• 2

Kisah Relawan Kemanusiaan Indonesia, Menyabung Nyawa Demi Suriah

Kisah Relawan Kemanusiaan Indonesia, Menyabung Nyawa Demi Suriah



Relawan Indonesia di Suriah

Pabrik roti lembaga amal misi medis suriah (Foto: Dok. misi medis Suriah)
Aleppo. Belakangan nama kota ini menggema di seluruh dunia. Bukan karena kecantikannya sebagai salah satu kota paling bersejarah dunia, tapi lantaran kekejian di dalamnya. Ribuan orang tewas, bom dan roket tidak pandang bulu, menghantam Aleppo.
Kota kedua terbesar di Suriah tersebut menjadi pusat konflik berdarah yang telah berlangsung selama 2011. Tragedi kemanusiaan di Aleppo menjadi magnet bagi para pejuang kemanusiaan dari seluruh dunia, termasuk para putra Indonesia.
Segelintir relawan tanah air berhasil masuk ke kota tersebut beberapa waktu lampau, menyaksikan kehancuran dan kegetiran dengan mata kepala sendiri. Kehidupan saat itu masih berjalan, kendati di tengah serangan.
Salah satunya adalah Fadlun Abul Barra, dosen universitas swasta di Jogjakarta, yang pernah menyambangi Suriah untuk memberikan bantuan kemanusiaan pada tahun 2014.
Dalam wawancara dengan kumparan, Rabu (21/12), dia mengatakan hampir tidak ada bangunan yang utuh di Aleppo.

Malamnya tidak bisa tidur, tiap malam bunyi bom tidak putus-putus. Saya heran, kok bom ini tidak pernah habis

- Fadlun Abul Barra, relawan Peduli Muslim


"Sedikit sekali yang utuh, rata-rata sudah hancur, baik rumah penduduk maupun fasilitas umum. Butuh waktu 100 tahun untuk membangun kembali Aleppo," ujar relawan dari lembaga kemanusiaan Peduli Muslim ini.
Fadlun seperti kebanyakan relawan lainnya masuk ke Suriah melalui Turki. Menurut pria berusia 37 tahun ini, saat itu penjagaan perbatasan sangat longgar sehingga memudahkan relawan masuk.
Memasuki Suriah, untuk pertama kalinya dia mendengar suara dentuman bom dan melihat sendiri maut akibat perang.
"Malamnya tidak bisa tidur, tiap malam bunyi bom tidak putus-putus. Saya heran, kok bom ini tidak pernah habis," kata Fadlun.
Ada sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Bom birmil yang dijatuhkan tentara rezim Bashar al-Assad tepat jatuh di atas sebuah taman kanak-kanak di Aleppo, meratakannya dengan tanah.
"Betul-betul ketika kejadian kami ada di lokasi. Di situ ada TK dan Playgroup, dihantam (bom birmil), meninggal semua 50 orang anak," lanjut Fadlun.

