• 10

Hikayat Liaoning, Dari Besi Rongsok Jadi Kapal Induk China

Hikayat Liaoning, Dari Besi Rongsok Jadi Kapal Induk China



Liaoning

Kapal Liaoning milik China. (Foto: AP)
Xu Zengping semringah betul saat menjejakkan kaki di atas besi raksasa yang bisa mengapung itu. Dia memang sengaja datang jauh-jauh dari China ke Ukraina untuk besi rongsok yang teronggok di Laut Hitam itu.
Dia punya satu misi yang pasti saat menyambangi Mykolaiv, Ukraina, pada 28 Januari 1998 itu: membeli kapal induk untuk China.
Xu adalah mantan Tentara Pembebasan Rakyat China yang menjadi konglomerat di Hong Kong. Mantan atlet basket di kemiliteran China ini adalah pemilik perusahaan Chinluck Holdings yang bergerak di bidang perdagangan, makanan, kebudayaan, hiburan dan properti.
Sebagai mantan tentara, Xu nasionalis betul. Dia siap mengemban tugas berat membawa kapal peninggalan Uni Soviet itu demi kemajuan angkatan laut China.
Punya kapal induk memang impian China sejak lama.
Pada tahun 1970, Ketua Mao Zedong mengatakan China harus punya kapal induk jika suatu saat berperang dengan Uni Soviet atau Amerika Serikat.
Namun impian itu harus dikubur sejenak karena situasi politik tidak memungkinkan. China bisa dianggap ancaman jika punya senjata baru di tengah kondisi antar blok yang memanas saat itu.
Tahun 1991, Uni Soviet runtuh dan Perang Dingin berakhir. China kembali membangkitkan ambisinya membangun kapal bongsor itu. Kebetulan saat itu ada kapal besar peninggalan Soviet yang belum rampung dibuat.
Perusahaan pembuat kapal itu, Nikolayev South Shipyard, bangkrut saat Soviet ambruk. Kapal yang baru kelar sepertiganya itu tidak dilanjutkan lagi pembangunannya. Didiamkan di galangan, tanpa perawatan, digerogoti karat.
Kapal induk kelas Kuznetsov itu mulai dibuat tahun 1985. Awalnya dinamai Riga, lalu diganti menjadi Varyag, kapal sepanjang 306 meter itu belum sempat melaut karena Soviet keburu kolaps.
Rencana pembelian tidak mulus. Ukraina tidak ingin kapal raksasa itu dibeli untuk tujuan militer. China terancam gigit jari.
Akhirnya China memulai strategi gerilya. Dia menunjuk Xu untuk negosiasi pembelian kapal itu, namun dengan nama perusahaan, bukan negara.
"Saya dipilih untuk bernegosiasi. Saya sadar ini misi yang mustahil karena membeli sesuatu seperti kapal induk haruslah dengan komitmen nasional, bukan perusahaan atau individu. Tapi hasrat yang mendorong saya, karena ini kesempatan sekarang-atau-tidak sama sekali untuk China memiliki kapal induk," kata Xu dalam wawancara dengan South China Morning Post tahun 2015 lalu.

Kapal induk China Liaoning

Kapal induk China Liaoning (Foto: Dok. US Navy)

Tipu muslihat kemudian dilancarkan.
Xu membuat perusahaan fiktif di Macau dengan nama Agencia Turistica e Diversoes Chong Lot. Perusahaan itu disebut bergerak di bidang hiburan, termasuk kasino dan perjudian. Tahun 1998, perusahaan tersebut telah lengkap, baik dari sisi dokumen hingga anak cabang di Ukraina.
Perusahaan abal-abal Xu itu lantas mendekati galangan kapal pemilik Varyag. Mereka mengaku ingin membeli kapal induk tersebut untuk dijadikan hotel dan kasino mengapung.
Butuh nego dan lobi lama Xu dengan para pejabat dan pemilik kapal itu di Ukraina. Tidak hanya melibatkan uang, tapi juga minuman keras dalam jumlah yang banyak.
Minumannya juga harus spesifik, yaitu erguotou, miras khas China dengan kadar alkohol hingga 62 persen.
Tantangan Xu saat itu tidak hanya harus berhasil melobi pembelian kapal, tapi juga tetap sadar dan tidak mabuk.
"Saya seperti direndam miras ketika negosiasi dengan pemilik kapal. Setiap jamuan makan, saya minum 2-3 liter erguotou. Selama empat hari, saya membawakan mereka lebih dari 50 botol. Tapi saya merasa kuat dan tetap sadar karena saya minum ada tujuannya, tapi orang Ukraina itu minum untuk mabuk," kata Xu.

Saya seperti direndam miras ketika negosiasi dengan pemilik kapal. Setiap jamuan makan, saya minum 2-3 liter erguotou.

- Xu Zenping


Setelah mabuk-mabukan beberapa kali, kesepakatan didapat, kapal bisa dibeli China dengan harga hanya US$20 juta atau lebih dari Rp268 miliar.
Tidak pakai lama, pada 19 Maret 1998 pembayaran dilakukan setengahnya - setengah lagi tahun berikutnya. Xu langsung mengangkut semua cetak biru kapal tersebut seberat 40 ton dengan delapan truk ke China.
Itu baru cetak birunya, perkara mengirim kapal jadi masalah lainnya. Tidak ada mesin di dalam kapal tersebut, sehingga harus dikerek.
Medio 2000 kapal berbobot hampir 60 ribu ton itu dianggap terlalu berbahaya dikerek melintasi selat Bosphorus oleh otoritas Turki. Butuh satu tahun untuk melobi Turki hingga akhirnya memperbolehkan kapal tersebut melintas, dikawal oleh 27 kapal.
Pada November 2001, kapal itu tertambat karena tali pengerek putur saat melintasi pulau Skyros di Yunani.
Otoritas Mesir di Terusan Suez juga melarang kapal tersebut melintas karena dianggap "kapal bangkai". Akhirnya diambil rute memutar yang lebih jauh melalui Selat Gibraltar, Tanjung Pengharapan lalu ke Selat Malaka.
Kapal itu memasuki perairan China pada 20 Februari 2002, dan tiba di Galangan Kapal Dalian pada 3 Maret.
Kini 14 tahun kemudian, kapal Varyag berubah nama menjadi Liaoning.


Dari kapal yang diabaikan, kini jadi kapal induk pertama China. Liaoning merupakan kapal induk berbobot terberat setelah USS George Washington milik Amerika Serikat.
Liaoning mampu membawa 24 jet tempur Shenyang J-15, enam helikopter militer anti-kaal selam Changhe Z-18F, empat helikopter transportasi Changhe Z-18J, dan dua helikopter penyelamat Harbin Z-9C.
Kapal bermesin diesel yang diawaki 2.000 orang ini memiliki persenjataan seperti artileri, sistem pertahanan rudal udara jarak-pendek, dan dua peluncur roket yang mampu menembakkan 12 roket masing-masing.
Kehadiran Liaoning diawasi dengan kewaspadaan penuh oleh negara-negara di kawasan, terutama yang terlibat sengketa dengan China.
"Bagian sebagian orang, Liaoning adalah simbol dari kekuatan global China. Sementara bagi yang lainnya, Liaoning adalah langkah awal dari angkatan laut China yang lebih kuat dan sombong," ujar pernyataan lembaga think tank CSIS.

NewsKapal LautMiliterChinaPerang

500

Baca Lainnya