Wacana-Wacana dari Negeri Penguin

Staf Divisi Studi dan Advokasi di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU)
Konten dari Pengguna
24 Oktober 2021 8:20
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sampul depan novel "Hikayat Penguin". Sumber: moooipustaka.com
zoom-in-whitePerbesar
Sampul depan novel "Hikayat Penguin". Sumber: moooipustaka.com
ADVERTISEMENT
Penulis: Anatole France
Penerjemah: Yogas Ardiansyah
ISBN: 978-623-90185-2-8
Ukuran: 13×20 cm, 336 halaman
ADVERTISEMENT
Tahun terbit: 2020
***
Novel ini sangat menyenangkan karena dimulai dengan kisah sekawanan Penguin. Ya, saya kira kebanyakan orang pasti setuju bahwa gagasan-gagasan yang diceritakan lewat perumpaan pasti sangat menarik perhatian. Belum lagi kalau si pencerita punya gaya bercerita yang khas, yang tak mudah ditemui kemiripannya dengan pencerita yang lain.
Bagi berbagai komunitas masyarakat di Indonesia misalnya, banyak petuah dan pesan ihwal kehidupan yang dikisahkan dalam bentuk perumpamaan. Terutama dalam hal ini, direpresentasikan oleh binatang. Baik binatang yang nyata, maupun yang khayali. Cerita yang menjadikan binatang sebagai tokoh ini di kemudian hari dikenal sebagai fabel dalam ilmu sastra.
Saya, tumbuh dengan cerita-cerita fabel semacam itu. Maka tak ayal, lembaran-lembaran awal novel ini menarik perhatian.
ADVERTISEMENT
Cerita dimulai dengan sekawanan Penguin yang dibaptis secara tak sengaja oleh Mael, seorang Pastor yang sudah ujur. Pembaptisan yang tak disengaja ini rupa-rupanya harus membawa serangkaian konsekuensi. Kawanan Penguin berubah jadi manusia. Dan Pastor Mael punya tugas, atau yang dalam perspektif agamanya ia kenali sebagai "panggilan" untuk memberadabkan bangsa Penguin yang ia baptis.
Wacana pertama: poskolonialisme.
Pastor Mael lantas memberikan pakaian pada bangsa Penguin yang masih telanjang. Dari apa yang kini tersembunyi di balik pakaian mereka, mereka mengenal keinginan. Penyingkiran ketelanjangan ini kemudian membuat bangsa Penguin harus mulai belajar merepresi hasrat seksual mereka. Mereka mulai mengenal konsep satu betina untuk satu jantan. Batasan-batasan pun mulai ditetapkan.
Wacana kedua: asal-usul moralitas.
Pinguin Foto: Pixabay/andries48
zoom-in-whitePerbesar
Pinguin Foto: Pixabay/andries48
Bangsa Penguin terus menata kehidupan. Peradaban mereka telah menghasilkan ksatria gagah perkasa dan orang-orang yang disucikan. Kisah ksatria dan orang-orang suci ini dituturkan dari masa ke masa. Dituliskan dalam kitab-kitab. Dan dirawat dalam monumen-monumen sakral. Proses pewarisan kisah-kisah itu berlangsung begitu saja, dari generasi terdahulu ke generasi kemudian, berlangsung terus-menerus tanpa satu pertanyaan pun yang diajukan. Sejarah bangsa Penguin kian mapan. Tak lagi butuh pertanyaan, dan tak perlu diperbincangkan. Padahal--berdasar asumsi yang dibangun penulis novel ini--banyak kisah yang didengar oleh bangsa Penguin bukanlah persis seperti yang terjadi di masa lampau. Sebagian di antaranya malah mengandung kekeliruan, juga dimanipulasi.
ADVERTISEMENT
Wacana ketiga: historiografi.
Generasi-generasi baru bangsa Penguin mulai tak acuh pada dogma masa lalu. Rasionalitas dan pengalaman mulai mendapat tempat, bahkan digunakan untuk mempreteli dogma.
Wacana keempat: kebebasan berpikir.
Bangsa Penguin senantiasa belajar. Teknologi maju dengan pesat. Produktivitas bangsa Penguin meningkat. Hubungan dengan bangsa-bangsa lain kini berlangsung dengan cara-cara yang lebih beradab. Tidak ada lagi invasi bersenjata yang mengakibatkan perang terbuka. Hubungan antar bangsa dilakukan melalui diplomasi yang santun. Setiap bangsa berlomba menanamkan pengaruh dalam pergaulan antarbangsa. Beragam produk yang dihasilkan bangsa Penguin sebagai hasil dari kemajuan teknologi membutuhkan pasar.
Wacana kelima: globalisasi.
Roda zaman terus berputar. Bangsa Penguin terus tumbuh ke arah yang mereka duga dan tidak sama sekali. Kebudayaan terkikis, mati dan dilupakan. Semua orang hidup serba praktis. Orang-orang tak lagi saling bicara sebagai suatu pemenuhan kebutuhan. Kebebasan berlangsung dalam bayang-bayang pengaruh orang-orang dan kelompok adikuasa. Kebenaran jadi samar-samar. Makin hari makin susah dikenali. Bangsa penguin hidup dalam kebosanan. Sampai-sampai bosan pada kebosanan mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
Wacana keenam: posmodernisme.
Demikianlah beberapa wacana yang dapat ditemukan dalam novel Hikayat Penguin ini. Kalau saya melakukan pembacaan ulang, akankah saya menemukan wacana baru?
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020