• 0

Relawan Indonesia di Suriah Ditembaki Tank, Diroket Jet Tempur

Relawan Indonesia di Suriah Ditembaki Tank, Diroket Jet Tempur



Perang di Aleppo, Suriah

Pasukan penyelamat Helm Putih mengevakuasi anak-anak dalam penyerangan di Aleppo, Suriah (Foto: Reuters/Sultan Kitaz)
Kengerian dan peristiwa mendekati maut adalah makanan sehari-hari relawan Indonesia di Suriah. Tidak jarang, mereka terjebak dalam pertempuran atau menjadi sasaran serangan mematikan ketika dalam misi kemanusiaan.
Ihsanul Faruqi, relawan dari lembaga amal Misi Medis Suriah, selain bertugas memberikan bantuan juga melaporkan langsung kondisi di medan perang Suriah kepada warga Indonesia melalui sosial media.
Saat dalam misi kemanusiaan selama setahun pada 2013-2014, pria yang akrab disapa Cak Ihsan ini pernah ikut bersama para pejuang Suriah berpatroli atau menjaga pos pertahanan di medan perang.
Suatu kali bersama mereka, Ihsan diintai maut.
Saat itu dia ikut para pejuang Suriah berjaga di sebuah parit perlindungan di Jabal Akrad, Lattakia. Tugas Ihsan adalah merekam aktivitas mereka saat berjaga.
Ternyata keberadaan Ihsan dan lima pejuang Suriah parit itu diketahui tentara rezim Bashar al-Assad. Sontak saja parit tersebut menjadi sasaran tembakan roket dan mortir.

Relawan Indonesia

dibalik parit perlindungan jabal akrad, Suriah (Foto: Dok. Misi medis Suriah)
"Kami dihajar tank hingga guling-gulingan karena daya hempasnya yang keras. Harusnya kami sudah keluar parit, tapi tidak bisa, terjebak berjam-jam," kata Ihsan kepada kumparan, Rabu (21/12).
Di dalam parit, perasaan Ihsan campur aduk.
Takut tentu saja, namun ada perasaan lain yang aneh. Ada sebuah ketenangan tersendiri yang dia rasakan saat itu. Ketenangan ini dirasakan karena para pejuang Suriah sama sekali tidak terlihat ketakutan, malah bercanda, padahal mereka sedang dihujani bom.
"Mereka masih bisa bercanda dengan teman-temannya. Saya tanya 'bagaimana ini?', mereka jawab dengan nada yang konyol, 'biarkan saja mereka menembak, lumayan biar peluru mereka habis,'" kata pria berusia 29 tahun ini.

Saya tanya 'bagaimana ini?', mereka jawab dengan nada yang konyol, 'biarkan saja mereka menembak, lumayan biar peluru mereka habis

- Ihsanul Faruqi, relawan Misi Medis Suriah

Mereka terjebak di dalam parit itu selama sekitar 3-4 jam, dari sore hingga menjelang Isya. "Kami terpaksa tertawa, ketenangan itu mengalahkan rasa takut. Ketika kita terguling terkena serangan tank, sakit dan berdebar-debar, tapi tiba-tiba hilang begitu saja," ujar dia lagi.
Ditembaki oleh jet tempur
Peristiwa menyerempet ajal juga dialami oleh para relawan dari lembaga amal Peduli Muslim di Suriah. Mereka pernah ditembaki kendaraannya saat membawa bantuan selimut bagi warga Aleppo yang dibeli dari Turki.
"Kami konvoi lima mobil membawa bantuan ribuan selimut dari perbatasan Babul Hawa ke Suriah. Dalam perjalanan malam, tahu-tahu ada serangan dari pesawat tempur, ditembaki pakai roket," kata seorang relawan Peduli Muslim, Abu Zubaidah, yang ke Suriah pada Oktober 2014.
Jet tempur mengetahui posisi mereka karena salah satu mobil rombongan menyalakan lampu. Beruntung tembakan-tembakan itu tidak ada yang mengenai mereka, jatuh di jarak sekitar 20 meter dari kendaraan.

Relawan Indonesia

Relawan misi medis Suriah berfoto dengan pemuda Suriah (Foto: Dok. Misi media Suriah)
"Kami panik, namun orang Suriah yang bersama kami mengatakan untuk terus jalan. Kami langsung tancap gas tanpa lampu," kata pria berusia 41 tahun ini.
Di lain kesempatan, Abu Zubaidah dan relawan Peduli Muslim lainnya terjebak di markas mereka di Idlib seharian karena wilayah sekitar itu dihujani bom.
"Kami seharian hanya duduk di markas. Lebih dari 50 bom di jatuhkan, terdekat sekitar 30 meter dari kami. Kami hanya duduk dan pasrah kepada Allah," lanjut dia.
Relawan Peduli Muslim lainnya, Fadlun Abul Barra, mengaku tidak bisa tidur saat pertama kali menyambangi Suriah pada 2014. Semalaman suara bom tidak putus-putus berdentum.
Satu kali, dia menyambangi kantor bantuan kemanusiaan di Idlib untuk menanyakan bantuan apa yang paling dibutuhkan masyarakat setempat.
"Lalu kami keluar sebentar untuk menemui seseorang. Tidak lama kemudian kantor itu dibom dan ambruk," kata Fadlun.
"Jika kami tidak pergi dari situ mungkin sudah ikut hancur."


NewsSuriahAleppoKisah RelawanInternasional

500

Baca Lainnya