• 2

Dokter Indonesia: Rasa Sakit Pasien di Aleppo Hilang dengan Istigfar

Dokter Indonesia: Rasa Sakit Pasien di Aleppo Hilang dengan Istigfar



Relawan Indonesia di Suriah

Relawan Indonesia berfoto dengan petugas medis (Foto: Dok. Misi medis Suriah)
Dokter Henri Perwira Negara adalah satu dari segelintir relawan asal Indonesia yang berhasil masuk ke Aleppo, Suriah, beberapa tahun silam. Bertugas sebagai pekerja medis di Aleppo, dia mengaku telah menyaksikan seluruh kengerian dari dampak konflik berdarah di Suriah.
"Saya sudah mendapati luka di seluruh bagian tubuh, tidak akan terlupakan," kata Henri kepada kumparan, Rabu (21/12) .
Pria yang kini berusia 29 tahun itu menghabiskan waktu satu tahun bertugas sebagai relawan di bawah bendera lembaga Misi Medis Suriah pada 2013-2014. Henri diperbantukan di sebuah rumah sakit di Aleppo selama lima bulan.
Henri mengatakan, saat dia ke sana ada sekitar 100 dokter di berbagai rumah sakit Aleppo. Namun berdasarkan komunikasinya dengan aktivis di Suriah, kini jumlah dokter diperkirakan hanya tinggal 30 orang.
"Sewaktu ke sana memang tidak separah sekarang. Dulu sebagian besar Aleppo dikuasai pejuang Muslim, bahkan ISIS saat itu belum berulah. Situasi berubah 180 derajat setelah ISIS muncul, ditambah lagi dengan masuknya Rusia," kata Henri.
Dokter yang kini praktik di RS Siaga Medika Pemalang, Jawa Tengah, ini mengaku menangani lebih dari 100 orang pasien setiap harinya. Sekitar 10-25 persen dari pasien tersebut tidak tertolong lagi saking parahnya luka-luka yang mereka alami.

Relawan Indonesia menangani pasien di rumah sakit Suriah

Relawan Indonesia menangani pasien di rumah sakit Suriah (Foto: dok. Misi Medis Suriah)
"Sebagian besar adalah korban serangan, seperti terluka parah terkena tembakan atau bom," kata Henri.
Ada pengalaman yang tidak bisa dia lupakan. Suatu kali dia menangani seorang pejuang asing dari Uzbekistan. Menurut Henri, pejuang Uzbekistan adalah tentara pemberani yang tidak kenal mundur, kecuali terluka parah atau meninggal dunia.
Pejuang yang ditanganinya mengalami luka parah akibat terkena bom dalam pertempuran di Aleppo. Luka-luka terdapat di pipi, tangan, dan kakinya. "Lukanya panjang, bukan 2-3 cm lagi. Dia juga patah tulang," kata Henri.
Akibat bom, banyak pasir masuk ke dalam matanya dan tidak mudah dibersihkan. Karena kasusnya yang gawat, tiga dokter, termasuk Henri, seorang ahli bedah tulang dan bedah plastik, menangani pria ini.
"Banyak pasir menempel di matanya, hingga ke dalam kelopak mata. Itu tidak bisa dibersihkan dengan mudah, harus disemprot cairan infus," kisah Henri.

Relawan Indonesia

Relawan misi medis Suriah sedang bertugas di klinik (Foto: dok. Misi Medis Suriah)
"Dia harus melotot terus. Setiap kali disemprot, dia teriak kesakitan. Teriakannya sangat keras, lebih keras dari pasien lainnya," tutur dia lagi.
Mereka kemudian menyarankan pasien ini istigfar dan membaca ayat-ayat Al-Quran yang dia hapal. Tidak lama kemudian, teriakan tidak lagi terdengar.
"Setengah sampai 1 jam kemudian, dia sudah tenang dan tidak merasakan sakit yang luar biasa lagi. Hampir seluruh pasien di Aleppo kita buat seperti itu. Efek mengingat Allah benar-benar menenangkan hati seorang Muslim," ujar Henri.

Efek mengingat Allah benar-benar menenangkan hati seorang Muslim

- Dr Henri Perwira Negara, relawan Misi Medis Suriah

Ditembak saudara sendiri
Dokter dari Indonesia lainnya yang juga pernah bertugas di Suriah adalah Dr Muhammad Arifudin, ahli bedah tulang, yang saat ini bertugas di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Arifudin sempat bertugas di rumah sakit lapangan di Aleppo sebelum akhirnya pindah ke rumah sakit Orient yang lebih besar di Idlib pada 2014. Saat itu Idlib sebagian besar dikuasai pejuang Suriah.
Arifudin mengatakan Orient lengkap peralatannya sehingga banyak pasien luka dari berbagai kota dirujuk ke rumah sakit ini.

Relawan Indonesia

Relawan di klinik obat-obatan Suriah (Foto: Dok. Misi Medis Suriah)
"Saya dua minggu di Idlib. Menangani operasi darurat luka pasca pengeboman. Korban-korban akibat bom langsung atau kejatuhan bangunan," ujar Arifudin yang menjadi relawan dari lembaga amal Peduli Muslim.
Orient di tahun 2015-2016 menjadi sasaran serangan pasukan jet Rusia yang membuat rusak peralatan medis. Saat ini Orient beralih fungsi menjadi RS Ibu dan Anak.
Korban luka dan tewas telah menjadi hal yang terjadi rutin di Suriah. Namun kata Arifudin, kesedihan akibat kehilangan sanak famili tidak berlangsung lama karena kehidupan harus terus berjalan.
"Secara mental mereka sangat kuat. Setelah ledakan, kehidupan kembali berjalan seperti biasa," lanjut Arifudin.
Sebuah peristiwa selalu dikenangnya. Saat itu dia melihat orang-orang Muslim Kurdi yang terluka menangis akibat ditembak oleh militan dari Partai Pekerja Kurdistan atau PKK yang komunis. Alasan orang-orang Kurdi itu menangis membuatnya terkejut.
"Mereka menangis karena ditembak oleh saudara mereka sendiri," kata dia.


NewsSuriahAleppoKisah RelawanInternasional

500

Baca Lainnya