• 3

Sepak Terjang Ika sang Penjaga Narapidana

Sepak Terjang Ika sang Penjaga Narapidana



Kepala Rutan Pondok Bambu, Ika Yusanti

Kepala Rutan Pondok Bambu, Ika Yusanti (Foto: Resnu Andika)
Jangan “tertipu” dengan wajah teduh Ika Yusanti. Ia lulusan magister psikologi kriminal Universitas Indonesia yang menjabat sebagai Kepala Rumah Tahanan Klas IIA Pondok Bambu Jakarta Timur.
Senyum hangat menghiasi bibir Ika kala tim kumparan menyambangi ruangan kerjanya, Rabu (14/12). Rutan Pondok Bambu bukan kantor pertama Ika. Sebelumnya, ia telah berdinas sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjar Jawa Barat.
Total sudah 20 tahun lebih Ika mengabdikan hidup untuk menjaga penjara, baik sebagai kepala lapas, Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, atau Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Cipinang.
“Saat tamat SMA, cita-cita saya cuma satu: mau sekolah tapi yang gratis supaya meringankan ibu saya,” kata Ika.
“Gratis” itulah kata kunci yang membawa Ika menjejakkan kaki di penjara. Ketika kawan-kawannya sibuk mencari universitas sebagai tempat kuliah, Ika memilih sekolah-sekolah dengan ikatan dinas yang langsung menjanjikan pekerjaan begitu ia lulus.
“Saya daftar STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), termasuk AKIP (Akademi Ilmu Pemasyarakatan),” ujar Ika.
Lulusan STAN biasanya bekerja di Kementerian Keuangan, STIS di Badan Pusat Statistik, dan AKIP di lembaga pemasyarakatan.
“Dari semua sekolah itu, saya diterima di AKIP,” kata Ika.
Semula, ia tak tahu soal AKIP. Ika baru tahu AKIP dari kakaknya. Sang kakak berkata, lulusan AKIP akan bekerja di penjara. Ika tersentak, namun tertarik.
Ia saat itu berada di persimpangan jalan. Ika telah diterima bekerja di BCA. Dia juga lolos tes sebagai pramugari Merpati Nusantara Airlines. Akhirnya Ika melepas semua itu, menuruti hati kecilnya, demi bersekolah lagi.
“Tahun depannya, saya masuk AKIP,” ujar Ika, tersenyum mengenang masa lalunya.
Ika mengambil studi di AKIP selama tiga tahun. Pilihannya didukung sang ibu. Dari ibunya pula, Ika memperoleh inspirasi. Ibu Ika ialah single parent dalam membesarkan dia dan kakaknya. Sosoknya, di mana Ika, begitu tangguh. “Dia dituntut untuk bisa mencari nafkah, tapi juga mendidik anak-anaknya. Dengan ketegasan dan kelembutan hatinya, dengan doa-doanya, saya bisa menjadi seperti ini,” kata Ika.
“Ke manapun saya pergi, ibu saya selalu ikut dengan iringan doanya. Kalau saya sukses sampai sekarang, itu karena ibu. Ibu itu jimat. Kalau kita punya masalah, enggak usah ke dukun. Cukup datang ke ibu, cium tangan dan minta doa,” ujarnya.
Ika bercerita tentang ibunya dengan penuh haru. Matanya berkaca-kaca.
Ika yakin AKIP adalah suratan takdirnya. Ia menikmati pekerjaannya. Bersyukur bisa menjadi “ibu” bagi ratusan pesakitan di rutan dan lapas.
Perempuan jadi korban
Tahanan perempuan terutama menjadi perhatian Ika. Kini ia menangani 956 tahanan dan narapidana perempuan di Rutan Pondok Bambu. Jumlah itu jauh lebih banyak dari daya tampung rutan yang mestinya hanya dihuni 619 orang. Rutan Pondok Bambu kelebihan kapasitas 56 persen.
Ika mengatakan, rata-rata penghuni rutan dan lapas perempuan adalah korban. “Contohnya pada kasus narkoba. Mereka jarang menjadi pelaku kejahatan tunggal, pasti bersama-sama. Misalnya suaminya yang berjualan. Tapi ketika barang bukti ada di rumah, suami-istri pasti ‘kebawa.’ Istri mau enggak mau jadi pelaku tindak pidana.”
Dampaknya, ibu terpisah dari anak-anaknya.
“Ada anak yang harus kita pikirkan saat ibunya ditahan. Anak harus mendapat pendidikan intelektual dan budi pekerti. Sebaik-baiknya pendidikan adalah ibu. Ibu tidak boleh dijauhkan dari anaknya,” kata Ika.
Jadi, ujar Ika, para tahanan perempuan harus diberi kesempatan untuk menerima kunjungan anak di dalam rutan. Maka Ika menambah waktu kunjungan khusus bagi anak.
“Seminggu dua kali, hari Senin dan Kamis jam 15.30-17.00. Ada juga kunjungan khusus untuk anak yang sudah lebih dewasa, sebulan sekali pada pekan terakhir, setiap hari jam 9.30-11.00. Anak 0-8 tahun didampingi oleh walinya, di atas 8 tahun masuk sendiri,” kata Ika.
Sementara untuk anak bawaan narapidana perempuan, yakni anak yang lahir di rutan, disediakan ruang bermain sebagai tempat anak berlatih berdiri, merangkak, dan berjalan. Fasilitas itu ditempatkan di depan sel ibu dan anak.
Selain ruang bermain, nutrisi dan vaksin diberikan berkala kepada anak binaan. Puskesmas Pondok Bambu datang rutin untuk mengimunisasi mereka.

