Pencarian populer
USER STORY
19 Januari 2018 18:56 WIB
..
..
Bola & Sports

Claudio Marchisio, Pangeran Kecil Milik Juventus

Dari masa ke masa Juventus tidak pernah kehilangan sosok berkualitas di skuad mereka. Sejak era Giampero Boniperti berlanjut Omar Sivori hingga ke era Roberto Baggio dan Antonio Conte. Nama – nama tersebut selain pilar penting kesuksesan Juventus mereka juga berperan sebagai kapten si Nyonya Tua. Kini, tongkat estafet kepemimpinan Juventus masih berada di tangan kiper veteran, Gianluigi Buffon. Dirinya menjadi kapten selepas kepergian legenda terbesar Juventus, Alessandro Delpiero pada musim 2012. Buffon yang tak lagi muda sudah mulai menghitung hari menuju masa pensiun, namun pendukung Juventus tidak perlu khawatir tentang siapa yang akan menjadi pemimpin tim Juventus di masa mendatang, karena mereka masih memiliki Claudio Marchisio.

Claudio Marchisio memang sosok yang spesial. Dirinya adalah definisi terbaik dari Juventini sejati. Berbeda dengan Alessandro Delpiero dan Gianluigi Buffon, Claudio Marchisio memulai karir sepakbolanya bersama Juventus sejak umur 7 tahun. Lahir di Kota Turin, Marchisio tumbuh besar dengan mencintai seragam putih-hitam milik Il Bianconeri. Kini, gelandang bernomor punggung 8 tidak lagi sekedar pemain Juventus, dirinya adalah ikon klub. Wajah Juventus di dalam maupun di luar lapangan. Namanya sudah disejajarkan dengan ikon klub – klub Serie – A lainnya seperti Antonio Di Natale milik Udinese, Angelo Palombo di Sampdoria, Fransesco Totti dan Daniele De Rossi di AS Roma.

Nama terakhir memang memiliki banyak kesamaan dengan Marchisio. Keduanya telah sejak lama disebut kapten masa depan bagi Juventus dan AS Roma. Namun baik De Rossi dan Marchisio harus menunggu cukup lama hingga para senior mereka tak lagi bermain. Musim ini adalah kali pertama De Rossi menjadi kapten AS Roma setelah Fransesco Totti memutuskan untuk pensiun di akhir musim lalu. Berbeda dengan De Rossi, Claudio Marchisio masih harus betah dengan jabatan Futuro Capitano karena harus menunggu Gianluigi Buffon dan Giorgio Chiellini pensiun. Kelak jika Marchisio akhirnya menjadi kapten Juventus dirinya mungkin tak lagi waktu yang cukup banyak karena telah memasuki usia kepala 3.

Perjalanan karir Sang Pangeran Kecil

Kasus pengaturan skor yang terkuak pada 12 tahun yang lalu menjadi aib terbesar Juventus yang sampai hari ini menjadi bahan olokan oleh suporter tim lain. Skandal tersebut membuat banyak pilar penting lini tengah Juventus seperti Emerson dan Patrick Vieira memilih pergi dari Kota Turin. Kondisi tersebut membuat pelatih Juventus saat itu, Didier Deschamps mempromosikan beberapa pemain muda ke tim senior. Salah satu pemain muda itu adalah Claudio Marchisio yang berhasil debut kala bersua Frosinone pada 28 Oktober 2006. Setelah berhasil membawa Juventus kembali ke Serie – A satu musim berselang, Juventus memilih menyekolahkan Marchisio ke Empoli selama satu musim penuh. Empoli pula lah satu – satu klub tempat Marchisio bermain selain Juventus di sepanjang karirnya.

Segalanya berjalan begitu baik bagi Juventus dan Marchisio semenjak kedatangan mantan pemain si Nyonya Tua, Antonio Conte untuk mengisi pos pelatih. Kehadiran Conte pun membuat Marchisio bertumbuh menjadi salah satu gelandang terbaik Italia bahkan dunia. Kombinasinya bersama Andrea Pirlo dan Arturo Vidal membuat Juventus saat itu meraih gelar juara tanpa pernah merasakan kekalahan. Kedatangan wonderkid, Paul Pogba semakin melengkapi lini tengah Juventus saat itu.

