• 2

Cara Warga Venezuela Lalui Krisis: Jual Rambut hingga Hibahkan Anak

Cara Warga Venezuela Lalui Krisis: Jual Rambut hingga Hibahkan Anak



 Keluarga miskin di Punto Fijo, Venezuela

Keluarga miskin di Punto Fijo, Venezuela (Foto: Reuters/Carlos Garcia Rawlins)
Krisis ekonomi yang melilit Venezuela membuat warganya harus putar otak mencari uang untuk mengisi perut. Berbagai cara dilakukan agar bisa makan, atau mengurangi pengeluaran belanja sehari-hari.
Salah satu cara cari uang yang tengah populer di Venezuela adalah menjual rambut. Wanita-wanita berdatangan ke kota perbatasan Colombia untuk menjual mahkota mereka itu.
"Saya datang ke tempat ini karena tidak ada lagi yang bisa dimakan," kata seorang wanita Venezuela seperti dikutip dari laporan Reuters awal bulan ini.
Puluhan makelar rambut yang dikenal sebagai "Si Penjambak" berjejer rapi di jembatan yang menghubungkan San Antonio, Venezuela, dan kota La Parada, Colombia. Mereka bersahutan memanggil para wanita yang kekurangan uang, "kami membeli rambut!"
Menurut para makelar, setidaknya ada 200 wanita Venezuela yang rela rambutnya dicukur untuk ditukar uang setiap harinya. Rambut-rambut ini nantinya akan dijalin untuk menjadi sambungan rambut atau ekstension.
Harganya bervariasi, namun rata-rata 20 dolar AS atau sekitar Rp286 ribu, upah minimum bulanan di Venezuela.

 Antrean warga di luar toko bangunan di Punto Fijo, Venezuela, untuk menjual barang-barang mereka.

Antrean warga di luar toko bangunan di Punto Fijo, Venezuela, untuk menjual barang-barang mereka. (Foto: Reuters/Carlos Garcia Rawlins)
"Saya menderita arthritis dan perlu beli obat. Uang ini memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa untuk membeli obat penahan sakit," kata Celina Gonzales yang menjual rambut cokelatnya.
Krisis di negara yang sebenarnya kaya minyak itu kian parah dan diperkirakan akan semakin terpuruk tahun depan. IMF memperkirakan perekonomian Venezuela anjlok 10 persen tahun ini, jauh lebih buruk dari perkiraan sebelumnya yaitu 8 persen.
Inflasi di Venezuela diramalkan bakal meroket hingga 700 persen tahun ini, jauh dari perkiraan 480 persen. Jumlah pengangguran meningkat, harga bahan makanan di luar nalar, dan antrean untuk mendapatkan subsidi mengular.
Rakyat Venezuela kini harus menahan lapar karena harga ayam bisa memakan biaya hingga sebulan penghasilan rata-rata warga. Sarapan hanya roti dan kopi, makan siang dan malam kadang nasi saja tanpa lauk.
Hal ini dialami oleh wanita dari keluarga miskin Venezuela, Zulay Pulgar. Keluarganya hanya hidup dari tunjangan pensiun ayahnya yang nilainya hanya 6 dolar AS per bulan, atau Rp80 ribu. Demi kesejahteraan keluarganya, Pulgar harus merelakan putrinya kesayangannya yang berusia enam tahun dihibahkan ke tetangganya.
"Lebih baik dia tinggal dengan keluarga lain ketimbang akhirnya menjadi pelacur, pakai narkoba atau mati kelaparan," kata ibu berusia 43 tahun ini kepada Reuters.
Dalam beberapa kasus, orang tua di Venezuela meninggalkan begitu saja anak mereka. Bulan lalu, seorang bayi lelaki ditemukan di dalam kantung di permukiman orang kaya di Karakas. Di lain waktu, seorang bayi lelaki berusia 1 tahun ditinggalkan di dalam kardus di kota Ciudad Guayana.

 Kehidupan di Kota Caracas, Venezuela

Kehidupan di Kota Caracas, Venezuela (Foto: Reuters/Ueslei Marcelino)
Kemiskinan juga memicu peningkatan jumlah wanita Venezuela yang meminta rahim mereka disteril. Aborsi ilegal di negara ini, itulah sebabnya wanita-wanita Venezuela lebih memilih tidak lagi punya anak.
Di negara bagian Miranda, termasuk di dalamnya kota Karakas, ada 40 klinik yang menawarkan jasa sterilisasi. Menurut direktur program ini, Deliana Torres, ada sekitar 500 wanita yang menunggu untuk disteril.
Sengsara tidak hanya dirasakan warga miskin di Venezuela, tapi juga karyawan perusahaan minyak negara, PDVSA, yang sebelum krisis merasakan banyak kemudahan ekonomi. Kini mereka menjual barang-barang pribadi, mulai dari sepatu boot hingga seragam PDVSA.
"Kadang kami membiarkan anak-anak tidur hingga siang untuk menghemat sarapan," kata seorang pekerja perawatan di salah satu kilang minyak PDVSA.
"Kebanyakan dari kami tidak produktif lagi, karena kami hanya fokus pada bagaimana cara selamat secara ekonomi," lanjut pria yang tidak ingin disebut namanya ini.

InternasionalVenezuelaKrisis VenezuelaNicolas Maduro

500

Baca Lainnya