News
·
15 September 2021 18:59
·
waktu baca 3 menit

Pemaknaan Keliru Bangkitkan Semangat Hatta

Konten ini diproduksi oleh Christian R Hutahaean
Pemaknaan Keliru Bangkitkan Semangat Hatta (627001)
searchPerbesar
Bung Hatta. Foto: AFP
Tanggal 9 Desember 1917, sebuah perkumpulan pemuda dan pelajar Sumatera didirikan di Batavia. Perkumpulan itu dinamai Jong Sumatranen Bond. Di tahun yang sama, Nazir Datuk Pamoentjak, seorang pemuda asal Solok, Sumatera Barat, menyelesaikan studi di Hoogere Burgerschool (sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas pada masa Hindia Belanda). Pamoentjak hendak lanjut belajar Ilmu Hukum di Universitas Leiden, Belanda. Sembari menunggu kejelasan keberangkatan ke Belanda, Pamoentjak pulang kampung ke Sumatera Barat.
ADVERTISEMENT
Di Batavia, Pamoentjak telah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond. Dalam rencana kepulangannya, ia lantas diminta oleh pengurus Jong Sumatranen Bond untuk membawa visi dan misi perkumpulan itu ke Sumatera Barat. Targetnya jelas: pembentukan cabang-cabang perkumpulan Jong Sumatranen Bond di Sumatera Barat.
Kepulangan Pamoentjak disambut baik oleh Taher Marah Soetan, sekretaris Sarikat Usaha kala itu. Atas dukungan Taher Marah Soetan, suatu rapat perkenalan pun diselenggarakan. Pada kesempatan itu, Pamoentjak, dalam pidato berbahasa Belanda, menguraikan tujuan Jong Sumatranen Bond, yang meliputi:
  1. memperkuat pertalian antara pemuda Sumatera yang masih belajar serta menanam keinsafan dalam jiwanya, bahwa mereka mempunyai seruan hidup untuk menjadi pemimpin dan pendidik bangsanya;
  2. menimbulkan perhatian pada anggotanya dan orang lain terhadap tanah dan bangsa Sumatera dan untuk mempelajari adat-istiadat Sumater, keseniannya, bahasa-bahasanya, pertaniannya, dan sejarahnya.
ADVERTISEMENT
Siapa sangka, pidato Pamoentjak telah membakar semangat seorang pemuda naif di tengah-tengah rapat. Mohammad Hatta nama pemuda itu.
Molukken is het verleden, Java is het heden, en Sumatra is de toekomst.
Semboyan tersebut terus terngiang di kepala Hatta. Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini, dan Sumatera adalah masa depan. Demikian bunyi semboyan itu dalam bahasa Melayu (kini bahasa Indonesia). Pemaknaan Hatta terhadap semboyan itu membuatnya makin bersemangat. Dia begitu terfokus pada kalimat terakhir semboyan itu: Sumatra adalah masa depan. Sampai-sampai dia tak begitu peduli lagi, kenapa Maluku disebut sebagai masa lalu, dan Jawa sebagai masa kini.
Belakangan Hatta mengetahui bahwa semboyan itu adalah milik kaum kolonial Belanda. Bagi Belanda, Maluku sudah jadi masa lalu, sebab segala sumber kejayaannya telah habis diperas. Setelah Maluku kering kerontang dieksploitasi, bergeraklah Belanda ke Jawa guna kembali meraup keuntungan sebesar-besarnya. Itulah mengapa Jawa disebut sebagai masa kini, yakni masa yang sedang dijalani oleh Hatta muda. Dengan demikian, “Sumatra adalah masa depan” sesungguhnya merupakan ancaman bagi masyarakat Sumatera. Akan tiba saatnya di mana Sumatera dieksploitasi habis-habisan oleh Belanda, seperti mereka mengeksploitasi Maluku dan Jawa.
ADVERTISEMENT
Kalau masyarakat Sumatera terlambat mengenali ancaman ini, maka kelaliman pemerintah kolonial Belanda akan berlangsung tanpa perlawanan. Atas dasar pemikiran itulah, Hatta muda menyadari bahwa Sumatera harus bangkit dari keterpurukannya. Sumatera harus mulai melahirkan para pemimpin dan pendidik. Hanya dengan begitulah derajat bangsa Sumatera bisa terangkat.
Molukken is het verleden, Java is het heden, en Sumatra is de toekomst.
Hatta muda nan naif jelas keliru memaknai semboyan tersebut. Semangat mudanya memang telah mengabaikan konteks tatkala memberi makna. Pada saat bersamaan, semangat muda itu pula yang menuntun Hatta pada pemaknaan yang visioner. Pemaknaan yang tidak kontekstual, tapi kadung membuat Hatta bersemangat, mengenali potensi pemuda Sumatera dan potensi dirinya sendiri.
Referensi:
Catatan Mohammad Hatta tentang Jong Sumatranen Bond dalam Mohammad Hatta, Mohammad Hatta: Memoir, (Jakarta: PT. Tintamas Indonesia, 1979), hal. 42-45.
ADVERTISEMENT