Relawan Suriah

Relawan Indonesia bersama dengan para pejuang Suriah (Foto: Dok. Misi Medis Suriah)
"Saya pernah melihat korban tewas saat bencana di Jogja, tapi ini berbeda. Di Jogja meninggal karena gempa (tahun 2006), tapi ini karena dibom. Rasanya mudah sekali mereka (rezim Suriah) melakukan tindakan ini, keji sekali," ujar dia.
Bom birmil yang juga dikenal dengan nama barrel bomb terbuat dari gentong minyak raksasa yang diisi TNT berdaya ledak tinggi dan berbagai serpihan besi, gotri, paku dan benda tajam lainnya. Bom yang bisa dibuat dengan murah ini dijatuhkan dari helikopter dan meledak jika pelatuk yang terletak di hidung gentong menyentuh tanah.
Relawan lainnya yang pernah ke Aleppo, seorang dokter asal Indonesia, Henri Perwira Negara mengatakan setiap harinya sekitar 80 bom birmil dijatuhkan di kota itu. Dampaknya juga sangat fatal.
"Ketika ada helikopter, masyarakat sudah ancang-ancang kabur. Birmil yang besarnya 3-5 kali drum minyak itu daya ledaknya luar biasa. Bangunan lima tingkat bisa langsung hancur jika dihantam bom ini," kata Henri.
Dokter yang kini bertugas di Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang, Jawa Tengah, itu berada di Suriah selama 1 tahun antara November 2013 hingga November 2014 di bawah bendera lembaga kemanusiaan Misi Medis Suriah (MMS).
Selama lima bulan dia bertugas di sebuah rumah sakit di Aleppo. Setiap harinya di kota itu, Henri menangani lebih dari 100 orang pasien. Sekitar 10-25 persennya tidak tertolong alias meninggal dunia.
"Di Aleppo, saya sudah melihat para pasien dengan berbagai luka di setiap bagian tubuh mereka, tidak akan terlupakan," kata dokter berusia 29 tahun ini.
Front pertempuran paling sengit
MMS dengan donasi masyarakat Indonesia berhasil membangun pabrik roti di Aleppo. Relawan MMS lainnya, Ihsanul Faruqi, mengatakan akibat pertempuran sengit di Aleppo, pabrik roti itu kini hancur.
"Aleppo adalah front pertempuran paling sengit, karena di kota itu banyak faksi pejuang Suriah. Selain itu Aleppo sangat strategis karena merupakan kota industri, banyak pabrik-pabrik," kata Ihsan yang menyambangi Aleppo pada 2013.
Baik MMS dan Peduli Muslim bekerja sama dengan banyak faksi militan Suriah untuk pemberian bantuan. Mereka juga merekrut para aktivis setempat untuk mengetahui kebutuhan warga setempat.
Ginanjar Indrajati Bintoro, Ketua Umum Peduli Muslim, mengatakan saat itu para relawan mengandalkan visa on arrival selama 30 hari dari Turki untuk ke Suriah. Ginanjar mengatakan Peduli Muslim telah tiga kali mengirim relawan ke Suriah antara 2013-2015 untuk memberi bantuan yang nilainya miliaran rupiah.
"Kami mengandalkan aktivis setempat untuk menyalurkan bantuan. Tapi sebagian dari mereka meninggal satu per satu karena perang," kata Ginanjar kepada kumparan.
Selain bahan makanan, pakaian, selimut dan uang, donasi dari masyarakat Indonesia juga dibelikan pembalut wanita dan popok bayi. Barang-barang ini dibeli di Turki, untuk dikirim ke beberapa kota di Suriah, termasuk Aleppo.
"Kami banyak sekali beli popok dan pembalut wanita. Barang ini mungkin tidak terpikirkan sebelumnya, tapi kami mendengar informasi penduduk bahwa mereka butuh. Selain itu kami juga beli banyak sekali kateter untuk yang terluka," kata Fadlun.
Pengiriman bantuan dari Turki ke Suriah melalui jalan darat yang berbahaya. Tidak jarang para relawan harus bertaruh nyawa saat rombongan mereka diserang roket dan bom.

Relawan Indonesia

Relawan misi medis Suriah sedang bertugas di klinik (Foto: dok. Misi Medis Suriah)
Hal ini pernah dialami relawan Peduli Muslim lainnya, Dokter Muhammad Arifudin, saat dalam misi kemanusiaan di Suriah pada 2014.
"Rombongan kami yang membawa kontainer bantuan pernah diserang. Ditembak dan diroket, kena bagian samping dan depan kendaraan," kata dokter ahli bedah tulang di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah ini.
Arifudin mengatakan saat itu mereka tengah membawa bantuan selimut dan kambing untuk rakyat Suriah.
Relawan asal Indonesia lainnya, Abu Zubaidah, yang berada dalam rombongan itu menuturkan bahwa mereka diserang karena menyalakan lampu mobil dalam perjalanan di malam hari.
"Setelah perjalanan kira-kira satu jam dari bandara bekas rezim yang dikuasai pemerintah, tahu-tahu ada serangan dari pesawat tempur, kami ditembaki roket. Kami berhenti sebentar, lalu terus melanjutkan perjalanan," kata Abu.
Setahun terakhir pasukan rezim Suriah yang dibantu milisi Syiah dan pasukan udara Rusia menggempur Aleppo habis-habisan. Gencatan senjata disepakati akhir pekan lalu berkat perundingan antara Suriah, Rusia dan Turki.
Rakyat Aleppo dan para pejuang perlawanan di dalamnya dipersilakan evakuasi selama gencatan senjata berlangsung.
Namun laporan berbeda muncul di lapangan. Serangan masih terus diarahkan ke Aleppo dan korban masih terus berjatuhan. Berbagai lembaga internasional mengecam kekejaman yang terjadi di Aleppo sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di abad ini.
Ihsanul mengaku tidak kuat lagi melihat video-video yang bereda di media sosial tentang penderitaan Aleppo.
"Saya sudah tidak berani lagi melihat dampak serangan Rusia, tidak tega," kata Ihsanul.
Namun kendati hidup susah di Suriah, diintai bahaya dan berisiko kehilangan nyawa, para relawan Indonesia tidak kapok dan malah rindu kembali ke negara itu.
"Saya malah semakin bersemangat ingin menolong mereka," kata Fadlun yang status Whatsapp-nya berbunyi "I will come back...ya Ahlus Syam!"


NewsSuriahAleppoKisah RelawanInternasional

500

Baca Lainnya