• 2

Pesan Terakhir dan Asa yang Putus dari Warga Aleppo

Pesan Terakhir dan Asa yang Putus dari Warga Aleppo



Konflik di Aleppo, Suriah

Konflik di Aleppo, Suriah (Foto: Reuters/Omar Sanadiki)
Lina Shamy, aktivis di timur Aleppo adalah gambaran dari mayoritas warga di kota bagian baratdaya Suriah: putus asa. Walau telah diterapkan gencatan senjata di Aleppo, namun Shamy dan banyak warga kota itu masih takut akan kematian.
Dalam "pesan terakhirnya" di Twitter, Shamy mengungkapkan kegundahannya.
"Ini mungkin adalah video terakhir saya. Lebih dari 50 ribu warga sipil yang memberontak terhadap diktator [Presiden Suriah Bashar al Assad] terancam dieksekusi atau tewas dibom," kata Shamy.
Pesan terakhir melalui media sosial tidak hanya disampaikan Shamy, salah satunya yang juga melakukannya adalah Abdulkafi al-Hamdo. Dalam videonya di Twitter Selasa lalu, aktivis dan guru bahasa Inggris di timur Aleppo ini mengaku tidak lagi menaruh asa kepada komunitas internasional.
"Saya tidak lagi percaya kepada PBB. Tidak lagi lagi percaya kepada komunitas internasional....Rusia tidak ingin kami keluar hidup-hidup. Mereka ingin kami mati. Assad sama saja," kata al-Hamdo.
Shami dan al-Hamdo adalah sebagian kecil dari puluhan ribu warga sipil Aleppo yang harus mengungsi setelah kesepakatan gencatan senjata disepakati oleh Suriah, Rusia dan Turki Selasa lalu. Gencatan senjata ini adalah kemenangan bagi rezim Assad, dan kekalahan bagi pemberontak.
Dalam kesepakatan itu, para militan dan warga harus mengosongkan Aleppo. Mereka rencananya akan dievakuasi dengan aman pada Rabu namun molor hingga Kamis waktu setempat. Kesepakatan ini sekaligus mengakhiri gempuran selama satu tahun di kota kedua terbesar di Suriah tersebut.
Gelombang pengungsi diperkirakan akan meningkat dari Aleppo. Namun PBB khawatir dengan keamanan mereka, terutama karena persediaan pangan di wilayah tersebut semakin menipis dan mereka terancam jadi sasaran serang tentara Suriah dan militan Syiah.

Infografis - Konflik Panjang di Aleppo

Linimasa konflik berdarah yang terjadi di Aleppo. (Foto: Kumparan/Bagus Permadi)
Suriah yang menjanjikan keamanan para pengungsi dilaporkan menembaki warga. PBB menyebut perkembangan situasi ini sebagai "kemanusiaan yang luruh seluruhnya."
"Laporan yang kami terima, orang-orang ditembaki di jalan saat mencoba kabur, dan mereka juga ditembaki di rumah-rumah sendiri," kata Rupert Colville, juru bicara PBB dikutip Reuters.
Pihak militer Suriah membantah menembaki para pengungsi Aleppo. Mereka berdalih, para pemberontak di kota itu menjadikan "100 ribu warga Aleppo sebagai tameng manusia."
Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft mengatakan tragedi Aleppo masuk dalam daftar konflik-konflik paling berdarah di seluruh dunia.
"Aleppo akan masuk dalam sejarah dunia tentang daftar kejahatan di era modern, yang menggugah kesadaran hingga puluhan tahun - Halabja, Rwanda, Srebenica dan sekarang Aleppo," kata Rycroft.
Babak baru Aleppo
Kesepakatan gencatan senjata pekan ini tidak ayal merupakan babak baru bagi Aleppo. Sejak Februari tahun ini, pasukan Suriah yang dibantu milisi Syiah yang disokong Iran dan Rusia mengepung kota bersejarah tersebut.
Ada puluhan faksi militan anti pemerintah Assad yang menguasai sebagian kota tersebut, yang paling terkenal adalah Jabhat Fathat al-Sham, pecahan dari Jabhat al-Nusra yang berafiliasi dengan al-Qaidah. Pemberontak menguasai bagian timur Aleppo, sementara rezim pemerintah di barat.
Aleppo atau "Halab" dalam bahasa Arab adalah salah satu kota bersejarah dunia yang disebut dalam banyak literatur Mesir di abad ke-20 sebelum Masehi. Kuil-kuil kuno yang termasuk dalam daftar warisan dunia banyak bertebaran di kota yang sekarang tinggal serpihan ini.
Kota ini menjadi jantung pemberontakan Suriah yang dimulai pada Arab Spring tahun 2011 lalu. Dengan populasi yang jumlahnya terus menurun, kota ini merupakan wilayah penting yang harus dikuasai rezim Assad.

Mereka yang Bertikai di Suriah

Kelompok-kelompok yang bertikai di kota Aleppo, Suriah (Foto: Kumparan/Bagus Permadi)
Aleppo adalah persinggahan bagi jalur pasokan menuju utara Suriah yang digunakan para militan anti-pemerintah. Menguasai kota ini, militer Assad berhasil memutus jalur persediaan pasukan pemberontak.
Warga Aleppo kini tengah bersiap untuk mengungsi. Beberapa dari mereka memilih tinggal di rumah, menunggu dijemput pasukan Suriah, atau berjalan menuju perbatasan kota. Saksi mata kepada Reuters mengatakan, sebagian warga membakar harta benda mereka.
Pembakaran benda yang tidak bisa dibawa seperti perabotan, foto-foto, buku, pakaian hingga mobil terpaksa dilakukan lantaran mereka tidak rela harta mereka dijarah oleh pasukan Suriah dan militan Syiah.
Ancaman kematian terus mengintai setelah muncul laporan penembakan dan pengeboman oleh pasukan Suriah ke kediaman warga. Pesan-pesan terakhir terus bermunculan, menjadi wasiat pamungkas orang-orang korban perang di kota tersebut.
Beberapa hari terakhir, Bana Alabed, merekam pesan terakhirnya. Bocah berusia 7 tahun ini sebelumnya memantik perhatian dunia dengan akun Twitternya yang menggambarkan kengerian hidup di garis depan medan perang.
"Nama saya Bana, saya 7 tahun. Saya berbicara kepada dunia langsung dari Timur #Aleppo. Ini adalah saat terakhir saya, apakah akan hidup atau mati," kata Alabed.

NewsInternasionalSuriahAleppoTerorisme

500

Baca Lainnya