Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Bertemu Rizal, Bocah 7 Tahun di Ternate yang Idap Penyakit Kulit Akut

Yuli saat berkisah tentang anaknya. Rizal tampak memeluk mamanya. Foto: Rizal Syam/cermat

Seorang bocah di Ternate bernama Muhammad Rizal (7 tahun) menderita penyakit kulit sejak lahir. Rizal sudah mencoba berbagai jenis pengobatan, tetapi tak kunjung sembuh.

Cermat menemui Rizal dan ibunya, Yuli Darusalam, di rumah mereka di Kelurahan Ubo-Ubo, Ternate Selatan, Sabtu (13/7). Yuli tak kuasa membendung air matanya saat bercerita tentang penyakit anaknya itu. Tentu, ia sangat berharap Rizal bisa sembuh dari penyakit kulit tersebut.

Menurut Yuli, Ical–panggilan akrab Rizal—menderita penyakit tersebut sejak satu minggu setelah dilahirkan. Awalnya, tubuhnya tampak melepuh, yang kemudian pecah dan meninggalkan bekas seperti sisik.

Hal itu terjadi berulang kali, hingga menyebar ke sekujur tubuh Ical. Kulitnya mengering, sisik-sisik yang timbul kemudian gugur, berganti dengan luka baru.

Saat di rumah Ical selalu tak nyaman mengenakan pakaian. Foto: Rizal Syam/cermat

Yuli dan suaminya, Tanil, sudah mencoba berobat ke berbagai dokter di Ternate, namun tak satu pun berujung pada kesembuhan Ical. Semua dokter mengatakan hal yang sama, Ical menderita alergi akut.

“Dokter melarang pakai kipas angin, soalnya itu bikin kulitnya kering,” ucap Yuli. Untuk menyiasati hal itu, Yuli rutin mengoleskan minyak kelapa ke tubuh anak bungsunya itu. Alasannya, biar kulit Ical lembab.

Gagal lewat pengobatan medis modern, Yuli lalu mencoba pengobatan herbal. Namun alih-alih menyembuhkan Ical, beberapa obat herbal justru menambah ruam di tubuhnya.

Kendati penyakitnya belum kunjung sembuh, Ical masih tetap ceria. Foto: Rizal Syam/cermat

Desember 2017, dengan bermodalkan uang Rp 11 juta, Ical dibawa ke Manado. Selama sebulan perawatan di sana, kondisi Ical mulai menunjukkan kesembuhan; beberapa ruas kulitnya sudah mulai bersih.

“Di sana itu lengkap, ada air khusus, salep khusus. Hanya saja dokter bilang butuh tahapan untuk kesembuhan Ical,” jelas Yuli.

Kini, usia Ical sudah cukup untuk masuk Sekolah Dasar (SD). Namun, ada semacam kekhawatiran di benak Yuli. Ia takut anak ketiganya itu bakalan minder, terlebih menghadapi ejekan teman-temannya. Itulah yang juga menjadi sumber kesedihan Yuli.

Yuli bercerita, pernah suatu waktu ia mengajak Ical ke pasar. Di sana, kata Yuli, ketika Ical mendekati lapak milik seorang pedagang, pedagang itu lantas memasang gestur hinaan, bahkan mengusir Ical. Selain itu, Ical juga kerap mengadu padanya jika dicemooh oleh teman-teman sepermainannya.

Ical terlihat ceria ketika ditemui cermat. Foto: Rizal Syam/cermat

“Dia sering bilang ke saya ‘ma, tadi si ini bilang Ical kudis’,” katanya. Setiap kali mendapati laporan seperti itu, hati Yuli terasa pedih.

Pengalaman buruk juga pernah dirasakan Yuli ketika ia mengajak Ical berkeliling ke rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan. Penghuni salah satu rumah yang mereka datangi bersikap seakan-akan Ical membawa sesuatu yang buruk.

“Tuan rumah itu tak mengizinkan torang masuk ke rumahnya karena melihat kondisi Ical,” kisah Yuli.

Yuli memang kerap berjalan ke rumah-rumah untuk meminta sumbangan. Terakhir hal itu ia lakukan adalah seminggu lalu. Semua demi kesembuhan Ical.

Sebab, ia kekurangan dana. Suaminya hanya bekerja sebagai tukang ojek, sementara ia seorang ibu rumah tangga. Baginya apa pun akan dilakukan demi kesembuhan anaknya.

Yuli bilang, sebagai anak yang kian tumbuh, Ical sudah mulai merasa malu. Sering kali, ketika bepergian ke suatu tempat, dan di situ sedang ada banyak orang, Ical enggan turun dari motornya.

“Dia bilang ‘Ical malu, ma’. Saat itu saya pe hati sakit,” kata perempuan bersusia 39 tahun itu.

Ada satu momen yang menurutnya paling mengiris hati. Ketika Ical tiba-tiba berucap kepadanya, “Ma, ini kalau Allah kasih sembuh pe Ical juga…,” katanya menirukan ucapan Ical. Ia tak menyangka anaknya bakalan mengatakan hal itu. “Itu tanda kalau dia bermimpi untuk sembuh.”

Kini, kedua orang tua Ical sedang menabung untuk biaya pengobatan. Tujuannya, kalau tidak di Makassar, berarti Ical akan dibawa ke Jakarta, semua tergantung uang yang dikumpulkan. Namun, Yuli saat ini sedang kebingungan bagaimana caranya mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan tersebut.

Ia menyampaikan satu pertanyaan saat kru cermat hendak pamit, “Kalau minta sumbangan ke artis-artis begitu kira-kira bisa atau tidak?” ucapnya dengan wajah yang polos.

---

Rizal Syam

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57