Entertainment
·
26 September 2020 17:44

Viral-nya Marketing Gerilya Film ‘The Blair Witch Project (1999)’

Konten ini diproduksi oleh
Viral-nya Marketing Gerilya Film ‘The Blair Witch Project (1999)’ (74517)
Adegan film horor ala dokumenter 'The Blair Witch Project'. Sumber: IMDB/Artisan Entertainment.
Di penghujung era 90’an, tidak ada yang pernah menyangka terdapat sebuah film horor yang kontroversial dan bahkan semakin populer hingga kini.
ADVERTISEMENT
The Blair Witch Project (1999) merupakan salah satu yang paling berpengaruh dalam industri perfilman. Meski kini statusnya sudah menjadi klasik, namun gaya penyajiannya memang unik dan menarik.
Film The Blair Witch Project mengisahkan tiga orang mahasiswa perfilman yang akan memproduksi sebuah dokumenter tentang legenda Blair Witch. Mereka menuju Burkittsville di Maryland, untuk mewawancarai, mengumpulkan data, serta membuat dokumentasi seputar legenda tentang penyihir kejam.
Dalam petualangannya, mereka mengalami sejumlah hal mengejutkan dan mengerikan. Hal supranatural diluar akal sehat kerap mengganggu dan bahkan meneror mereka. Semuanya itu terekam dalam video yang selalu mereka bawa!
Ide dan Produksi Film
Dalam promosi filmnya, The Blair Witch Project dikenal sebagai “found footage” (dokumen video yang ditemukan) tentang hilangnya tiga mahasiswa saat sedang mendokumentasikan legenda Blair Witch.
ADVERTISEMENT
Duo sineas, penulis cerita merangkap editing film, yakni Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez terinspirasi dari sejumlah dokumenter tentang fenomena supranatural yang malah lebih mengerikan dibandingkan film horor.
Maka mereka pun mengembangkan sebuah narasi dengan gaya penyajian layaknya dokumenter. Adapun semua aktor dan aktris yang terlibat di dalamnya, tentu saja mengandalkan improvisasi layaknya seorang amatir dalam beradegan.
Viral-nya Marketing Gerilya Film ‘The Blair Witch Project (1999)’ (74518)
Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez. Sumber: IMDB/Artisan Entertainment.
Viral Akibat Marketing Gerilya dalam Momentum Era Internet
Poin terpenting yang mengakibatkan film The Blair Witch Project begitu viral karena kontroversial dan fenomenal, tentu saja teknik serta gaya marketing yang diterapkan oleh pihak studio secara gerilya.
Adalah hal lumrah dalam industri perfilman, tatkala sebuah film kecil dengan biaya terbatas, kerap berupaya memasarkan filmnya dengan sejumlah cara yang tidak konvensional, dengan tujuan untuk menarik perhatian audiens.
ADVERTISEMENT
Rasa penasaran publik dikarenakan bumbu kontroversial itulah yang mengakibatkan sejumlah orang berbondong-bondong menuju gedung bioskop, dan bahkan rela antri demi memuaskan antusiasme sekaligus menjadi ajang hiburan.
Dalam momen yang tepat di saat era internet melanda, sangat membantu meringankan biaya pemasaran film tersebut. Bandingkan dengan sejumlah studio besar yang didukung biaya tinggi, menggempur iklan filmnya melalui televisi, radio serta media cetak.
Sesaat setelah duo Myrick dan Sánchez merampungkan produksi, mereka menyewa jasa agensi yang ahli dalam mempublikasi dan mempromosikan film tersebut, melalui sejumlah “ilusi” kepada publik.
Sebuah situs resmi diluncurkan, dengan konten yang berisikan hilangnya tiga mahasiswa dalam rangka menyelidiki kasus Blair Witch, yakni Heather Donahue, Joshua Leonard, serta Michael Williams. Tiga karakter tersebut dibuat seakan nyata, berdasarkan laporan dari kepolisian yang dirangkum dalam kronologi, serta menyisakan sejumlah petunjuk misterius, dilengkapi dengan dokumen foto, potongan video dan audio.
ADVERTISEMENT
Tak hanya disitu saja, saat tayang perdana di Sundance Festival, dilakukan penyebaran pamflet mengenai hilangnya tiga mahasiswa tersebut, sambil menanyakan langsung kepada audiens, kalau ada yang mengetahui keberadaan mereka. Bahkan situs IMDB pun menginformasikan tiga mahasiswa yang berada dalam rekaman film tersebut, dinyatakan “hilang, kemungkinan telah tiada”.
Seperti yang dilansir majalah Variety, di tahun 1999 distributor Artisan Entertainment membeli hak film tersebut, kemudian ditayangkan pada sejumlah kampus demi mendapatkan promosi dari mulut ke mulut, hingga bocornya cuplikan filmnya di MTV News. Dengung promosi juga sampai pada media besar yang meliputinya, seperti Times dan Newsweek.
Alhasil, The Blair Witch Project tayang di bioskop dan laris manis. Film tersebut kerap dinobatkan sebagai salah satu film dengan promosi dan kampanye yang paling viral sepanjang masa. Terbukti dengan sejumlah daftar di berbagai media, film tersebut menempati urutan teratas.
Viral-nya Marketing Gerilya Film ‘The Blair Witch Project (1999)’ (74519)
Kampanye poster film 'The Blair Witch Project' yang viral. Sumber: IMDB/Artisan Entertainment.
Trik Marketing yang Telah Eksis Sejak Lama
ADVERTISEMENT
Faktanya, film The Blair Witch Project bukanlah yang pertama melakukannya, meski beberapa tahun setelahnya diikuti oleh film sejenis seperti Paranormal Activity (2007), Cloverfield (2008) ataupun V/H/S (2012).
Film tersebut mempopulerkan sub genre dari apa yang disebut dengan “found footage”, dan kebetulan terjadi di era teknologi informasi yang semakin menyentuh audiens secara global.
The Blair Witch Project juga bisa dikategorikan sebagai snuff film, dalam arti sebagai fiksi bergaya dokumenter, yang menyajikan hal eksplisit baik pembunuhan ataupun pornografi.
Snuff film telah eksis sejak era film eksploitatif yang biasanya terdapat dalam sejumlah film horor kelas-B di era 60’an, puncaknya terdapat dalam film kontroversial berjudul Snuff (1976).
Di tahun 1980, sineas Italia Ruggero Deodato sempat didakwa sebagai yang bertanggung jawab terhadap “pembunuhan” para aktor utama dalam film Cannibal Holocaust. Hingga akhirnya terungkap bahwa semua itu hanyalah trik pemasaran, selain terkandung sejumlah adegan sadis dan berkesan nyata, karena bergaya dokumenter.
ADVERTISEMENT
Film Cannibal Holocaust berpredikat sebagai film yang kontroversial sepanjang masa, sejak pelarangan tayang di banyak negara. Dalam era tersebut, kampanye promosi beberapa film sejenis terasa lebih nyata dan faktual, mengingat adanya informasi dan pengetahuan terbatas.
Bagaimanapun juga The Blair Witch Project mampu mendobrak kembali sebuah tren, sekaligus mendefinisi ulang gaya film horor unik dari sisi lain. Peran informasi digital tentu sangat mendukung dalam mengumpulkan audiens secara massal dan serentak bersifat global.
Kekuatan narasi yang brilian, merealisasikan ilusi yang mengaburkan antara fakta dan fiktif, sehingga menjadi viral berkat marketing gerilya film tersebut. Komitmen solid dalam tim produksi dan pemasaran, sukses memberikan kejutan besar terhadap publik.