• 2

Kematian Dubes Rusia Tidak Akan Picu Perang Dunia III, Ini Alasannya

Kematian Dubes Rusia Tidak Akan Picu Perang Dunia III, Ini Alasannya



Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: Reuters/Umit Bektas)
Ramai beredar di media sosial soal isu Perang Dunia III menyusul penembakan Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov. Namun melihat keadaan saat ini, sulit untuk melihat perseteruan Turki dan Suriah di medan perang.
Netizen gaduh soal kematian Karlov yang menurut mereka sama dengan peristiwa pembunuhan Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria, pewaris takhta Austria-Hungaria, oleh seorang nasionalis Yugoslavia pada tahun 1914 di Sarajevo. Pembunuhan itu membuat seteru dua aliansi dunia memanas dan pecah Perang Dunia I.
Bukannya tanpa sebab memang wacana ini muncul. Rusia dan Turki sempat terlibat ketegangan setelah jet tempur Rusia ditembak jatuh oleh Turki di udara perbatasan Suriah pada 2015. Kedua negara memang berseberangan dalam konflik berdarah di Suriah yang diperkirakan telah menewaskan lebih dari 400 ribu orang.
Sejak peristiwa itu, hubungan Rusia dan Turki renggang. Impor dan ekspor kedua negara terhenti saat Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adu pernyataan soal siapa yang salah dalam insiden itu.
Dengan posisi ini, kedua negara memiliki alasan untuk memicu Perang Dunia III. Bagaimana bisa?
Turki adalah anggota NATO yang beranggotakan 28 negara. Berdasarkan traktat NATO, setiap serangan terhadap satu anggota berarti serangan terhadap anggota lainnya. Artinya jika Rusia menyerang Turki, maka 27 negara lainnya akan menyerbu Moskow.
Rusia juga bukan negara sembarangan. Menurut laporan tentang globalisasi oleh Credit Suisse pada 2015, Rusia adalah negara dengan militer terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Perlu dicatat juga, Rusia adalah satu dari segelintir negara di dunia yang memiliki senjata nuklir.
Selain itu, Rusia juga sekutu dekat China, negara dengan militer terkuat ketiga dunia. Catatan lainnya, China juga tidak akur dengan Amerika Serikat, pentolan NATO.
Hubungan bersemi kembali
Namun Perang Dunia III sepertinya masih jauh dari kenyataan. Walau sempat tidak akur, hubungan Rusia dan Turki saat ini mulai kembali bersemi, terutama setelah kudeta militer yang gagal di Istanbul dan Ankara Juli lalu.
Hubungan dagang Rusia-Turki juga mulai kembali berjalan. Putin dan Erdogan dalam sebuah pertemuan bersejarah di St. Petersburg Agustus silam berjanji meningkatkan nilai dagang hingga 100 miliar dolar Amerika per tahunnya. Target ini meningkat empat kali lipat dari nilai perdagangan tahun 2017.
Permusuhan membuat kedua negara merugi. Nilai perdagangan kedua negara anjlok. Kuartal pertama tahun 2016, nilai dagang Rusia dan Turki turun hingga hanya 8,5 miliar dolar Amerika. Selain itu, Turki sangat bergantung pada gas alam Rusia.
Turki dan Rusia juga mulai satu suara soal isu Suriah, yaitu konflik harus dihentikan. Kedua negara berada di balik perundingan gencatan senjata di Aleppo, demi mengungsikan ribuan warga kota tersebut.
Sentimen permusuhan juga tidak ditunjukkan kedua negara dalam menanggapi kematian Karlov. Putin mengatakan pelaku mencoba memprovokasi dan merusak upaya normalisasi hubungan kedua negara. Hal yang sama juga disampaikan Erdogan.
Dengan analisa tersebut Perang Dunia III sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

NewsRusiaInternasionalTurkiPenembakan Dubes Rusia

500

Baca Lainnya