Entertainment
·
7 Desember 2020 15:03

Suami Sengaja Menelantarkan Aku dan Ke-4 Anak demi Kekasihnya

Konten ini diproduksi oleh Cinta dan Rahasia
Suami Sengaja Menelantarkan Aku dan Ke-4 Anak demi Kekasihnya (80759)
Dok. Pixabay.com
Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Pernyataan dokter hari itu seolah meruntuhkan duniaku, "kemungkinan kamu mengidap penyakit serius dan harus tinggal sementara untuk menjalankan beberapa tes" ucapnya. Di hari yang sama beberapa suster membawaku dengan kursi roda ke dalam sebuah kamar. Mulanya Peter sangat suportif dan mendukung untuk sembuh dari penyakitku.
ADVERTISEMENT
Satu minggu berlalu tetapi Peter tak lagi datang ke rumah sakit untuk mengunjungiku. "Setidaknya dia di rumah bersama dengan empat anak kami, ia pasti tidak ada waktu untuk ke rumah sakit" pikirku. Aku memutuskan untuk menghubungi ibu mertuaku dan menanyakan keberadaan Peter "aku tidak melihatnya seminggu ini, ia meninggalkan anak-anak padaku" jawab ibu.
Berulang kali aku menghubungi Peter tetapi tak ada jawaban lalu kucoba untuk menelepon kantornya. "Peter sudah keluar sejak satu minggu lalu" sahut salah satu wanita yang bekerja di bagian personalia. Hatiku semakin cemas memikirkan keberadaannya dan aku memutuskan untuk segera pulang tanpa menunggu hasil tesku.
Di rumah aku menemukan ibu mertua dan keempat anakku. Mereka terlihat baik-baik saja lalu aku masuk ke kamar dan tak melihat satu barang pun milik Peter. Aku melihat diriku di cermin dan menyadari apa yang terjadi "ini semua salahku, dulu aku wanita muda yang cantik dan menarik."
ADVERTISEMENT
Sejak menikah Peter menginginkan keluarga yang seutuhnya dan memintaku untuk keluar dari pekerjaan impianku. Peter berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku dan keempat anak kami. Jadi aku memutuskan untuk fokus pada kariernya dan kehamilan keempatku. Namun Peter selalu menemui jalan buntu dalam usahanya dan aku yang berusaha untuk membuatnya kembali ke jalur seharusnya.
"Kita akan bisa melalui ini, aku janji" ucapku menyemangati Peter saat ia menemui kegagalannya untuk kesekian kali. Lima tahun kemudian Peter menemukan keberhasilannya dan aku sangat bahagia. Selama ini jam tidurku sangat berkurang karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Hasil kerja kerasku Peter nikmati hingga mendapat pujian dari banyak orang, termasuk sahabatku.
"Kamu sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat sukses, aku berharap punya suami seperti Peter" puji Nova. Banyak yang melihat kalau aku hanya mengurus rumah dan anak-anak tanpa mereka tahu kalau aku juga mengerjakan semua pekerjaan Peter. Aku kehabisan waktu hingga lupa mengurus diriku sendiri dan kehamilan terakhirku mengambil semua kecantikan serta kekuatanku.
ADVERTISEMENT
Saat kami bertengkar Peter selalu mengatakan "hal yang harus kamu lakukan adalah menjadi cantik! Tapi kamu bahkan tidak bisa menangani hal itu." Aku menatap diriku di cermin dan menyadari kalau aku sudah tidak menggairahkan seperti sebelumnya. Namun hal terpenting yang harus kulakukan adalah harus tetap hidup untuk anak-anakku.
Tiga hari setelah kepulanganku dari rumah sakit, dokter menghubungi dan menyatakan kalau hasil tesku negatif. Ketika ingin merayakan kebebasanku dari penyakit mematikan itu bersama anak-anak, aku justru menemukan kalau rekeningku sudah kosong. Peter mengambil semua uang kami dan pergi begitu saja, ia sengaja membiarkan aku juga anak-anaknya mati kelaparan.
Aku menghubungi Nova untuk meminta bantuan padanya tetapi jawaban yang kuterima justru mengejutkanku. "Maaf aku sedang pergi bersama suamimu, seharusnya kamu bisa menghargai kesuksesannya dengan berpenampilan lebih menarik" jawab Nova. Seketika itu ia mematikan panggilan telepon dan aku tenggelam dalam tangisku. Di saat aku hampir putus asa, ibu mertua datang menghampiriku "carilah pekerjaan dan aku akan mengurus anak-anakmu" ucapnya.
ADVERTISEMENT
Betapa beruntungnya aku setidaknya memiliki ibu mertua yang sangat mengerti dengan kondisiku. Aku mulai bekerja di tiga tempat sekaligus dengan jadwal berbeda. Kuusahakan untuk menabung lebih banyak agar semua kebutuhan anak-anak bisa terpenuhi dengan baik. Tiga tahun setelah kepergian Peter merupakan hari terberat dalam hidupku tetapi secepatnya aku mendapatkan promosi dan berhenti dari kedua pekerjaanku yang lain. Aku mencoba untuk fokus pada satu pekerjaan yang dapat memberiku uang lebih banyak.
Di saat semua keadaan mulai membaik, Peter berdiri di depan rumahku. "Temanmu memang cantik tapi penampilan kamu berubah karena penyakitmu. Kamu harus memaafkanku!" ucapnya. Sejujurnya aku tidak ingin menerima Peter kembali tetapi di satu sisi aku juga tidak ingin menghancurkan hubungan baik antara aku dan ibu mertua, jadi aku memberinya kesempatan kedua.
ADVERTISEMENT
"Oke, aku akan memberi kamu kesempatan kedua" sahutku. Baru tiga hari Peter bersamaku, ia meninggalkan ponselnya tanpa sengaja. Di saat itulah aku mengangkat panggilan telepon dari Nova "Sayang kapan kita akan ketemu lagi?" Tanyanya. Aku segera mematikan panggilan telepon itu dan mulai mencari tahu semua tentang hubungan mereka.
Peter mencuri uang kami dan mengabiskannya untuk berlibur bersama Nova. Belakangan aku baru tahu kalau kembalinya Peter hanya untuk menjual rumah kami. Aku menemukan foto rumah kami sedang di jual di sebuah situs web. Aku menghubungi ibu mertuaku dan menceritakan semuanya "kamu tidak seharusnya menerima dia kembali, aku bersamamu karena kamu benar" jawabnya.
Aku segera mengemas semua barang Peter dan mengusirnya dari rumahku. Hingga saat ini hubunganku dengan mantan ibu mertua masih sangat baik meski Peter dan aku sudah lama berpisah. Aku tidak melarang Peter bertemu dengan keempat anaknya tetapi dia yang menjauhkan diri. Kini aku hidup serba berkecukupan berkat pekerjaan dan juga bantuan mantan ibu mertuaku. Aku hanya bisa berharap semua akan tetap seperti ini hingga nanti.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white