Sebagai pemain sepakbola, Marchisio memang tidak memiliki umpan seakurat Andrea Pirlo atau fisik dan determinasi sehebat Arturo Vidal. Namun kehadiran Marchisio di lapangan adalah jaminan lancarnya progesi permainan si Nyonya Tua. Permainannya sederhana, responnya cepat terhadap bola, dirinya jaminan atas baiknya kohevitas lini tengah si Nyonya Tua. Kemampuan terbaik Marchisio adalah membuat para gelandang yang bermain bersamanya mencapai potensi terbaik mereka.

Karir yang semakin menanjak membuat Marchisio kebanjiran tawaran bermain dari tim – tim besar Eropa. Sebut saja Manchester Uniterd, Liverpool, Chelsea sempat mencoba membawa keluar Marchisio dari Juventus Stadium beberapa musim silam. Namun tidak ada tawaran yang berhasil membuat Marchisio berganti seragam, dirinya sampai hari ini tetap setia untuk menjadi penjaga si Nyonya Tua.

Cedera yang mulai menggerogoti

Mundur kembali ke bulan April 2016. Kala itu Juventus sedang menghadapi Palermo pada giornata ke 33 Serie – A musim 2015/2016. Pada menit 16, Claudio Marchisio tersungkur setelah berusaha merebut bola dari Franco Vazquez. Berselang satu hari tim Juventus menyatakan Marchisio harus absen hingga akhir musim karena cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL). Akibat cedera tersebut pemain asli binaan Juventus pun harus rela tidak berpartisipasi di gelaran Piala Eropa 2016. Total Marchisio harus absen selama 178 hari dan melewatkan 15 pertandingan Juventus.

Cedera tersebut adalah catatan terburuk di sepanjang karir sepakbola Marchisio. Menit bermainnya pun semakin berkurang akibat semakin ringkihnya fisik Marchisio. Bahkan di musim ini Marchisio sudah naik meja perawatan akibat cedera lutut yang Ia derita di awal musim hingga pertengahan bulan Oktober. Pemain yang sudah mengoleksi 6 scudetto ini sudah melewatkan 10 pertandingan bersama skuad Juventus sepanjang musim ini. Kemenangan atas Torino pada perempatfinal Coppa Italia pun harus memakan korban setelah Marchisio dikonfirmasi kembali mengalami masalah dengan kakinya. Meski semakin akrab dengan cedera, Marchisio selalu bermain dengan kemampuan terbaiknya ketika diberi kesempatan bermain oleh Massimiliano Allegri. Kehadirannya memang akan selalu dirindukan baik oleh para pemain maupun oleh para suporter. Bermainnya sang gelandang selalu memberikan semangat dan kepercayaan diri yang berlipat bagi para pemain lain.

Selalu ada tempat spesial di hati para Juventini untuk Claudio Marchisio. Loyalitas dan kualitas telah membuat dirinya dicintai oleh para loyalis setia Juventus.

"Dia penting bagi tim dan fans," Maurizio, pemegang tiket musiman di Stadion Juventus, ketika diwawancarai oleh Bleacher Report.

"Seperti kita, Marchisio berasal dari Turin Dia dibuat hitam dan putih. Dia adalah salah satu dari kita. “Anda tahu kapan Anda pergi dengan sekelompok teman dan seseorang yang benar – benar ingin menghabiskan waktu bersama anda tidak datang? Kami merasa saat dia (Marchisio) tidak bermain." Tutup Maurizio.

Seperti itulah Marchisio, dirinya dicintai oleh klub dan juga para suporter. Itulah mengapa Marchisio akan terus berusaha untuk memberikan kemenangan demi kemenangan untuk Juventus meski tidak akan selalu bermain di tengah lapangan. Marchisio akan menjadi Pangeran bagi skuad Juventus hingga nanti ketika dia memilih untuk mundur dan menyerahkan Juventus kepada generasi selanjutnya.

Buon compleanno, Il Principo!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: