• 2

Ada Kejanggalan dari Nuansa Natal di Korea Utara

Ada Kejanggalan dari Nuansa Natal di Korea Utara



Kondisi masyarakat di Pyongyang, Korea Utara

Kondisi masyarakat di Pyongyang, Korea Utara (Foto: AP Photo/Kim Kwang Hyon)
Natal secara umum dirayakan hampir di seluruh negara di dunia, tidak terkecuali di Korea Utara. Walau resmi dinyatakan negara komunis tanpa agama, ada warna-warni khas Natal di negara pimpinan Kim Jong Un itu.
Associated Press, satu dari sedikit kantor berita yang membuka biro di Pyongyang, menggambarkan saat-saat Natal di Korut. Seperti negara lainnya, ornamen-ornamen Natal macam pohon cemara berhiaskan kertas warna-warni dan lampu kelap-kelip menghiasi banyak tempat di Pyongyang, terutama di wilayah-wilayah kelas atas.
Namun ada kejanggalan yang mengganjal jika melihat ornamen identik dengan Natal itu. Walau tidak bisa dipungkiri hiasan itu adalah ornamen Natal, tapi tidak ada yang menunjukkan kaitannya dengan keyakinan Kristiani.
Salah satu contohnya, pohon Natal di beberapa tempat bisa dipajang setahun penuh. Padahal Natal jatuh di Desember saja.
Lagu-lagu Natal seperti "White Christmas" dan "Let It Snow" terdengar di hotel-hotel Pyongyang, tapi hanya musik instrumental saja tanpa ada liriknya, dan sudah diputar sejak Agustus. Selain itu, tidak ada gambar-gambar dan patung khas keyakinan Kristiani.

Kim Jong Un

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, sumber: Youtube (Foto: Rina Nurjanah/kumparan)
Hal-hal di atas setidaknya menegaskan bahwa Korut benar-benar telah menafikan agama. Sejak rezim Kim berkuasa tahun 1950-an, aktivitas keagamaan benar-benar diberangus. Padahal sebelumnya, Korut adalah negara sasaran utama para misionaris Kristen.
Dalam konstitusi Korut memang dijelaskan soal kebebasan beragama, namun ditegaskan bahwa "agama tidak boleh digunakan sebagai alasan menarik pasukan asing atau merusak tatanan negara atau sosial".
Artinya tidak boleh lagi ada misionaris asing ke Korut dan setiap kegiatan keagamaan di negara itu harus di bawah pengawasan penuh pemerintah.
Ada empat gereja di Pyongyang - satu gereja Ortodoks Rusia, dua Protestan dan satu Katolik. Di dalamnya memang terdapat salib, tapi tidak ada sama sekali gambar dan patung Yesus.
Misa dan ibadah lainnya di dalamnya diatur dengan ketat, dipimpin oleh pendeta yang ditunjuk pemerintah. Pendeta Katolik ini bahkan tidak dikenal Vatikan. Sementara gereja Protestan hampir tidak pernah digunakan sama sekali.
Pelanggaran aturan keagamaan hukumannya berat. Hal kecil soal agama bisa membuat seseorang dipenjara untuk waktu yang lama.
Contohnya seperti kasus yang menimpa turis Amerika Serikat Jeffrey Fowle beberapa waktu lalu. Dia divonis 15 tahun penjara hanya karena meninggalkan Injil di kamar mandi kelab malam Pyongyang. Fowle bebas dalam enam bulan berkat campur tangan Amerika.
Ada lagi seorang pastur asal Kanada Hyeon Soo Lim yang divonis kerja paksa seumur hidup karena dianggap mencoba menggulingkan pemerintah Kim Jong Un dengan aktivitas keagamaannya. Padahal Lim mengatakan saat itu tengah membagikan bantuan kemanusiaan di Korut.

NewsNatal 2016Kim Jong UnKorea UtaraInternasional

500

Baca Lainnya