kumparan
11 Sep 2017 17:02 WIB

Maraton Diplomasi Menlu Retno di Dua Negara Demi Rohingya

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi melakukan gerak cepat dengan menyambangi beberapa negara dalam misi perlindungan Rohingya pada konflik di Rakhine, Myanmar. Berbicara di depan rapat Komisi I DPR RI di Jakarta, Retno mengatakan dia melakukan "maraton diplomasi untuk kemanusiaan."
ADVERTISEMENT
Retno memaparkan, maraton diplomasi yang dia lakukan dimulai pada 3 September lalu dengan tiba di Yangon. Sehari setelahnya, 4 September, Retno ke Nay Pyitaw untuk bertemu para pejabat tinggi Myanmar, termasuk panglima angkatan darat Min Aung Hlaing dan penasihat negara Aung San Suu Kyi.
"Dalam pertemuan tersebut kami sampaikan pentingnya de-eskalasi, perdamaian, dan stabilitas. Pentingnya militer melakukan perlindungan terhadap innocent civilian. Pentingnya angkatan bersenjata membantu akses kemanusiaan, juga soal rekomendasi Kofi Annan," ujar Retno di rapat Komisi I DPR RI, Senin (11/9).
Di Myanmar, lanjut Retno dia juga bertemu dengan beberapa menteri dan pertemuan informasi dengan badan pengungsi PBB UNHCR dan para dubes asing.
Tanggal 5 September, Retno melanjutkan penerbangan ke Dhaka, Bangladesh. Di Bangladesh, Retno bertemu dengan Perdana Menteri Sheikh Hashina dan UNHCR. Ratusan ribu warga Rohingya kini mengungsi ke Bangladesh setelah desa-desa mereka dibakar tentara Myanmar.
ADVERTISEMENT
Dari Bangladesh, Retno menuju Singapura untuk menemani Presiden Joko Widodo dalam peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura.
Retno Marsudi Rapat Kerja Dengan Komisi I DPR (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
"Ini merupakan marathon diplomacy for humanity...Indonesia adalah salah satu negara pertama yang melakukan pertemuan di Myanmar dan Bangladesh," kata Retno.
Kepada anggota Komisi I DPR, Retno mengatakan pertemuan tersebut berbuah kesepakatan. Di antaranya adalah pemberian akses 11 gabungan lembaga kemanusiaan Indonesia dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar atau AKIM. Kegiatan pemberian bantuan AKIM akan dipimpin pemerintah Myanmar.
Myanmar, kata Retno, juga berkomitmen terhadap rekomendasi pelapor khusus PBB untuk Rakhine, Kofi Annan. Bahkan menurut Retno, Myanmar akan membentuk komite tugas untuk koordinir rekomendasi itu.
Di Bangladesh, Retno mendapatkan pemaparan soal barang-barang apa yang diperlukan bagi pengungsi di negara itu, di antaranya adalah makanan dan air bersih.
ADVERTISEMENT
Ada ratusan ribu pengungsi Rohingya yang datang ke Bangladesh sejak gelombang kekerasan terjadi pada 25 Agustus lalu. Kekerasan terbaru ini terjadi setelah penyerangan pos-pos polisi oleh militan, berujung pembalasan yang menewaskan ratusan warga Rohingya dan pembakaran rumah-rumah mereka.
"Serangan ini dibalas dengan pembersihan militer Myanmar yang memakan korban jiwa lebih banyak. Pengungsi ada dua jenis. Untuk komunitas Islam, mereka mengungsi ke utara. Untuk Buddha mereka mengungsi ke selatan, ibu kota Rakhine," ujar Menlu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan