• 0

Myanmar Gunakan Taktik Bumi Hangus Terhadap Rohingya

Myanmar Gunakan Taktik Bumi Hangus Terhadap Rohingya



Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya (Foto: AP Photo/S. Yulinnas)

Tentara Myanmar disebut menggunakan taktik bumi hangus terhadap warga etnis Rohingya di negara bagian Rakhine. Pembakaran terhadap desa-desa Rohingya terjadi di tengah ketegangan dan kekerasan terhadap masyarakat minoritas Muslim tersebut.
Dalam pernyataannya yang dikutip CNN, Selasa (13/12), wakil direktur lembaga Human Right Watch (HRW) divisi Asia, Phil Robertson, mengatakan bahwa citra satelit menunjukkan desa-desa Rohingya yang terbakar sesuai dengan jalur operasi militer tentara Myanmar.
"Akal sehat mengatakan bahwa militer yang melakukan ini," kata Robertson.
Citra satelit HRW memperlihatkan kebakaran di desa Yae Khat Chaung Gwa Son di wilayah Maungdauw. Sebelumnya berbagai lembaga HAM mengecam tindakan militer Rohingya yang dituding telah membakar rumah, membunuh dan memperkosa warga Rohingya.
Pemerintah Myanmar membantah tudingan tersebut, menyebut kerusakan itu disebabkan oleh para pemberontak dari kalangan Rohingya sendiri. Namun Robertson mengatakan, modus operandi bumi-hangus telah sering digunakan tentara Myanmar dalam operasi penyisiran.
"Kami telah melihat taktik serupa, kebohongan yang sama datang dari militer Burma saat membicarakan operasi penyisiran ini," kata Robertson, menggunakan nama lain dari Myanmar.
Etnis Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan kembali menjadi sasaran kekerasan militer Myanmar akhir tahun ini setelah penjaga perbatasan dibunuh dalam sebuah serangan pada 9 Oktober lalu.
Sejak saat itu, dengan dalih "operasi pembersihan pelaku serangan", tentara menyerbu desa-desa Rohingya. Lebih dari 100 orang terbunuh, sekitar 600 ditahan dalam operasi tersebut.
Kasus ini kembali memicu gelombang pengungsi besar-besaran Rohingya ke negara tetangga, Bangladesh. Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bungkam atas peristiwa ini, memicu kecaman dari para aktivis HAM.
Pemerintah Myanmar mengatakan tindakan keras diperlukan untuk membendung serangan dari kelompok militan radikal. Namun menurut Robertson, langkah Myanmar itu malah justru akan semakin menyulut radikalisme dan perlawanan dari warga.
"Tindakan itu mungkin memicu dukungan lebih banyak terhadap kelompok radikal di wilayah tersebut. Dengan melakukan bumi-hangus, militer Burma malah membuat lebih banyak musuh, ketimbang menangkap pelaku serangan," ujar Robertson.

HukumRegionalBencana AlamSampahInternasional

500

Baca Lainnya