Waspada Konflik Palestina Israel Kembali Memanas

Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia
Konten dari Pengguna
11 April 2022 19:03
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Dewi Nurngaini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Waspada Konflik Palestina Israel Kembali Memanas  (10990)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pascaperang Sumber : Pixabay
ADVERTISEMENT
Bulan Ramadan 1443 Hijriah telah berlangsung, masyarakat Palestina perlu mewaspadai adanya serangan brutal dari Israel terhadap rumah ibadah Muslim Palestina. Berkaca dari satu tahun yang lalu, pada bulan Ramadan 1442 Hijriah, serangan yang dimulai pada awal Ramadan meningkat intensitas serangannya pada 1 Syawal 1442 Hijriah hingga menelan banyak korban jiwa. Warga Palestina perlu hati-hati dan waspada pasalnya, Israel dominan menyerang pada hari-hari besar umat Muslim.
ADVERTISEMENT
Konflik Israel Palestina adalah konflik identitas yang tidak kunjung menemukan penyelesaian. Konflik yang belakangan ini terjadi menyita perhatian media dari seluruh dunia. Bagaikan kayu yang diguyur minyak, konflik identitas ini membara dan melahap banyak korban jiwa. Diungkapkan oleh Kementerian Kesehatan Palestina, perang tersebut berlangsung selama 11 hari dengan memakan korban jiwa sebanyak 248 orang termasuk lansia, anak-anak, dan perempuan pada awal Syawal 1442 Hijriah
Dilansir dari Arab News, Israel melakukan sabotase pada pengeras suara Masjid Al-Aqsa disebabkan oleh polusi suara dan kebisingan aktivitas warga muslim yang dianggap mengganggu tentara Israel di area tembok Buraq. Serangan yang dimulai sejak hari ketiga bulan Ramadan akhirnya meledak pada Hari Raya Idulfitri. Kondisi tahun lalu pada jalur Gaza Palestina luluh lantak dibombardir oleh tentara Israel. Hal tersebut menarik empati dari masyarakat dunia tak terkecuali Indonesia melalui platfrom media sosial seperti Twitter. Tagar “Save Palestina” trending nomor satu yang berisikan utas dukungan untuk pembebasan Palestina. Bahkan warga Amerika Serikat menuntut pembebasan Palestina dengan aksi demo di jalan.
ADVERTISEMENT
Ancaman yang luar biasa akan mengganggu kestabilan keamanan kawasan, lebih-lebih lagi serangan tersebut dikabarkan akan datang di bulan Ramadan kali ini. Tiga orang warga Palestina tewas ditembak oleh Tentara Israel pada Kota Jenin. Hal tersebut menimbulkan ketegangan antara Palestina dan Israel. