Tekno & Sains
·
24 September 2021 15:53
·
waktu baca 11 menit

Menghijaukan Teologi Pembebasan

Konten ini diproduksi oleh David Efendi
Tulisan ini mendiskusikan teologi dan ekologi dalam kerangka pembebasan (liberasi) terhadap problem aktual kemanusiaan dan lingkungan hidup pada dua dekade terakhir ini. Kemunculan ekologi pembebasan dilatari oleh kegagalan pembangunan (Peet & Watts, 1996) dalam bukunya liberation ecologies, maka teologi pembebasan juga muncul akibat kegagalan kaum agamawan menyelesaikan persoalan akut dari kemiskinan di dunia. Teologi pembebasan ramai dibincang tahun 1970-an dari Gustavo Guiteress yang menerbitkan buku teologi pembebasan tahun 1973 sedangkan terminologi dan wacana ekologi pembebasan (liberation ecologies) mengikutinya lebih dari satu dekade setelahnya yaitu tahun 1996. Belum lama ini, ekologi pembebasan didekati dalam sudut pandang teologi Islam sehingga dapat disebut sebagai gerakan menghijaukan teologi pembebasan.
ADVERTISEMENT
Sebagai refleksi sejarah, pada dekade itu terdapat kebuntuan teologi katolik yang menjadikan kemiskinan dan ketertindasan sebagai fenomena di luar urusan keyakinan keagamaan. Teologi pembebasan kemudian menjadi jalan keluar yang sangat radikal untuk membangun hubungan antara agama dan persoalan kemanusiaan secara global. Gelombang teologi pembebasan ini bergerak sampai jauh tersebar di berbagai belahan bumi tidak terkecuali di Indonesia melalui pemikiran di kalangan penggerak organisasi sosial keagamaan. Sebagai konsekuensinya, perlakuan atas problem kemiskinan menjadi lebih kritis dan lebih struktural.
Di Muhammadiyah secara praktis sebenarnya telah memberlakukan teologi pembebasan sejak kepemimpinan Kiai Dahlan di dalam menggerakkan pemikiran dan kesadaran teologisnya dalam praktis sosial yang dikenal dengan teologi Al-Maun atau teologi mustadafin. Teologi ini bekerja sangat efektif memperkuat upaya sistematis membela kepentingan kelompok marjinal: fakir miskin, anak jalanan, anak yatim, dan sebagainya.
Menghijaukan Teologi Pembebasan (228072)
searchPerbesar
Menjelang deklarasi Kader Hijau, sumber: Dokumen kader Hijau Muhammadiyah
Pada tahun 1990-an Muhammadiyah bekerja mengarusutamakan apa yang kemudian dikenal sebagai teologi Al-Maun sebagai bentuk lain dari teologi pembebasan di lingkungan Muhammadiyah. Setelah lebih dari seratus tahun, gerakan Muhammadiyah kemudian merespon persoalan lingkungan hidup sebagai problem yang juga dapat dilegitimasi dari kesadaran teologis yaitu al Maun dan teologi rahmatan lil alamiin. Karenanya, di Muhammadiyah mendorong pemahaman isu lingkungan secara sistematis dalam produk organisasi seperti teologi lingkungan, akhlak lingkungan, fikih kebencanaan, fikih agraria, Fikih air, dan juga etika lingkungan yang ada dalam pedoman kehidupan islami warga Muhammadiyah (PHIWM). Di dalam PHIWM bukan hanya seruan membangun stewardship manusia dan alam tetapi juga seruan mencegah dan mengadvokasi lingkungan dari kebijakan yang tidak benar atau karena absennya kebijakan publik untuk perlindungan lingkungan.
ADVERTISEMENT
Kesadaran ini sangat tepat dilabeli sebagai kesadaran teologi hijau untuk mengupayakan pembebasan lingkungan dari segala mara bahaya yang dapat meruntuhkan kehidupan misalnya kerusakan hutan dan lingkungan dapat memunculkan kemiskinan baru yang lebih berbahaya. Inilah sejatinya substansi dari gerakan menghijaukan teologi pembebasan itu.
Di Indonesia sedang terjadi keruntuhan ekologis atau ekosida justru pada saat yang bersamaan di belahan dunia lain sedang menuju era ekologi menjadi "panglima yaitu dengan menguatnya agenda sustainable development, green economy, dan degrowth. Banyak negara maju sejak 1990-an telah mengupayakan dan memproteksi kesadaran satu bumi (One Earth) ini dari kerusakan dan kehancuran akibat gerak antropogenik yang menyebabkan ragam masalah pemanasan global dan juga disebabkan oleh praktik produksi dari energi kotor (tidak dapat diperbaharui).
ADVERTISEMENT
Nampaknya diperlukan afirmasi secara global akan posisi kelompok rentan sebagai kelompok terbesar yang paling menderita saat terjadi krisis lingkungan hidup. Namun, negara-negara berkembang masih jatuh pada paradigma eksploitatif di dalam pembangunan yang menghadirkan ragam kutukan sumber daya yang maha mengerikan. Kekayaan sumber daya yang salah dikelola ternyata telah mengirim petaka yang berkepanjangan bagi masyarakat secara berkepanjangan. Selain menderita kemiskinan, mereka akan sulit bertahan hidup jika pola pola pembangunan yang dilakukan negara itu mengancam ekosistem tempat tumpuan hidup mereka.
Tangisan bumi adalah jeritan orang-orang miskin. Begitu pesan inti dari Leonardo Boff dalam bukunya Cry of the Earth, Cry of The poor yang terbit tahun 1997 silam. Karenanya, teologi pembebasan dan ekologi pembebasan tak dapat dipisahkan. Jika mau membebaskan orang miskin, harus cegah kehancuran lingkungan hidup. Di sini terlihat teologi kristiani semakin hijau.
ADVERTISEMENT
Banyak ahli mensinyalir bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan punya banyak arti apabila lingkungan hidup mengalami kehancuran. Sebagai contoh, wabah zoonosis covid-19 yang disebabkan rusaknya habitat alami virus di Hutan sehingga pandemi ini juga terhubung kuat dengan kesadaran ekologi yang terus menerus menguat di satu sisi dan juga ada pelemahan di sisi lainnya.
Secara defacto, teologi pembebasan di Muhammadiyah barangkali lebih tua usianya dibandingkan dengan gagasan teologi pembebasan Guiteress jika gerakan Muhammadiyah dimaknai sebagai gerakan kesadaran teologi dan tauhid sosial dalam visi Muhammadiyah sejak awal mula kelahirannya. Dalam kontek pembebasan ekologi, Muhammadiyah memang baru melibatkan diri pada tahun 2000an sebagai kesadaran keagamaan melihat kerusakan alam yang dibuktikan dengan pendirian lembaga khusus yang menangani isu lingkungan hidup.
ADVERTISEMENT
Di belahan bumi lain, tiga tahun sebelum Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Laudato Si’ (2015), satu ensiklik bercorak ajaran sosial Gereja Katolik dalam fokus ekologi, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah menyampaikan Pesan Pastoral Sidang KWI Tahun 2012 tentang Ekopastoral. Dengan pesan itu Gereja ingin terlibat dalam usaha bersama melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan. Inilah perspektif penting dalam rangka menciptakan ruang keberpihakan teologis di zaman ekologi bergerak.
Prinsipnya, siapa pun yang berkomitmen untuk menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup layak disebut pahlawan pada era ekologi justru karena kita sedang berperang melawan krisis ekologi yang tidak kunjung berakhir, bahkan kian mengalami akselerasi. Agar mulia di hadapan tuhan pemilik alam semesta, manusia harus melakukan pertobatan ekologis untuk mengakui dosa dan menebusnya dengan perbuatan pro terhadap kelestarian lingkungan.
ADVERTISEMENT
Dalam film Semes7a yang tayang sebelum wabah Corona di Indonesia ada pendeta yang sangat radikal menyampaikan pikirannya senada dengan Paus Fansiskus yang meminta pertobatan ekologis—meninggalkan dosa keserakahan, ketidakadilan, dan sikap egois demi kepentingan sendiri dan kelompok dengan jalan memperkuat upaya mengembangkan keramahan dan kepedulian pada planet bumi demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.
Selain itu seruan Julius Kardinal Darmaatmadja pada tanggal 26 November 2019 sangat luar biasa. Bunyi dari penggalan kutbah itu demikian:

“Mari kita menjadi pahlawan lingkungan hidup, meski mungkin hanya dengan cara sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, memelihara tanaman di pot-pot, mengurangi penggunaan plastik dan hal-hal lainnya yang dapat kita usahakan dalam rangka menjaga bumi, rumah kita bersama.”

ADVERTISEMENT
Di Muhammadiyah, kesadaran serupa juga terus tumbuh baik dari tokoh-tokoh pentingnya maupun di kalangan penggerak kultural yang menyuarakan persoalan lingkungan ini. Din Syamsuddin, melalui beragam forum dan aliansi global lintas iman untuk mempopulerkan kesadaran agama bagi isu-isu pemanasan global dan perubahan iklim khususnya di Muhammadiyah yang ditunjukkan dengan pelembagaan gerakan ekologi dalam bentuk majelis lingkungan hidup.
Din Syamsuddin juga yang banyak mengarusutamakan dialog antar peradaban dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim global. Din Syamsuddin telah memperkuat gerakan eksternal melalui praktik jihad konstitusi yang bernuansa ekologis pada saat itu yang diperkarakan dalam judicial review adalah Undang Undang Sumber Daya Air yang merupakan barang publik. Untuk internal Muhammadiyah, Muhammadiyah memperkuat pelembagaan majelis lingkungan hidup. Hal senada juga dilakukan di ormas lainnya, seperti di Persis, NU, dan di dalam MUI.
ADVERTISEMENT
Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir juga banyak menyampaikan pembelaan yang serius dan jernih bagi tata kelola lingkungan hidup yang lebih adil dan juga lebih berparadigma ekologis. Menurutnya manusia dan alam perlu membangun jarak agar gerak antropogenik tak merusak keseimbangan alam. Pada suatu kesempatan beliau menuturkan: “Jangan sampai segolongan kecil orang menguasai hajat hidup rakyat dan kekuatan sumber daya alam kita hanya untuk kepentingan mereka” (Haedar Nashir, 2018).

Kader Hijau Muhammadiyah

Kini kita juga harus mengapresiasi munculnya kanal-kanal ekologis dari rahim organisasi islam seperti Muhammadiyah baik dalam ortom, majelis, kokam, kader hijau Muhammadiyah, dan komunitas-komunitas prakarsa individu warga Muhammadiyah. Jika di NU ada FNKSDA untuk jalan non struktural gerakan keadilan ekologis di ekosistem Muhammadiyah terdapat Kader Hijau Muhammadiyah sebagai sayap gerakan lingkungan yang inklusif dan berkarakter grassroot. Aktivitasnya ada di berbagai lini baik di sungai, di hutan, di kota-kota, di kebun, di laut, dan banyak lagi ragamnya. Karakter gerakan lingkungan dalam organisasi Islam nampak masih dominan pendidikan dan literasi sementara aspek advokasinya sedang dicari format yang tepat karena terdapat ranah politik yang musti dijaga harmoninya.
ADVERTISEMENT
Nampaknya kesadaran islam environmentalis sedang tumbuh sangat subur di Indonesia sebagaimana kesadaran itu tumbuh di Muhammadiyah, MUI, NU, Persis, LDII dan lain-lain. Mereka saling berkolaborasi semua sedang membangun satu orkestra peradaban: taawun kepada bumi dan langit sebagai manifesto keislaman dan keimanan kita yang sering kita klaim sebagai wajah Islam rahmatan lil alamin. Pertanyaannya kemudian adalah tentang seberapa radikal/militan komunitas ini mempraktikkan tata kelola hidup yang ramah lingkungan, bagaimana strategi advokasinya, dan bagaimana usaha melipatgandakan dakwah amar maruf nahi munkar di bidang ekologi ini.
Menurut Haedar Nashir, fokus Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan adalah menyelamatkan lingkungan hidup, pembangunan tanpa merusak sesuai dengan spirit dan nilai-nilai Islami. Manusia diutus menjadi khalifah agar memakmurkan alam, namun yang terjadi justru sebaliknya yaitu penistaan terhadap alam. Hal ini menjadi perhatian khusus Muhammadiyah. Senada dengan ketua Umum Muhammadiyah, Busyro Muqodas mendorong agar tata kelola sumber daya alam di negeri ini tidak digadaikan dan diserahkan kepada gerombolan tirani oligarki. Pembangunan yang sedang dipraktikkan memang makin kentara problemnya yaitu makin berjaraknya aktifis ekonomi industri dan perdagangan dari hak alam dan hak manusia generasi mendatang. Inilah problem paradigmatik pembangunan kapitalistik yang bermitoskan tricle down effect yang makin jauh panggang dari api.
