kumparan
29 Nov 2017 14:43 WIB

AS Tegaskan Komitmen Pindahkan Kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem

Kota Yerusalem (Foto: REUTERS/Ammar Awad)
Pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan komitmen Amerika Serikat memindahkan Kedutaan mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem. Langkah Trump ini dipastikan akan memicu kontroversi dan pertentangan dari banyak pihak.
ADVERTISEMENT
Komitmen Trump ini disampaikan oleh Wakil Presiden AS Mike Pence dalam pidatonya di kantor Misi Israel untuk PBB di Washington, Selasa (28/11). Pence mengatakan, Trump tidak mengabaikan komitmennya itu, hanya sedang mempertimbangkan "kapan dan bagaimana" pemindahan dilakukan.
"Selama 20 tahun terakhir, Kongres dan pemerintah suksesor menunjukkan keinginan memindahkan kedutaan kami. Saat ini, Presiden Donald Trump aktif mempertimbangkan kapan dan bagaimana memindahkan Kedutaan Amerika di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem," kata Pence.
Sejak pemilu tahun lalu, Trump telah menyuarakan niatnya memindahkan kedutaan AS. Namun seruan ini dianggap sebagai cara Trump untuk mendulang suara dari para pemilih Yahudi.
Wakil presiden AS terpilih, Mike Pence (Foto: Lucas Jackson/REUTERS)
Juni lalu, Trump memilih mengurungkan niatnya dengan menandatangani penangguhan pemindahan kedubes di Tel Aviv. Desember mendatang adalah tenggat waktu penangguhan dan Trump harus memutuskan apakah akan memindahkan kedubes atau menangguhkannya lagi untuk enambulan ke depan.
ADVERTISEMENT
Undang-undang pemindahan Kedutaan itu telah ditandatangani pada 1995. Namun semua presiden AS harus menandatangani penangguhannya setiap enam bulan sekali agar hal itu tidak dilakukan.
Berdasarkan preseden pada pemerintahan AS sebelumnya, rencana pemindahan kedutaan selalu urung dilakukan. Pasalnya ini adalah hal sensitif yang bisa memicu ketegangan di Timur Tengah.
Dengan pemindahan Kedutaan ke Yerusalem, AS berarti mengakui bahwa kota itu adalah ibu kota Israel. Padahal konsensus internasional selama 70 tahun menyatakan Yerusalem adalah wilayah yang diperebutkan antara Israel dan Palestina, dengan status quo untuk wilayah Kota Tua yang meliputi Masjidil Aqsa.
Jika AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, hal ini akan memicu protes besar dari Timur Tengah. Perundingan damai akan jadi tinggal impian.
ADVERTISEMENT
Pence seakan tidak peduli pandangan negara lain dan menyatakan bahwa AS berdiri bersama Israel. "AS akan terus memihak Israel," kata dia.
"Presiden Trump mengatakan, 'Jika dunia tidak tahu apa-apa, biarkan mereka tahu yang satu ini: Amerika berdiri bersama Israel." ujar dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan