• 4

Menyusuri Rute Panjang Relawan Indonesia Menuju Aleppo

Menyusuri Rute Panjang Relawan Indonesia Menuju Aleppo



Relawan Indonesia

Relawan Indonesia bersama anak-anak Suriah (Foto: Dok. Misi medis Suriah)
Beberapa relawan asal Indonesia berhasil masuk ke wilayah Suriah, termasuk Aleppo, untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan hasil donasi masyarakat di tanah air.
Bukan perkara mudah untuk masuk ke negara yang tengah berperang ini, setiap likunya penuh tantangan dan rintangan.
Ada satu kesamaan dari semua relawan yang berangkat ke Suriah: perjalanan dimulai lewat Turki.
Ihsanul Faruqi dari lembaga amal Misi Medis Suriah (MMS) yang masuk ke Suriah pada 2013 mengatakan kepada kumparan, perjalanan diawali dari penerbangan dari Jakarta menuju Istanbul.
Dari Istanbul, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat ke provinsi Hatay, provinsi Turki yang berbatasan dengan Suriah. Di Hatay, dia bersama relawan MMS lainnya sempat menunggu beberapa hari sebelum akhirnya menggunakan jalur tidak resmi di darat menuju Idlib, Suriah.
Saat itu menurut Ihwan, penjagaan di perlintasan itu tidak terlalu ketat. Bahkan relawan pembawa bantuan kemanusiaan disambut baik dan dipermudah untuk masuk.
"Kondisi tidak memungkinkan untuk lewat jalur resmi, akhirnya lewat jalur logistik. Jalur ini digunakan kelompok perlawanan Suriah untuk membawa suplai dari Turki," kata Ihsan.

Rute Indonesia Menuju Aleppo

Indonesia menuju Aleppo lewat jalur udara dan jalur darat (Foto: Bagus Permadi/kumparan)
Ihsan dan relawan MMS lainnya menggunakan mobil boks tertutup. Berada berjam-jam di dalam kotak yang gelap dan pengap, Ihsan tidak tahu keadaan di luar. Yang jelas, kata dia, jalanan saat itu terjal dan tidak rata.
Saat pintu boks dibuka, mereka disambut kelompok bersenjata.
"Mobil berhenti, disuruh bongkar muatan. Kami disuruh turun, beberapa orang yang memegang senjata menyambut, itu tandanya kami sudah masuk Suriah," lanjut dia.
Untuk masuk ke Suriah, MMS menjalin koneksi dengan kelompok pejuang dan ulama setempat. Dengan cara itu, ketika datang mereka disambut dengan baik dan tanpa kecurigaan.

Beberapa orang yang memegang senjata menyambut, itu tandanya kami sudah masuk Suriah

- Ihsanul Faruqi, relawan Misi Medis Suriah

Relawan lainnya dari lembaga Peduli Muslim, Abu Zubaidah, juga melalui jalur yang sama untuk masuk ke Suriah. Bedanya, di perbatasan mereka dijemput oleh staf Rumah Sakit Orient di Idlib, tempat bantuan disalurkan.
"Saat itu perbatasan masih lancar untuk masuk, kami disambut baik, bisa keluar-masuk membeli bahan bantuan di Turki untuk disalurkan ke Suriah," kata Abu Zubaidah yang telah tiga kali menyalurkan bantuan ke Suriah, terakhir pada tahun 2015.
Namun setelah kondisi memburuk di tahun 2015, terutama karena pengeboman ISIS, untuk masuk ke Suriah dipersulit. Abu Zubaidah mengaku pernah menunggu selama satu minggu di Idlib untuk menunggu konfirmasi dari pihak RS Orient yang memeriksa identitas mereka.
Masyarakat Hatay yang awalnya ramah juga mulai antipati karena diduga anggota ISIS.

Relawan Indonesia

Relawan misi medis Suriah berfoto dengan pemuda Suriah (Foto: Dok. Misi media Suriah)
"Ketika kami menginap di rumah teman, orang Suriah di Kota Reyhanli, masyarakat protes, kami dianggap ISIS. Akhirnya kami harus pindah dan menyewa hotel," ujar Abu Zubaidah.
"Kelakuan orang ISIS, mereka menghancurkan rute mujahidin dengan membuat bom di Turki, Istanbul. Mereka ini bukan pejuang Islam, tapi menghancurkan kehidupan," lanjut dia lagi.
Abu Zubaidah sebulan berada di Suriah, sesuai dengan lama tinggal visa on arrival yang ditentukan oleh otoritas Turki. Namun Ihsan satu tahun di Suriah, tidak peduli visanya telah habis.
Walau dianggap overstayer, Ihsan tidak menemui kendala berarti di bandara Istanbul saat hendak pulang ke tanah air.
"Kami sudah sepakat, paling tidak kami dideportasi, yang penting bisa pulang. Di bandara kami hanya dibawa ke loket khusus pendatang overstay dan membayar denda sekitar 200 dolar Amerika, lalu boleh pulang," ujar Ihsan.


NewsSuriahAleppoKisah RelawanInternasional

500

Baca Lainnya