Pencarian populer
USER STORY
20 Maret 2018 11:33 WIB
5
0

Australia 'Rasa' Indonesia di Sydney

Suhu udara yang masih sejuk pada pukul 7:20 waktu setempat menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Royal Botanic Gardens, Sydney pada Sabtu (17/3).

Taman seluas 30 hektare itu memang jauh lebih kecil dibanding luas Kebun Raya Bogor seluas 87 hektare, tempat Presiden biasa berolahraga, namun kekayaan vegetasi kedua taman tersebut menjadi inspirasi riset yang berharga bagi generasi.

Di tempat itu juga Presiden, Ibu Negara dan pejabat pemerintah Indonesia lainnya menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berbicara dengan generasi muda Indonesia yang mengikuti program "Outstanding Youth for the World" (OYTW) 2018 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

Ada 19 orang yang lolos seleksi Kemlu lalu menyerap nilai keberagaman dari para tokoh pluralis di berbagai negara, selanjutnya mereka menjadi duta toleransi untuk membagikan semangat toleran kepada setiap orang apapun latar belakangnya.

"Yang paling penting bagi mereka saya titipkan agar menjadi agen toleransi, agen perdamaian yang bisa menceritakan mengenai organisasi yang beragam suku, beragam agama, beragam bahasa daerah," kata Presiden Joko Widodo kepada wartawan seusai bertemu dengan 18 peserta program tersebut.

Tujuannya adalah agar selama empat hari di Asutralia para peserta dapat berkenalan dengan anak-anak muda dari Australia sekaligus membandingkan kondisi anak-anak muda di Indonesia.

"Tapi kita tetap satu menjadi sebuah bangsa besar Indonesia, saya lihat banyak dari Lombok, Manado, Bali, dari Jakarta, Jombang, Kudus, ada yang dari mana lagi Tasik, jadi anak-anak muda ini biar kenal dengan saudara-saudara mereka yang ada di Australia," ungkap Presiden.

Tentu "beban" menjadi duta toleransi itu tidak disampaikan dengan cara-cara kaku dan ketat, tapi lebih dengan "cara Indonesia" yaitu "ngobrol" sambil sesekali bercanda.

Mengenai Harapan

"Saya mengucapkan terima kasih banyak pak, saya berangkat dari Lombok, pertama kalinya Pak, pertama kali naik pesawat, pertama kali makan 'steak', ikan salmon, enak banget Pak pertama kali keluar negeri," kata Harun Al Rosyid yang berasal dari Madrasah Aliyah Mu’allimin Nadlatul Wathan Pancor, Lombok saat bertemu dengan Presiden di gerbang Royal Botanic Garden.

"Wah baru pertama kali semua dong," jawab Presiden Jokowi sambil jalan santai di jalur "jogging" yang berbatasan langsung dengan Teluk Sydney dan bisa memandangi dengan jelas gedung Opera House.

"Pertama kali ketemu Presiden," kata Harun lagi.

"Saya lihat sepatunya banyak yang baru ini," tanya Presiden yang disambut dengan tertawa para peserta.

Obrolan pun mengalir lancar baik dari peserta program "Outstanding Youth for the World" 2018 maupun dari Presiden Joko Widodo sendiri.

"Sebetulnya ada satu orang lagi Pak, tapi dia sakit, yang dari Kong Hu Chu, nanti dikasih fotonya saja," kata salah satu peserta.

"Nanti malah nangis loh diberi foto tapi tidak ikut," jawab Presiden terkekeh.

Ketika salah satu peserta bertanya apa olahraga kesukaan Presiden, Presiden pun menjawab ia melakukan beberapa olahraga.

"Saya jogging, sepedaan, panah, kemarin 'nyoba' tinju," jawab Presiden.

Tidak ketinggalan Presiden pun sempat melontarkan ledekan mengenai selera musik Via Vallen kepada generasi muda tersebut. Pembicaraan mengenai Via Vallen awalnya dimulai dengan pertanyaan Amarros Afiq Muhammad dari Pesantren Al Muayyad, Solo mengenai musik favorit Presiden Joko Widodo.

