• 1

Di Akhir Masa Jabatannya, Obama Urung Lindungi Israel

Di Akhir Masa Jabatannya, Obama Urung Lindungi Israel



Presiden Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama

Presiden Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama (Foto: Reuters/Kevin Lamarque/File Photo)
Barack Obama urung melindungi Israel di penghujung masa jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat. Negaranya menolak jadi beking Israel saat "dikerubuti" di Dewan Keamanan PBB soal pembangunan permukiman Yahudi.
AS abstain dalam voting resolusi Dewan Keamanan PBB pada Jumat (23/12) yang menyatakan Israel harus "menghentikan seluruhnya dan dengan segera aktivitas pembangunan di wilayah pendudukan Palestina, termasuk Yerusalem Timur", karna dianggap "tidak memiliki validitas hukum dan pelanggaran hukum internasional."
Ada 14 dari 15 negara DK PBB yang mendukung resolusi itu. Satu negara, AS, abstain. AS juga tidak turun tangan menjegal resolusi itu dengan melancarkan veto. Sebagai 1 dari 5 negara anggota tetap DK PBB, AS punya hak veto.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentu saja kebakaran jenggot. "Israel menolak resolusi anti-Israel yang memalukan di PBB ini dan tidak akan mematuhinya," kata dia.
Obama bergeming dengan keputusannya untuk tidak mendukung Israel. Bahkan ketika muncul desakan untuk veto dari anggota parlemen, baik dari Demokrat dan Republik, Obama tetap cuek.
AS memang sejak lama menentang pembangunan permukiman Yahudi yang merusak perundingan damai dan membuat solusi dua negara masih di awang-awang. Sejak tahun 2014 perundingan damai dua negara terhenti, tidak lain karena Netanyahu menghapus moratorium pembangunan permukiman.
"Kami tidak bisa, dengan kesadaran penuh, memveto resolusi yang mencerminkan keprihatinan tentang tren yang mengikis dasar solusi dua negara," kata Ben Rhodes, juru bicara Gedung Putih.
Langkah ini diambil Obama kurang dari dua bulan sebelum dia menyerahkan tampuk pimpinan kepada Donald Trump. Boleh dibilang selama delapan tahun kepemimpinannya, Obama memang tidak akur dengan Netanyahu.
Kedua pemimpin punya pandangan yang berbeda soal banyak hal, mulai dari politik hingga kepribadian. Ambil contoh, di bawah kepemimpinan Obama, AS berhasil mencapai kompromi dengan Iran soal program senjata nuklir. Padahal Netanyahu berkali-kali menegaskan bahwa Iran adalah ancaman yang nyata bagi Israel dan Amerika.
Perkara permukiman Yahudi Israel ini memang jadi masalah besar bagi Obama. Di awal kepemimpinannya pada 2009, Obama bertekad mendamaikan Timur Tengah. Israel malah memperburuknya dengan melanjutkan pembangunan, merusak perundingan damai.
Salah satu bukti gamblang "muaknya" Obama dengan Netanyahu terjadi pada tahun 2011. Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Perancis saat itu, Nicolas Sarkozy, Obama tidak sengaja menghina Netanyahu. Percakapan itu terdengar jelas wartawan karena mikrofon menyala.
"Saya tidak tahan dengan dia [Netanyahu]. Dia pembohong," kata Sarkozy kepada Obama.
Obama membalas, "Kalau kamu saja tidak tahan, bagaimana dengan saya? Saya harus berurusan dengan dia setiap hari."
Kebijakan berbeda sepertinya akan diambil pada pemerintahan Trump tahun depan. Donald Trump yang akan dilantik 20 Januari 2017 di Twitter mengecam langkah AS di PBB dan mengatakan "semua akan berbeda" jika dia yang memimpin.
Ditanya komentar soal pernyataan Trump, Rhodes tidak peduli dan mengatakan "hanya ada satu presiden dalam satu waktu."

NewsIsraelFarewell ObamaAmerika SerikatInternasional

500

Baca Lainnya