Cover Story Cinema Poetica 2
17 September 2021 15:55
·
waktu baca 14 menit

1965 yang Menjelma Sinema

Mitos sejarah 1965 tak bisa dipisahkan dari sinema Indonesia. Setahun setelah Suharto naik kuasa, Pusat Rohani Islam Angkatan Darat membiayai produksi film Operasi X (1968) dengan Misbach Yusa Biran di pos sutradara. Kisahnya soal espionase—seorang intelijen merasuk ke sebuah “gerakan gelap” alias komunis untuk membubarkannya dari dalam. Melalui misi “demi Tuhan, tanah air, dan cita-cita seluruh bangsa” ini, kita dipapar pakem khas mitos 1965: tentara sebagai abdi negara yang dizalimi versus komunis yang bengis, ogah sembahyang, dan gemar rapat malam. Selang satu dekade lebih, pakem serupa didramatisasi lebih lagi dan dikhalayakkan luas lewat Pengkhianatan G30S PKI (1982), lengkap dengan sosok Bapak Pembangunan (yang diperankan Amoroso Katamsi) sebagai ksatria penyelamat.
Setelah 1998, mitos sejarah 1965 dihadapkan dengan perspektif lain: penyintas. Melalui puluhan film fiksi dan dokumenter, generasi sineas pasca-reformasi memperkenalkan galeri tokoh baru kepada publik: keluarga korban pembantaian, mahasiswa eksil, buruh tani, seniman Lekra, alumni Pulau Buru, anggota Gerwani, simpatisan Bung Karno, serta orang-orang yang dituduh dan dikait-kaitkan dengan PKI dan G30S. Melalui memori penyintas sebagai sumber utama kisah film, tokoh-tokoh ini dikedepankan sebagai bagian dari sejarah tanding, sebagai pernyataan bahwasanya kita selama ini mengingat korban yang salah.
Puisi Tak Terkuburkan (1999) jadi peletak batu pertama. Melalui tokoh Ibrahim Kadir, seniman Gayo yang ditahan tanpa alasan pada 1965, film arahan Garin Nugroho itu melakonkan situasi dalam sel tahanan. Dunia luar diwakili seorang sipir, satu-satunya tokoh non-tahanan dalam film yang bertugas macam malaikat penjemput ajal. Ia sesekali masuk sel, kadang untuk mengamati para tahanan, kadang mendengar keluh kesah mereka, kadang mengumumkan nama orang yang keluar sel. Tugas Ibrahim, yang diperankan dirinya sendiri, adalah mengarungi kepala kawan-kawan sepenjaranya yang namanya disebut yang lalu entah dibawa ke mana.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Konten Premium kumparan+
Mitos sejarah 1965 tak bisa dipisahkan dari sinema Indonesia. Penerjemahannya terus berubah. 56 tahun berlalu, apa jadinya jika generasi pelaku-korban sudah tiada? Ulasan Cinema Poetica di kumparanplus! Klik konten di bawah.