ADVERTISEMENT
Radikalisasi pembebasan ekologi atau ekologi pembebasan ini punya masa depan yang serius di kalangan Muhammadiyah. Walau tantangan memang menjadi semakin berat berhadapan dengan rezim esktraktif yang represif hari ini. Bukan hanya itu, tantangan dari dalam juga semakin menguat akibat system ekonomi pasar kapitalistik yang menjebak beragam entitas untuk jatuh pada pemahaman bahwa ekspoitasi alam sebagai normalitas dan korban-korban akibat salah kelola sumber daya alam sebagai eksternalitas yang ditoleransi dan dinormalisasi. Ini tantangan bagi banyak umat beragama di negeri ini, bukan hanya warga Muhammadiyah. Ekonomi ekstraktif yang dijalankan oleh oligarki pemalas cenderung mencari jalan pintas untuk melipatgandakan profitnya. Jalan gampang dan lempeng adalah ekonomi yang mengandalkan ekstraksi perut bumi.
Saya sangat terharu dan bangga untuk kesadaran kaum muda. Pekan lalu saya juga mendapat kiriman pesan melalui WhatsApp dari mahasiswa saya di NTT, ia adalah alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang merasa marah dan prihatin atas sikap sebagian masyarakat yang dengan begitu cepatnya memberikan dukungan kepada beroperasinya pabrik semen di Luwuk, Manggarai Timur, NTT. Menurutnya masyarakat belum mendapatkan informasi yang memadai dan belum mengerti persis dampak di masa depan dari kegiatan ekstraktif karena juga absennya kajian partisipatif yang melibatkan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Saya kira ini jelas tantangan dan bisa menjadi konten politis—pengusaha akan mencari legitimasi dari organisasi keislaman untuk melancarkan usaha ekonomi dengan daya merusak bumi. Bagi saya, ini tantangan aktual bagi kesadaran ekologi pembebasan yang sedang mekar di organisasi Islam termasuk Muhammadiyah. Tantangan dari dalam sekaligus dari interaksi rezim pasar kapitalistik. Apakah kita akan bersungguh membangun iman kita lebih hijau? Lebih membela lingkungan ketimbang membela pemodal-kapiatalistik?
Fenomena "haji batubara" atau "haji tambang adalah tuntutan agar islam membangun refleksi secara menyeluruh untuk membebaskan derita lingkungan yang berujung pada kemiskinan, ketimpangan, dan dampak ekologis berkepanjangan. Banjir di Kalimantan tidak hanya bisa diselesaikan dengan teknik pemadam kebakaran dan emergency response tetapi masalah di hulu juga wajib dibereskan: deforestasi, penambangan tanpa kenal ampun dan tak anggap penting kelestarian alam. Praktik ekstraktif haruslah dicegah dengan mendorong identitas dan spiritualitas Islam sebagai karakter rahmatan lil alamin yaitu Islam yang tidak menoler praktik buruk dalam eksploitasi sumber daya alam.
Menghijaukan Teologi Pembebasan (228073)
searchPerbesar
Ilustrasi hutan dan penanaman pohon. Foto: KLHK
Tidak ada istilah terlalu kecil untuk berbuat kebaikan dan perubahan untuk tata kelola bumi yang lebih baik. Kita semua sedang mencari cara membela lingkungan dengan beragam cara termasuk dengan jalan teologis. Saya juga sedang membela bahwa Muhammadiyah punya dimensi gerakan pembelaan terhadap lingkungan hidup sebagai praktik teologi pasca 100 tahun sebagai kesadaran autentik akan tanggungjawab ekologi bagi kaum beriman. Walaupun ekologi pembebasan sudah disadari di dalam pemikiran Islam misalnya, dalam kerangka ayat-ayat semesta dan al-maun hijau namun hal tersebut belum cukup untuk mengatakan sebuah itikad baik akan hadinya teologi hijau dapat secara radikal memberi dampak perubahan atau setidaknya mencegah kerusakan ekosistem bumi secara signifikan.
ADVERTISEMENT
Kekuatan teologis dipercaya akan memberikan napas baru bagi gerakan lingkungan sehingga agenda mendesak menghijaukan teologi merupakan sebuah harapan. Harapan akan kehidupan yang lestari dan berkeadilan sosial bukan hanya skala lokal-nasional akan tetapi secara global-universal.
Walau demikian, kaum agamawan tidak boleh pesimis di tengah bumi yang terbakar oleh global warming. Di dalam Islam tidak dibenarkan putus asa bahkan terdapat ajaran jika besok akan kiamat dan di tangan kita ada biji tanaman kita diminta untuk menanamnya. Insyallah Tuhan bersama hamba-hamba yang selalu membela kelestarian bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya. Kita mestinya bersepakat ketika membela bumi artinya kita menegosiasikan ambisi hasrat kesejahteraan dengan tata kelola hidup lestari (Fritjof Capra, 2003) dan yakin another world is possible yaitu bahwa tata kelola bumi yang dirawat bersama adalah pilihan sadar kita.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020