• 2

Antara Aleppo, Bosnia dan Rwanda

Antara Aleppo, Bosnia dan Rwanda




Tentara Suriah di Aleppo

Tentara Suriah membawa senjata di Aleppo (Foto: Goran Tomasevic)
Pembantaian ribuan orang yang terjadi di kota Aleppo oleh rezim pemerintah Suriah disebut sebagai bentuk genosida baru di era modern. Pejabat PBB bahkan mengatakan insiden Aleppo tidak ubahnya peristiwa seperti pembantaian yang terjadi di masa lampau.
"Aleppo akan masuk daftar peristiwa dalam sejarah dunia yang membentuk kejahatan di era modern, yang menodai kesadaran kita puluhan tahun kemudian. Halabja, Rwanda, Srebrenica dan sekarang, Aleppo," kata Samantha Power, duta besar Amerika Serikat untuk PBB dalam konferensi pers Selasa lalu, dikutip Reuters.
Bukan sembarangan jika Power mengatakan tragedi Aleppo sejajar dengan genosida di banyak negara. Tragedi di Halabja, Srebrenica dan Rwanda masih terngiang di benak banyak orang, begitu pula Aleppo di masa yang akan datang.
Berikut adalah insiden-insiden yang disebut oleh Power:
Halabja, Irak. 1998
Pada Maret 1988 saat perang Iran-Irak, Saddam Hussein menggunakan senjata kimia terhadap pasukan dan warga sipil Iran di kota Kurdi, Halabja, bagian utara Irak. Kurang dari 20 menit, lebih dari 5.000 orang tewas dan 10 ribu lainnya mengalami luka.
Jet tempur Irak saat itu menembakkan bom berisikan gas mustard, sarin dan agen syaraf. Serangan ini membuat posisi Irak dalam perang unggul dan Iran harus menelan pil pahit di meja perundingan.
Rwanda, 1994
Pada April 1994, kelompok ekstremis dari suku Hutu membantai etnis minoritas Tutsi dan toko moderat Hutu selama tiga bulan. Sekitar 800 ribu orang tewas, 300 ribu di antaranya adalah anak-anak.
Hutu membunuh pria, wanita dan anak-anak, bahkan tetangga-tetangga mereka sendiri. Mereka membakar gereja dengan ratusan hingga ribuan warga Hutsi di dalamnya.
Insiden ini dipicu oleh kematian Presiden Juvenal Habyarimana, etnis Hutu, setelah pesawat yang ditumpanginya jatuh dalam sebuah serangan. Kelompok bersenjata Hutu menyalahkan Tutsi atas insiden itu, dan mulai melakukan pembantaian.
Tragedi berdarah ini berlangsung selama 100 hari.

Tengkorak warga Rwanda yang menjadi korban pembantaian di tahun 1994.

Tengkorak warga Rwanda yang menjadi korban pembantaian di tahun 1994. (Foto: Reuters)
Srebrenica, 1995
Selama lima hari, dimulai pada 11 Juli 1995, lebih dari 8.000 Muslim Bosnia dibantai oleh tentara Serbia loyalis Slobodan Milosevic di kota Srebrenica. Insiden ini disebut peristiwa berdarah terparah di tanah Eropa setelah Perang Dunia II.
Srebrenica seharusnya menjadi daerah aman yang dibangun PBB dalam perang di Bosnia dan Hergovina usai perpecahan Yugoslavia, namun tetap diserang oleh tentara Serbia Bosnia. Tentara penjaga perdamaian PBB asal Belanda yang hanya berjumlah 100 orang tidak bisa berbuat apa-apa.
Ribuan pria dewasa dan remaja dibariskan dan dibantai dalam insiden yang termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan itu.
Milosevic tewas dalam penahanan 10 tahun lalu di tengah persidangan kejahatan perang. Wakilnya Radovan Karadzic divonis 40 tahun penjara, sementara pengadilan terhadap panglima militer Serbia Ratko Mladic baru rampung pekan ini, dan vonis diperkirakan dibacakan setahun lagi.

Pemakaman 8.000 Muslim Bosnia yang dibantai di Srebrenica oleh Tentara Serbia pada 1995

Pemakaman 8.000 Muslim Bosnia yang dibantai di Srebrenica oleh Tentara Serbia pada 1995 (Foto: Reuters)
Aleppo, Suriah, 2016
Setelah Srebrenica, Halabja dan Rwanda, kini ada Aleppo. Pengepungan dan penyerangan kota Aleppo oleh pasukan Suriah dan jet tempur Rusia membuat rakyat Aleppo menderita. Aleppo adalah bagian dari pertempuran Suriah yang telah berlangsung sejak 2011 dan menewaskan lebih dari 400 ribu orang.
Aleppo dulu merupakan pusat budaya Suriah dan kota terbesar kedua di negara itu. Kota tersebut kini luluh lantak. Saat ini warganya bersiap untuk evakuasi setelah gencatan senjata disepakati, namun pembunuhan masih terjadi.
"Butuh 4.000 tahun, ratusan generasi, untuk membangun Aleppo. Namun satu generasi menghancurkan semuanya dalam waktu hanya empat tahun," kata Jan Egeland, penasihat khusus untuk utusan PBB bagi Suriah.


NewsInternasionalAleppoBosnia dan HerzegovinaSuriah

500

Baca Lainnya