Pojok Bermain di Rutan Pondok Bambu

Pojok bermain untuk anak-anak warga binaan di Rutan Pondok Bambu (Foto: Dok. Istimewa)
Menurut Ika, perbedaan kebutuhan narapidana perempuan dan laki-laki belum menjadi perhatian negara. Ini terlihat dari perbedaan anggaran antara lapas pria dan perempuan. Data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham tahun 2016 menunjukkan, pagu belanja pegawai Rutan Pondok Bambu “hanya” Rp 10,9 miliar, lebih rendak dibanding Lapas Cipinang sebesar Rp 18,7 miliar.
Padahal, ujar Ika, perempuan punya kesehatan mental rentan, cepat tersinggung, dan memiliki siklus bulanan rutin. Oleh sebab itu kebutuhan pembalut narapidana perempuan mestinya diperhatikan. Kamar mandi di lapas perempuan pun seharusnya berdinding lebih tinggi dari kamar mandi di lapas laki-laki.
Meski begitu, kehidupan di balik tembok penjara tak selalu dingin mencekam. Tak jarang kehangatan menyelimuti. Para penghuninya kerap saling tolong.
Ika bercerita tentang seorang narapidana Rutan Pondok Bambu yang mengidap kista stadium lanjut dan dirawat di Rumah Sakit Persahabatan. Napi itu tak dipedulikan oleh keluarganya. Ia pun tak punya BPJS.
Namun Tuhan selalu mendengar rintihan hati hamba-Nya di balik kerasnya dinding dan dinginnya lantai sel. Keajaiban datang. Biaya pengobatan narapidana perempuan yang tak murah itu ditanggung penuh oleh Menteri Kesehatan.

Kepala Rutan Pondok Bambu, Ika Yusanti

"Ibu" warga binaan Rutan Pondok Bambu, Jakarta (Foto: Resnu Andika/kumparan)
Jika memiliki dana besar, Ika ingin memberikan bekal keterampilan kepada para narapidana perempuan yang ia bina.
“Kalau punya keahlian yang bisa dia jadikan modal berwirausaha, tak perlu lagi perempuan kesulitan untuk mencari rezeki atau nafkah bagi anak-anaknya dan bergantung pada suami. Tak lagi melakukan tindak pidana yang melanggar hukum,” kata Ika.
Mendengar ucapan Ika, sepintas benak melayang pada The Shawshank Redemption. Film Amerika itu bercerita tentang narapidana yang dipenjara puluhan tahun. Setelah bebas, status mantan tahanan membuat mereka ditolak secara sosial dan sulit mendapat pekerjaan.
Ika berharap, para narapidana binaannya dapat melanjutkan hidup dengan baik selepas dari penjara. Kuncinya: memiliki keterampilan agar bisa mandiri.
Perempuan 45 tahun itu berpendapat, tiap orang harus mandiri, termasuk Ika sendiri.
“Saat saya menikah dan punya anak, saya sudah tanamkan bahwa pekerjaan menuntut waktu lebih. Jadi anak saya sejak kecil sudah terbiasa hidup mandiri,” ucap Ika.
Banyak hal yang Ika pelajari selama 20 tahun lebih berinteraksi dengan para penghuni penjara. Semua itu berujung pada rasa syukur di hatinya.

InspirasiTokohRutan Pondok BambuLapas Hari Ibu

500

Baca Lainnya