News
·
26 Mei 2021 14:50
·
waktu baca 2 menit

Pekerja Migran Asal Majalengka di Dubai Terancam Hukuman Mati

Konten ini diproduksi oleh ciremaitoday
Pekerja Migran Asal Majalengka di Dubai Terancam Hukuman Mati (286890)
searchPerbesar
Keluarga menunjukkan foto Nenah Arsinah, pekerja migran asal Kabupaten Majalengka yang terancam hukuman mati di Dubai. (Oki Kurniawan)
Ciremaitoday.com, Majalengka - Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Nenah Arsinah (38) terancam hukuman mati setelah dituduh melakukan pembunuhan terhadap rekan kerjanya asal India.
ADVERTISEMENT
Nenah merupakan warga Desa Ranjiwetan, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, yang sudah bekerja di Kota Dubai, Uni Emirat Arab.
Kakak kandung Nenah, Nung Arminah (41) mengungkapkan adiknya berangkat ke Dubai untuk bekerja menjadi asisten rumah tangga di rumah majikannya bernama Ahmed Mohamed Abdelrahman sejak tahun 2011 dan sempat pulang setelah 3 tahun bekerja.
"Usai cuti dan pulang kampung selama 10 hari karena ibu meninggal dunia, Nenah kembali ke Dubai dan bekerja di majikan yang sama," ujar Nung Arminah saat ditemui wartawan di kediamannya pada Rabu (26/5/2021).
Nung mengungkapkan, tidak lama setelah kembali ke Dubai, Nenah terjerat kasus hukum dan dituduh telah membunuh rekan kerjanya yang merupakan seorang sopir.
Kepada Arminah, Nenanh menjelaskan awal dari kasus pembunuhan tersebut ketika dia melihat anak dari majikannya bertengkar dengan korban. Pada keesokan harinya, Nenah dan temannya asal Filipina kemudian menemukan sopir tersebut dalam keadaan meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Namun Nenah kemudian dituding sebagai tersangka kasus pembunuhan dengan cara diracun. "Adik saya dituduh membunuh sopir dengan menaburkan racun pada makanan sopir yang meninggal tersebut," tuturnya
Masih kata Arminah, setelah dituduh Nenah diminta untuk menandatangani surat dalam bahasa Arab dan diimingi akan diberi uang serta dijodohkan dengan tetangga majikannya itu.
Lantaran tidak bisa membaca tulisan Arab, Nenah dan temannya warga Filipina kemudian menandatangani surat tersebut. Namun setelah itu keduanya langsung ditangkap polisi.
"Kemudian adik saya disuruh tanda tangan surat yang isinya tulisan arab, katanya kalau tanda tangan mau dikasih uang banyak, mau dinikahkan sama tetangga disana," Arminah menceritakan.
"Ternyata bohong, dia (majikan) malah panggil polisi dan adik saya dibawa langsung dan disuruh ngaku. Padahal kata adik saya, dia tidak melakukan itu," sambungnya.
ADVERTISEMENT
Masih dikatakan Arminah, adiknya sempat menghubunginya melalui sambungan telepon dan selalu menceritakan setiap kejadian di Dubai, termasuk kasus hukum yang menjeratnya kini.
Bahkan, Nenah mengaku sering mendapat perlakuan kasar oleh petugas di tempatnya ditahan. Nenah diketahui telah dipenjara sejak ditangkap tahun 2014 lalu.
"Dia sering telepon, katanya minta pulang sudah ga kuat. Tiap hari Jumat dia dijemur, dicambuk 100 kali, tangan kakinya diborgol. Dia terakhir kali telepon itu setelah lebaran kemarin, alhamdulillahnya masih bisa komunikasi ke sini," ungkapnya.
Sementara Ketua Komunitas Keluarga Buruh Migrain (KKBM) kabupaten Majalengka, Ida Neni Wahyuni mengaku, belum mengetahui dan masih menelusuri kasus yang menjerat Nenah.
"Masih kita cari tahu, apakah sudah ada yang mengadvokasi atau belum, detail kasusnya seperti apa kita akn coba berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri," kata Ida saat dihubungi melalui pesan singkat.
ADVERTISEMENT