• 0

Perjalanan Sopir Truk Maut Berlin di Jalur Radikalisme

Perjalanan Sopir Truk Maut Berlin di Jalur Radikalisme



Anis Amri

Paspor Tunisia milik Anis Amri. (Foto: REUTERS)
Keluarga Anis Amri tidak mengira pria 24 tahun itu akan diburu polisi karena kejahatan terorisme: membunuh 12 orang dengan truk. Mereka tidak percaya Amri yang dikenal bergajul itu berubah radikal dan mengikuti paham ISIS.
Walid, saudara lelaki Amri mengatakan adiknya itu jarang shalat dan meminum minuman keras saat masih tinggal di Tunisia, negara kelahirannya. Mereka menduga, Amri menjadi radikal saat dipenjara selama 4 tahun di Italia.
"Mungkin dia menjadi seperti ini ketika di penjara dan bertemu orang Aljazair, Mesir, dan Suriah," kata Walid, dikutip Reuters.
Amri menabrakkan truk yang dibajaknya ke arah kerumunan pasar Natal di Berlin, Jerman, hari Minggu lalu. Sebanyak 12 orang tewas dalam peristiwa itu, lebih dari 40 lainnya terluka.
"Dia tidak mewakili keluarga kami. Dia masuk penjara dengan sebuah mentalitas dan keluar dari tempat itu dengan mentalitas yang berbeda," kata kakak lelakinya yang lain, Abdulkadir.
Keluar dari sekolah
Amri lahir pada 22 Desember 1992 di kota kecil Oueslatia, Tunisia. Dia adalah anak bungsu dari 10 bersaudara. Pria yang drop-out dari sekolah pada usia 14 tahun ini terkenal badung, gemar minum alkohol dan berpesta.
Pada Maret 2011 bersama dengan tiga kawannya, Amri menggunakan perahu mengungsi dari Tunisia menuju Italia, beberapa bulan setelah revolusi Arab atau Arab Spring pecah di Timur Tengah.
Pada Oktober 2011, Amri ditangkap di Belpasso, kota kecil di pesisir Sisilia, Italia. Dia kemudian divonis empat tahun penjara karena membakar dan merusak tempat penampungan pengungsi. Amri baru keluar penjara pada Mei 2015.

Anis Amri

Dua penampilan berbeda dari Anis Amri. (Foto: REUTERS)
Amri masuk ke Jerman pada Juli 2015, tepatnya ke negara bagian North Rhine-Westphalia. Baru pada Februari 2016, Amri menetap di Berlin dan bekerja sebagai buruh bangunan serta tukang masak.
Pada Maret 2016, Amri diselidiki atas dugaan perencanaan perampokan untuk membeli senapan otomatis, perdagangan narkoba, dan perkelahian di bar. Sejak itu dia diawasi oleh mata-mata. Namun pengawasan terhadap Amri dihentikan pada September 2016 dengan alasan yang tidak diketahui.
Pemerintah Jerman pada Juni 2016 memutuskan Amri harus dideportasi ke Tunisia. Namun pemerintah Tunisia tidak mengakuinya karena tidak memiliki paspor yang sah.
Amri sempat ditahan oleh polisi perbatasan Swiss dan dibebaskan pada Agustus 2016. Pada 19 Desember, Amri menabrakkan truk ke arah pasar Natal Breitscheidplatz di Berlin. Dia kemudian menjadi buronan sebelum akhirnya tertembak mati di Milan, Italia.
Siap mati
Selama tinggal di North Rhine-Westphalia, Amri melakukan kontak dengan Abu Walaa, ulama radikal yang ditangkap polisi pada November lalu. Abu Walaa didakwa karena membangun jaringan untuk merekrut Muslim bergabung dengan ISIS di Suriah.
Abu Walaa yang memiliki nama asli Ahmad Abdulaziz Abdullah A tengah menunggu pengadilan.
Media Jerman, Bild, mengatakan Amri aktif dalam komunikasi dengan jaringan radikal di internet. Dalam sebuah postingannya, dia mengaku siap mati dalam serangan.

NewsInsiden Berlin Insiden Truk BerlinSerangan TerorisInternasional

500

Baca Lainnya