Entertainment
·
4 Agustus 2021 16:41
·
waktu baca 9 menit

Kisah Pilu Asmara Muda yang Mengorbankan Satu Nyawa

Konten ini diproduksi oleh Cinta dan Rahasia
Kisah Pilu Asmara Muda yang Mengorbankan Satu Nyawa (183854)
searchPerbesar
Dok. Pixabay.com
Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Kata siapa asmara kaula muda hanya akan merasakan indahnya cinta? Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan kisah pilu kaula muda yang terhampar nyata di depanku. Pengkhianatan janji dan air mata bukanlah satu-satunya pengorbanan yang ia terima dari pria pujaannya. Lebih dari itu dan melibatkan satu nyawa. Nyawa yang bahkan menggunakan kesempatannya untuk menghirup udara di dunia.
ADVERTISEMENT
Janji manis pria kerap kali dijadikan acuan wanita untuk mendapatkan masa depan yang mereka inginkan bersama kekasih pujaannya. Namun kenyataan terkadang harus membuat mereka mengambil pilihan menyakitkan, setidaknya begitulah yang dialami oleh Nayla. Seorang wanita berparas cantik dan bertubuh mungil yang tengah berdiri di hadapanku. Siapa pun yang memandang wajahnya pasti tidak akan menyangka sebesar apa pengorbanan hidup yang harus ia jalani.
Nayla berdiri di hadapanku, menyapa kemudian duduk di bangku seberang yang berbataskan oleh meja kerjaku. “Nama saya Nayla, saya seorang siswa yang sedang menghabiskan masa liburan untuk masuk ke sebuah universitas. Pada kesempatan kali ini saya mengajukan diri untuk menjadi pegawai kasir di restoran yang Ibu miliki dengan status sebagai pekerja paruh waktu” ucapnya dengan lugu dan gugup. Wajar sekali sebagai calon pegawai yang menghadiri wawancara kerja pasti diselimuti rasa gugup.
ADVERTISEMENT
Singkatnya, Nayla kuterima bekerja di restoranku. Dia adalah anak yang sangat ceria, mudah bergaul dengan banyak pegawai lama, dan senang sekali menyapaku saat aku baru tiba di restoran. Dia cukup cekatan dan hampir tidak pernah ada hitungan yang salah jika dia mendapat giliran bekerja, semua pegawaiku sangat menyukai Nayla dan semua laporan menunjukkan kalau dia anak yang baik. Setelah melewati masa percobaan, Nayla menunjukkan peningkatan yang sangat pesat dan dia mulai sukses menarik banyak pelanggan karena candaannya saat mereka ingin membayar makanan.
Para ojek online pun gemar sekali berada di dekat resto kami, bukan untuk membeli melainkan menggoda Nayla yang memiliki paras cantik. Mereka rela membeli makanan dari kantong mereka sendiri hanya untuk berada di dekat Nayla dan terkadang kami akan menggodanya karena menjadi primadona di antara para tukang ojek online. Setelah enam bulan berada di restoranku dan mendapat pengalaman yang menyenangkan, jelas sekali Nayla sedang jatuh cinta dengan seseorang. Lagi-lagi itu menjadi bahan bualan kami untuk sesekali menggodanya dan yang digoda hanya tersipu malu.
ADVERTISEMENT
Kami menjadi terbiasa menggoda Nayla, selain ceria dia juga merupakan satu-satunya pegawai paling muda di antara yang lain. Si Bungsu, panggilan kami untuknya. Satu tahun berlalu dan permasalahan yang dihadapi masih terbilang biasa saja hingga Si Bungsu mulai terlihat sakit-sakitan. Aku mulai mendapat laporan kalau Nayla sering terlihat pucat dan lemas, “mungkin karena ia terlalu lelah bekerja” pikirku, jadi kukatakan padanya untuk mengambil cuti sebanyak tiga hari. Nayla menuruti saranku, akan tetapi ketika kembali ia justru terlihat semakin kusut.
Meskipun Nayla berusaha menutupinya dengan kembali ceria dan melemparkan candaan kepada para pelanggan. Namun ia tidak bisa membohongi mataku, ada hal berat yang berusaha ia sembunyikan dan berpura-pura menjadi seperti biasa agar tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi belum sempat aku menegur dan berbicara empat mata dengannya, Nayla selalu menghilang secara tiba-tiba dari pandanganku. Pekerjaan yang begitu banyak membuat aku berulang kali menunda niat untuk berbicara dengannya.
ADVERTISEMENT
Sampai suatu ketika aku dikabarkan oleh salah satu pegawai restoran kalau Nayla tak kunjung keluar dari kamar mandi. Aku yang saat itu sedang berada di salah satu restoran cabang pun bergegas kembali dan memastikan situasi di sana aman terkendali. Para pegawai tidak berani terlihat panik di depan para pelanggan dan juga tidak mau mendobrak pintu kamar mandi tanpa izin dariku. Semua pegawai sudah kulatih untuk tetap tenang apa pun situasinya, lalu ketika sampai aku melihat banyak wajah gugup yang berusaha ditutupi sekuat tenaga oleh mereka.
Aku tersenyum dan berjalan ke kamar mandi seperti biasa dan di sana sudah ada dua orang yang menjaga sambil terus berusaha memanggil nama Nayla. “Naay, lagi apa? Sudah tiga jam lebih kamu di sana, keluar yuk” bujuk Prita, salah satu pegawai paling senior di restoranku. Dia terkejut saat melihat aku sudah berada di belakang mereka, “aku sudah bujuk dari tadi Bu tapi tidak ada jawaban dari Nay” ucapnya. Aku maju dua langkah dan mendekati pintu kamar mandi, “Nay kamu lagi apa di dalam? Kalau ada masalah, ayo kita bicarakan dan cari solusinya bersama” ucapku. Tapi percuma saja, tak ada jawaban dari dalam dan kuputuskan untuk mengeluarkan semua pelanggan dan menghubungi polisi.
ADVERTISEMENT
“Kamu bilang sama pelanggan kalau restoran satu jam lagi akan tutup sementara dan tolong tolak para pelanggan yang baru saja datang” ucapku pada Prita. Ia hanya mengangguk dan melakukan apa yang sudah aku instruksikan, sambil menunggu para pelanggan menghilang, aku pun menghubungi pihak kepolisian. Aku tidak berani mengambil keputusan karena takut terjadi sesuatu yang membahayakan, dua puluh menit berlalu dan pihak polisi pun sudah berada di depan restoran. Aku menyuruh pegawaiku yang lain untuk membawa sisa pelanggan untuk keluar karena polisi sudah menunggu.
Setelah restoran kosong, polisi masuk ke dalam dan mendobrak pintu kamar mandi. Barulah di sana aku lihat ruangan yang bersimbah darah dengan Nayla yang terduduk di lantai. Ia terlihat lemas, wajahnya pucat, tangannya terlihat penuh darah dan sedang membekap seorang bayi di lantai. “NAYLA!” Teriakku histeris sambil berusaha memeluk tubuh mungilnya, bayi itu sudah tidak bernyawa dan Nay pingsan di dalam pelukanku. Kami susah payah mengeluarkan Nay dari kamar mandi dan membawanya ke ruang ganti karyawan. Polisi ikut membantu dan beberapa karyawan membersihkan darah yang memenuhi kamar mandi itu.
ADVERTISEMENT
Entah siapa yang menghubungi ambulans, setelah dibersihkan aku mulai mendengar suara sirine dari kejauhan. “Bu” ucapnya lemah, “ada apa Nay?” Tanyaku, kepala Nay berada di atas pangkuanku. Wajahnya pucat pasi, jelas saja ia kehilangan banyak sekali darah, dan rambutnya basah karena keringat. Siapa yang menyangka tiga jam berada di dalam kamar mandi ternyata ia justru melahirkan seorang bayi. “Maafkan Nay sudah buat tempat Ibu terkena masalah, Nay tidak tahan Bu” ucapnya tersengal-sengal, “tidak apa-apa Nay, sudah jangan banyak bicara sebentar lagi ambulans akan datang” tuntasku.
Nay tidak lagi berkomentar, ia masih di dalam pangkuanku hingga akhirnya petugas kesehatan memindahkannya ke atas tandu. Aku ikut di dalam mobil ambulans, mengantar Nay hingga ia mendapat perawatan yang dibutuhkan. Untuk sementara restoran tutup dan semua pegawai kuliburkan, aku tahu betul mereka sangat terkejut karena begitu juga denganku. Tetapi aku masih mengurus Nay di rumah sakit karena ia tidak memiliki siapa pun di daerahku. Tiga hari Nay tidak sadarkan diri, dokter bilang ia kehilangan banyak darah dan tubuhnya tidak kuat untuk menanggung rasa sakit.
