalah pedagang gorengan. Terkait perbedaan kualitas dari dua jenis minyak goreng itu, Mulyadi dan Darmawati mengaku tak tahu pasti.
"Mungkin ada ya, tapi kurang tahu pasti. Mungkin ini kan terbuat dari kelapa sawit," kata Mulyadi sambil menunjuk minyak bermerek.
Selain itu, Mulyadi juga menunjukan beberapa minyak goreng yang terbuat dari kopra atau daging buah kelapa yang dikeringkan.
---
Rizal Syam