kumplus- Opini Detha- Lapangan Banteng

Andai Sinyo dan Noni Belanda Lapangan Banteng Tahu Citayam Fashion Week

16 Agustus 2022 17:15
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Anak muda era kolonial Belanda tak pernah kekurangan hiburan. Tiap sudut kota Batavia dapat disulapnya jadi tempat kongko yang asyik. Taman Lapangan Banteng salah satunya. Taman itu bak magnet yang mendatangkan anak muda, jadi ruang publik semua golongan. Namun, semua berubah ketika si kaya (sinyo, noni, hingga tuan dan puan Belanda) bergabung.
Lapangan Banteng jadi ajang pamer. Golongan elite mulai unjuk kemewahan. Dari pakaian hingga parfum—demi gengsi kolonial, katanya. Kalau boleh berkhayal, bagaimana jika golongan elite Batavia ikut meramaikan Citayam Fashion Week (CFW) yang bulan lalu sempat kesohor?
Di awal mula penjajahan Belanda, tanah Betawi kurang istimewa. Hiburan dan pelesiran pernah dianggap barang langka. Hiburan yang ada sebatas pesta kecil atau berkumpul bersama kerabat. Sebab, kawasan sekitar Batavia, utamanya daerah luar benteng (Ommelanden), masih berupa hutan belantara.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanPLUS
Apa negara lupa kalau Indonesia bisa merdeka karena rakyat? Kolom sejarah Detha Arya Tifada di @kumparanplus.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten