News
·
26 Agustus 2021 20:17
·
waktu baca 2 menit

Pascaricuh, Keraton Kasepuhan Cirebon Tetap Buka Kunjungan bagi Wisatawan

Konten ini diproduksi oleh ciremaitoday
Pascaricuh, Keraton Kasepuhan Cirebon Tetap Buka Kunjungan bagi Wisatawan (42546)
searchPerbesar
Batu berserakan pascabentrok kubu pendukung Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin dan Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali pada Rabu (25/5/2021). Anatasya/CIREMAITODAY
Ciremaitoday.com, Cirebon - Aktivitas wisata di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, tetap normal setelah terjadi kericuhan. Pengelola wisata Keraton Kasepuhan Cirebon tetap membuka kunjungan wisatawan.
ADVERTISEMENT
Pantauan di lapangan, sejumlah polisi masih berjaga di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon. Hanya segelintir wisatawan yang berkunjung.
Direktur Badan Pengelola Keraton Kasepuhan (BPKK) Cirebon Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat mengaku, telah membuka kunjungan wisatawan sejak kemarin. Alexandra mengaku tak ada terganggu dengan adanya konflik.
"Kejadian kemarin kita hanya menjaga saja, karena belum terlalu ramai. Sekarang wisatawan masih terdampak karena PPKM, jadi pengunjung tidak terlalu banyak," kata Alexandra kepada awak media, Kamis (26/8/2021).
Alexandra mengatakan, banyak wisatawan yang telah memesan kunjungan paket wisata saat awal PPKM. "Rata-rata rombongan. Tapi banyak yang dibatalkan karena PPKM diperpanjang," kata Alexandra.
Alexandra berharap PPKM tak lagi diperpanjang. Sehingga aktivitas wisata bisa kembali normal. "Sejak dibuka kemarin hanya beberapa kunjungannya. Mudah-mudahan (kericuhan) tidak terdampak," kata Alexandra.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, polemik dualisme kekuasaan di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, kian panas. Bentrokan hingga saling lempar batu antar kedua pengikut sultan yang berseteru terjadi di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon.
Sebelum terjadi bentrokan hingga aksi saling lempar batu antarpengikut sultan yang bersteru, yakni Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin dan Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali, pada Rabu (25/8/2021).
Perang argumen dan saling dorong terjadi saat Rahardjo Djali melantik perangkat kesultanan versinya. Keluarga dan pengikut dari Sultan Sepuh XV mendatangi acara pelantikan. Sebab, acara pelantikan merasa telah melanggar aturan yang ada.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020