ADVERTISEMENT
“Melahirkan itu sudah luar biasa sakitnya, apalagi ia harus membungkam mulut agar tidak ada yang tahu apa yang terjadi” ucap dokter yang merawat Nay. Aku tidak sadar kalau bayi yang sudah tidak bernyawa itu dibawa oleh polisi dan berulang kali mereka bertanya tentang keadaan Nay. Mereka ingin membawa Nay ke kantor polisi dengan tuduhan pembunuhan bayi, sayangnya Si Bungsu yang ceria itu belum juga sadarkan diri. Di hari keempat Nay mulai sadar meski masih sangat lemah, ia meraih tanganku dan berusaha berbicara dengan matanya “tidak apa Nay, Ibu mengerti” jawabku. Nay hanya mengangguk lemah dan melakukan perawatan lebih lanjut, dua hari kemudian Nay mulai bercerita meski dengan terbata-bata.
Ia mengatakan kalau sebenarnya ia adalah anak dari orang terpandang di kampungnya. Nay pindah ke kota kami karena ingin melanjutkan kuliah dan bekerja mencari pengalaman, tetapi ia justru jatuh cinta pada salah satu ojek online yang setiap hari menungguinya. Mereka berpacaran, namun orang tua Nay tidak merestui karena si pria tidak setara dengan mereka. Jadi Nay memutuskan untuk tetap menjalin hubungan dengan pria itu secara sembunyi-sembunyi, asmara mereka begitu meledak hingga ia tak sadar kalau tubuhnya perlahan mulai berubah. Ada bayi di dalam tubuh Nay, itu sebabnya ia terlihat tidak sehat selama beberapa waktu.
ADVERTISEMENT
Setelah tiga hari kusarankan untuk mengambil cuti, rupanya ia bertengkar dengan si pria dan meminta pertanggungjawabannya. Sayangnya, si pria tidak mau dan malah meninggalkan Nay begitu saja. Ia tidak berani menggugurkan bayi itu karena terlalu banyak cerita menyakitkan yang ia lihat di internet. Aku yang sedari dulu ingin membahas masalahnya bersama pun tidak menyadari kalau Nay mulai mengenakan pakaian yang sangat longgar. Ketika ditegur, ia hanya menjawab kalau itu bagian dari tren masa kini. Saat itu aku menjawab sambil bergurau dengannya tanpa memerhatikan lebih jelas perubahan dari tubuh Nay.
Rupanya bayi itu terlahir prematur. Nay tidak tahu karena tidak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter. Hari itu ia merasa perutnya sangat sakit hingga rasanya tak sanggup untuk berdiri, ia pergi ke kamar mandi dan justru terduduk di lantai. Ia mulai mengejan sambil menahan agar tidak berteriak, tiga jam kemudian bayi itu lahir dan Nay membekap mulutnya. Nay tidak berniat membunuh bayi itu hanya saja ia takut orang akan tahu kalau ia melahirkan di dalam kamar mandi. Tetapi ketakutan Nay justru membungkam bayi itu selamanya. Nay menceritakan semuanya padaku sambil terisak lemah, “aku tidak ingin keluargaku tahu Bu, aku tidak ingin membuat mereka malu” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Aku tak kuasa menahan tangis dan memeluk tubuh lemahnya. “Semua akan baik-baik saja Sayang, Ibu ada di sini dan kamu harus kuat. Kamu wanita ceria yang kuat yang pernah Ibu temui” ucapku sambil mengusap kepalanya. Aku memang belum menikah tetapi melihat keadaan Nay, harus kuakui ada sedikit rasa keibuan yang muncul di dalam jiwaku. Melihat keadaan Nay yang mulai membaik aku pun pamit pulang untuk mengganti baju, tetapi baru saja selesai mandi pihak rumah sakit sudah menghubungiku dan mengatakan kalau Nay tidak lagi bertahan di sana.
Aku terduduk lemas di pinggir tempat tidur, “tidak bisakah kamu menunggu aku hingga datang kembali ke sana Nay?” ucapku dalam hati. Ada rasa sakit yang menghujam hatiku berulang kali, aku kembali ke rumah sakit secepat yang kubisa dan menyaksikan Nay yang sudah tidak bernyawa menyusul anaknya. Aku mengusap kepalanya dengan lembut, mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan. Berita itu ramai di kalangan pegawaiku dan restoran baru buka tiga bulan setelah kematian Nay. Banyak kenangan manis yang kami lewati bersama Nayla dan tidak semudah itu untuk kembali ke tempat di mana kenangan itu berdiam, terlebih kepergian Nay sungguh menyisakan tanya di benak banyak orang.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020