kumparan
1 Des 2018 15:34 WIB

Memahami Aktivitas Seismik Tak Lazim di Mayotte sebagai Gempa Swarm

Ilustrasi Gempa Bumi (Foto: Shutterstock)
Adanya pemberitaan terkini di media dalam dan luar negeri terkait aktivitas seismik tak lazim di lepas pantai Mayotte, barat laut Madagaskar sangat menarik untuk dicermati.
ADVERTISEMENT
Aktivitas seismik tersebut sudah terdeteksi oleh jaringan sensor gempa BMKG sejak lama dan dapat diidentifikasi dengan baik. Berdasarkan tipe gempanya aktivitas seismik di Mayotte merupakan fenomena swarm.
Swarm adalah serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo relatif kecil dengan frekuensi kejadiannya sangat tinggi dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama di wilayah sangat lokal.
Fenomena swarm di Indonesia sudah terjadi beberapa kali, seperti aktivitas swarm di Klangon Madiun (Juni 2015), Jailolo Halmahera barat (Desember 2015), dan Mamasa Sulawesi Barat (November 2018).
Aktivitas seismik di Mayotte sudah teramati oleh BMKG sejak 13 Mei 2018. Hasil monitoring BMKG hingga 30 November 2018 sudah tercatat aktivitas swarm di Mayotte sebanyak 34 kejadian dengan magnitudo terbesar 5,4 magnitudo pada 15 Mei 2018.
ADVERTISEMENT
Aktivitas swarm dengan jumlah yang jauh lebih banyak, dengan magnitudo lebih kecil, tercatat di stasiun seismik dekat Mayotte, seperti jaringan seismik Madagaskar dan Mozambik, Afrika Timur.
Terkait penyebab aktivitas swarm, tentu ada kaitan secara geologis dan tektonik di Cekungan Comoros, di mana di zona ini terdapat empat pulau vulkanik seperti Grande Comore, Mohéli, Anjouan and Mayotte. Mayotte sendiri merupakan pulau vulkanik paling tua.
Apa yang terjadi di Mayotte berupa rangkaian aktivitas gempa kecil yang berlangsung selama berbulan bulan adalah fenomena swarm terkait letaknya di zona hot spot aktif dan berdekatan zona deformasi pemekaran Afrika Timur (the East African rift).
Sebagai kawasan gunung api, wajar jika terjadi fenomena swarm yang diperkirakan akibat aktivitas magmatik.
ADVERTISEMENT
Catatan seismik BMKG dalam swarm Mayotte memang unik. Gelombang seismik menunjukkan tidak ada kejelasan fasa gelombang P dan S yang mengindikasikan bahwa aktivitas gempa yang terjadi tidak disebabkan mekanisme pensesaran.
Mayotte sebenarnya terletak di zona kegempaan rendah (low seismicity). Namun demikian, pernah ada catatan aktivitas gempa signifikan pada masa lalu.
Menurut Lembaga Survei Geologi Perancis BRGM, pada 1 Desember 1993 pernah terjadi gempa signifikan 5,2 magnitudo yang merusak beberapa bangunan.
Ini merupakan gempa paling kuat yang pernah terjadi di Kepulaun Comoran dalam 60 tahun terakhir.
Bagi seismologist sebenarnya aktivitas swarm yang terjadi di Mayotte saat ini merupakan hal menarik dan sangat penting untuk dikaji lebih mendalam untuk pengembangan ilmu kebumian dan mitigasi bencana.
ADVERTISEMENT
Jakarta, 30 November 2018 Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr. DARYONO, M.Si.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·