Poligami dalam Perspektif Syariat Islam

Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah
Konten dari Pengguna
19 Oktober 2021 12:04
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Cece Ahmad Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Poligami dalam Perspektif Syariat Islam (92215)
zoom-in-whitePerbesar
Polygamy Pictures. Unsplash.com
Poligami adalah pernikahan yang menikahi perempuan lebih dari satu pada waktu yang bersamaan, sesuai dengan kemampuan fitrah manusia dalam kehidupannya yang ingin memiliki status pernikahan yang sah dengan bertujuan menyucikan keturunan (Fadil, 2019). Dalam Syariat Islam, menikahi perempuan lebih dari satu itu diperbolehkan dengan dibatasi oleh keimanan. Sebagaimana yang terkandung dalam alquran cukup dengan empat perempuan, tetapi Syarat Mutlak bagi seorang suami harus berperilaku adil. Allah SWT berfirman dalam alquran yang artinya “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu condong (kepada istri yang kamu cinta), sehingga kamu membiarkan yang lain terkatung katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha pengampun, Maha penyayang”. (surat an nisa : 129).
ADVERTISEMENT
Menikahi dua perempuan atau lebih hukumnya boleh, dengan syarat seorang suami mampu dan bisa bertanggung jawab kepada istrinya, caranya ialah berlaku adil dan tidak menimbulkan kecemburuan dalam hati seorang istri. Kesimpulannya keadilan adalah peran utama dalam berumah tangga, jika tidak mampu berperilaku adil dengan dua perempuan, maka laki laki wajib menikah dengan satu perempuan, dan haram baginya menikahi dua perempuan atau lebih. Allah SWT berfirman dalam alquran yang artinya “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (apabila kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan lain yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu kamu lebih dekat agar kamu tidak terzalimi. (surat an nisa : 3). Walaupun demikian, banyak praktik poligami yang hanya memenuhi hawa nafsunya saja, dia tidak mengetahui ketentuan Hukum Islam dan tidak mengetahui dampak positif dan negatif dalam poligami. Seringkali kita mendengar isu isu poligami, contohnya pertengkaran suami istri yang terjadi dilingkungan sekitar kita, atau di media sosial.
ADVERTISEMENT
Dampak dampak Poligami
Dampak Positif
Adapun dampak positif poligami ketika laki laki mempunyai istri yang mandul, bagaimana seorang laki laki mengatasi hal tersebut,? oleh karena itu kami memiliki tiga jalan agar hati seorang istri tidak menumbuhkan kecemburuan yang besar. Pertama, tinggal bersama istrinya yang mandul, tindakan ini mungkin tidak adil bagi seorang suami, tetapi menyenangkan hati seorang istri walau harus hidup tanpa anak, dalam hal ini tidak ada perantara dari Hukum Syara', demikian itu seorang suami harus sabar dan menerima keadaan. Kedua, berbicara dengan baik kepada istri, memutuskan apakah tetap bersama atau perempuan mengizinkan laki laki untuk menikah lagi dengan perempuan lain (poligami) atau memilih untuk bercerai, cara ini agar seorang istri tidak merasa dibuang atau diduakan. Ketiga, senantiasa menjaga hubungan dengan seorang istri walaupun mempunyai kekurangan mandul dan menunaikan hak-hak seorang istri, sebagaimana firman Allah SWT dalam alquran yang artinya : " Menjadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di alam dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. ( surat al imran : 14).
ADVERTISEMENT
Dampak Negatif
Ada beberapa dampak negatif poligami yang sering sekali kita dengar baik langsung maupun lewat sosial media. Pertama, munculnya pertengkaran di dalam rumah tangga yang menyebabkan sosial keluarga berantakan. Padahal, ketentraman rumah tangga adalah tanggung jawab yang besar bagi seorang suami. Sebagai peran utama dalam menjaga keharmonisan berumah tangga. Kedua, kecondongan seorang suami lebih mencintai istri kedua dari pada istri pertama, oleh karena itu suami pilih kasih dalam hal kasih sayang, mencintai, ataupun memberikan sesuatu. Dan hati seorang istri hidup dalam kesedihan dan kesengsaraan. Ketiga, terzalimi nya seorang anak yang hidup di antara pertengkaran ibu dan ayahnya. Ini adalah dampak negatif yang menjadikan hati seorang anak selalu resah, dan kehidupannya tidak lagi merasakan kenyamanan atau keharmonisan. Suasana ini bagian dari kesedihan yang tidak pernah selesai, kecuali dengan memahami hikmah dari sebuah pernikahan. Percuma memperbaiki keharmonisan rumah tangga kecuali orang tersebut mempelajari akhlak para Nabi, berpikir seperti seorang Filosof, dan orang yang bijaksana.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020