• 1

Relawan Indonesia di Suriah Kedinginan Sampai Mimisan

Relawan Indonesia di Suriah Kedinginan Sampai Mimisan



Relawan Asal Indonesia di Suriah

Kebersamaan relawan Indonesia dan anak-anak di Suriah (Foto: Ihsanul Faruqi/Facebook)
Relawan Indonesia mengaku butuh waktu untuk akhirnya terbiasa dengan kehidupan di Suriah. Perbedaan cuaca dan jenis makanan membuat relawan sulit menyesuaikan diri di negara yang tengah berkonflik itu.
Relawan dari Misi Medis Suriah (MMS), Ihsanul Faruqi, mengaku awalnya tidak masalah memakan roti, makanan pokok di Suriah. Namun setelah satu bulan hanya mengonsumsi menu olahan dari terigu, dia mengaku mual.
"Hari pertama-kedua enak, sekitar satu bulan jadi eneg. Aneh saja, makan roti, perasaan enggak kenyang," kata Ihsan dalam wawancara dengan kumparan, Kamis (21/12).
Selain bahaya yang mengintai, cuaca juga menjadi hambatan terbesar bagi para relawan. Ihsan yang berada di Suriah selama setahun antara 2014 dan 2015 mengatakan saat terberat berada di negara itu adalah ketika salju turun.
Salju jadi momok bagi para relawan dari negara tropis seperti dirinya. Menurut Ihsan, salju tidak seindah yang selama ini dilihat di televisi.
"Kita menonton di TV orang-orang bermain salju, tapi ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Ternyata salju itu sangat dingin," kata Ihsan.
Kondisi dingin dan kering saat musim salju di Suriah membuat mereka tersiksa.
"Saya mimisan, bibir berdarah-darah, pecah, dan itu terjadi hampir setiap hari," kata dia.
Saat musim dingin sumber air juga membeku. Akhirnya mau tidak mau mereka harus mengambil salju dan memanaskannya untuk keperluan bersuci dan minum
Namun hal ini tidak membuat Ihsan kapok menyalurkan bantuan ke Suriah. Dia mengatakan MMS mengirim bantuan ke Suriah lagi tahun depan.
"Kita akan mengirim bantuan lagi tahun depan. Jika tidak diajak, saya yang akan memaksa ikut," tegas Ihsan.

NewsSuriahKisah RelawanInternasional

500

Baca Lainnya