"Musik yang memberi semangat karena drumnya, dug-dug-dug, coba lihat saja, aada yang membawa (semangat) anti-korupsi, anti-narkoba, perdamaian, kita diingatkan satu saudara loh dan apa yang berkaitan dengan itu, tapi yang paling penting itu, drumnya dug-dug-dug memberi semangat," kata Presiden.

"Apa pesan Bapak untuk musisi muda Indonesia untuk bisa berkarya dan bersaing di zaman milenial?" tanya Ammaros.

"Ya kalau membuat sesuatu diperbaharui terus, pasti nanti akan ketemu itunya, tapi anak muda sekarang senangnya Via Vallen," jawab Presiden yang sekali lagi mendatangkan tawa mereka.

Presiden pun yakin bahwa generasi muda Indonesia dapat hidup saling menghormati dan menghargai, meski keributan sering muncul di media sosial.

"Kita harus merasa satu saudara, bagaimana kalau tidak rukun, ini yang sering rame-rame di media sosial. Kenyataaannya saya rasa biasa-biasa saja, anak muda sekarang semuanya sudah bisa saling membantu, berangkulan, bisa bersatu, potensi menjadi kekuatan besar anak muda," jelas Presiden di salah satu bangku taman tersebut.

Presiden juga mengingatkan bahwa semua manusia pasti punya kesalahan dan tidak sempurna.

"Presiden kan juga manusia biasa, banyak kekurangannya, masih ada kekurangannya, semua menyadari seperti itu, banyak kekurangan, kesalahan, salah biasa namanya juga manusia," ungkap Presiden.

Tapi meski saling menghormati, generasi muda harus terus memperbaiki diri agar tidak ketinggalan dibanding para pemuda lain di mancanegara.

"Kita harus kerja keras supaya kita tidak tertinggal dengan negara-negara lain, negara lain sudah sampai mana kok kita belum? Kita harus kerja keras, jangan mau sampai tertinggal, mau ditinggal? Tapi kita kalau lomba matematika, fisika di dunia pasti ada yang menang, juara 1, 2, 3, ya artinya itu kita pinter. Jadi jangan sampai kita mau diadu-adu, diingatkanlah kalau ada begitu, diingatkan dari yang muda-muda dulu langsung," tambah Presiden.

Presiden pun meminta Menlu Retno Marsudi untuk menambah forum sejenis agar lebih banyak anak muda yang pergi keluar negeri agar mengetahui posisi Indonesia di mata dunia.

"Jangan mau kita misalnya di pesantren ya di pesantren saja, misalnya di mana Jombang, di Lombok, di situ saja. Kita harus kerja keras!" tegas Presiden.

Selain para peserta program "Outstanding Youth for the World" 2018, Presiden di taman itu juga bertemu dengan sekitar 30 mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sengajar berolahraga pagi di taman tersebut demi bertemu Presiden.

Meski tidak ikut mengobrol dengan Presiden tapi mereka dengan penuh senyum dan semangat menanti rombongan Presiden di titik tertentu agar dapat bersalaman dan berswafoto.

Salaman dan swafoto itu juga sebelumnya sudah dilakukan oleh Presiden bersama sekitar 100-an warga Indonesia yang menyambut kedatangannya di Hotel Four Seasons pada Jumat (16/3). Warga Indonesia yang bahkan sudah puluhan tahun bermukim di Indonesia dengan setia menunggu kedatangan Presiden sambil membawa bendera merah putih dan mengenakan baju batik, sesuatu yang menunjukkan "rasa Indonesia".

Pujian PM Turnbull

Tidak hanya bertemu dengan warga Indonesia, pelajar dan peserta program (OYTW), Presiden juga bertemu pelajar muslim Australia yang mengikuti program Indonesia-Australia Youth Interfaith Dialogue di International Convention Center, tempat diselenggarakannya KTT Istimewa ASEAN-Australia 2018 pada hari yang sama.

Kali ini Presiden ditemani Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop serta Menlu Retno Marsudi.

Dalam sambutannya, PM Turnbull memuji Presiden Indonesia sebagai "role model" atau panutan dunia dalam menjaga semangat keanekaragaman.

"Indonesia mendukung demokrasi, Islam dan semangat moderat. Berdiri di samping saya, salah satu pemimpin paling penting dan penjadi panutan dunia saat ini, saya sangat merasa terhormat bertemu dengan Anda," kata PM Turnbull.

Menurut PM Turnbull, Presiden Jokowi sukses membangun multikulturalisme, hal yang juga dilakukan Australia.

Dalam pertemuan itu Presiden pun menegaskan bahwa para pemuda itu adalah masa depan kedua negara yaitu sebagai duta toleransi dan perdamainnya yang dapat menghubungkan berbagai orang di berbagai belahan dunia.

Indonesia yang diwakili oleh Presiden Joko Widodo kembali menjadi pusat perhatian di KTT Istimewa ASEAN-Australia 2018 saat menjadi pembicara dalam acara CEO Forum.

Presiden menegaskan bahwa pusat perekonomian dunia sudah bergeser dari kawasan Atlantik ke Pasifik, ditinjau dari nilai perdagangan di kawasan tempat ASEAN dan Australia tersebut.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan satu teori mengapa kondisi politik menjadi sangat berwarna beberapa tahun terakhir.

"Penyebabnya satu kata yaitu "Netflix". Kita politikus kini berkompetisi dengan "Netflix" untuk mengambil perhatian masyarakat," kata Presiden yang disambut dengan tawa dan tepuk tangan peserta forum.

Netflix adalah layanan berbayar bagi para penggunanya untuk menonton tayangan menggunakan gawai mereka baik telepon selular, smartTV, "tablet", PC dan laptop.

   "Sejak kehadiran 'Netflix', politikus tidak punya pilihan selain harus mengubah politik menjadi realitas televisi, karena bila kita tidak melakukan hal itu, semua dari kita hanya akan menonton 'House of Card' dan hal-hal asing lainnya," ungkap Presiden yang kembali mengundang tawa.

Namun Netflix menurut Presiden tidak hanya membantu mengubah politik menjadi hiburan, tapi juga mendorong adanya revolusi digital.

"Suka tidak suka, semua orang dan semua hal bertranformasi dengan adanya 'mobile internet', 'cloud computing' dan 'digital economy', dan tren itu sangat kuat terjadi di Asia Tenggara, di ASEAN," kata Presiden yang berpidato dengan menggunakan bahasa Inggris.

Senada dengan Presiden Jokowi, PM Turnbull juga mengatakan bahwa dalam 40 tahun terakhir, kawasan Pasifik mengalami pertumbuhan ekonomi dan tidak ada tanda-tanda untuk melambat.

"IMF memprediksi dalam lima tahun ke depan, enam dari anggota ASEAN akan tumbuh lebih cepat dibanding China dan setiap negara anggota ASEAN akan tumbuh lebih cepat dibanding Amerika Serikat dan Uni Eropa," kata PM Turnbull.

PM Turnbull mengakui bahwa dirinya dan Presiden sama-sama berlatar belakang pengusaha sebelum masuk ke dunia politik, jadi memahami pentingnya perusahaan dan pemerintah dapat membuat kebijakan dan aturan untuk mendukung hal tersebut.

"Sekitar 430 ribu lapangan pekerjaan tercipta di Australia tahun lalu, tertinggi sepanjang sejarah kami dan kami mengalami pertumbuhan ekonomi terlama lapangan kerja sepanjang sejarah. Kami paham bahwa untuk melakukan hal tersebut butuh keberanian dan determinasi dari para pelaku usaha di Australa dan saat ini juga hadir di kawasan," ungkap PM Turnbull.

Ada banyak rasa dan semangat Indonesia yang sudah disebarkan Presiden Jokowi di Australia, pertanyaannya tinggal sampai kapan rasa dan semangat itu tinggal bahkan berkembang di sana?

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33