kumparan
17 November 2019 17:35

Relawan Mulai Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Batang Dua, Ternate

BATANG DUA.jfif
Posko Informasi dan Bantuan Bencana Gempa Bumi di Pulau Batang Dunia, Gereka Ayam. Foto: Rajif Duchlun/cermat
Bantuan untuk korban gempa bumi di Kecamatan Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, mulai disalurkan Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (GPM) Ranting Emanuel Ternate, Minggu (17/11) malam.
ADVERTISEMENT
“Direncanakan barang yang sudah ada ini sebentar (Minggu) malam didistribusikan dengan Kapal Feri. Jadi tim relawan dari sini sudah siap,” ujar Pendeta Donny Toisuta, saat ditemui cermat di Gereja Ayam, yang juga menjadi posko informasi gempa untuk Batang Dua.
Donny bilang, sejumlah bantuan yang sudah diterima Angkatan Muda GPM, di antaranya mie instan, makanan bayi, tikar, hingga sarung.
“Itu kebutuhan-kebutuhan yang dasar. Dan sebelumnya kami sudah distribusi sumbangan bantuan dari Sinode Gereja Protestan Maluku berupa 25 buah terpal ukuran 8x6 meter dan 15 buah senter,” jelas Donny.
Distribusi bantuan menggunakan Kapal Feri dari Ternate ke Batang Dua ini sendiri membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam perjalanan.
Saat ini, kata Donny, ada sekita 317 jiwa yang mengungsi di Kelurahan Mayau, tepatnya di SMA Negeri 11 Ternate dan di Lapangan Radio. Dua titik pengungsian ini berada di ketinggian. Jarak tempuh dari pemukiman ke tempat pengungsian, di SMA Negeri 11 Ternate sekitar 1 kilometer. Sementara ke Lapangan Radio, sekitar 2 kilometer.
ADVERTISEMENT
Gempa susulan memang masih terus terjadi. Data monitoring Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, dari gempa utama pada 15 November 2019 lalu, hingga Minggu 17 November, pukul 18.00 WIT, sudah terjadi 270 gempa susulan dalam berbagai variasi magnitudo. Dan ada sekitar 10 kali gempa susulan yang dirasakan. Batang Dua sendiri berada dekat dengan titik gempa.
Sementara itu, lanjut Donny, berdasarkan data dari tim relawan GPM yang ada di Batang Dua, menyebutkan untuk pengungsi yang berada di SMA Negeri 11 Ternate, ada sekitar 82 Kepala Keluarga (KK), 248 jiwa, dengan jumlah 110 laki-laki, 138 perempuan. Dari jumlah itu, terdapat 22 lansia, 4 ibu hamil, 31 bayi berusia 0-5 tahun dengan cacat fisik 3 orang.
ADVERTISEMENT
“Sedangkan pengungsi untuk di lokasi Lapangan Radio, ada 29 KK, 69 jiwa dengan jumlah 34 laki-laki, 35 perempuan. Dari jumlah itu, ada 4 bayi usia 0-5 tahun, serta 2 lansia. Rata-rata pengungsi itu berasal dari Mayau dan Perum,” kata Donny.
Pemerintah Belum Hadir di Batang Dua
Direktur LSM Rorano, Asgar Saleh, yang ikut terlibat memantau dan mendata jumlah korban serta kerusakan, kepada cermat, mengatakan data yang dipublikasikan BNPB, semestinya diverifikasi dulu ke tim relawan yang turun langsung ke lapangan.
“Saya sih tidak bermaksud mendebatkan data ya. Bahwa mereka mungkin punya laporan dari Lurah dan Camat itu ada, kemudian kita mendapatkan laporannya dari relawan yang langsung bergerak di lapangan, karena mereka (relawan) melakukan assessment sejak hari pertama,” kata Asgar.
ADVERTISEMENT
Asgar bilang, setiap assessment yang dilakukan relawannya semuanya dibuktikan dengan foto dan video. Saat melihat data yang disampaikan BNPB, diakuinya relawan kembali melakukan verifikasi. Ternyata data milik BNPB tidak sesuai dengan kondisi yang ditemukan para relawan.
“Ternyata di lapangan memang ada suami-istri yang dihitung rumahnya dua, ada satu orang yang ditulis nama panjangnya dan juga nama panggilannya, padahal orang yang sama,” ungkapnya.
“Kemudian ada rumah-rumah kosong, ada beberapa rumah yang dalam klasifikasi BNPB sebenarnya itu tidak termasuk rusak ringan, tapi dimasukan, yang paling tragisnya adalah ada rumah yang justru hancur sama sekali itu tidak masuk dalam list yang dikirim,” tambahnya.
Ia mengatakan, apabila menggunakan data BNPB, maka akan bermasalah ketika proses distribusi bantuan. “Bayangkan saja, ada orang yang rumah tidak rusak dia akan dapat bantuan, dan orang yang rumah rusak dia tidak dapat bantuan karena tidak masuk dalam list,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kata Asgar, hingga hari ketiga sejak gempa utama, pemerintah Kota Ternate belum mengunjungi titik pengungsian. Ia menyebut, pemerintah mestinya jangan dulu memikirkan bantuan apa yang akan disalurkan.
“Itu urusan nanti, tapi saat terjadi bencana saat masyarakat trauma, saat masyarakat ketakutan, mestinya pemerintah hadir di sana, mendampingi mereka, datang sehingga masyarakat punya kekuatan,” tukasnya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan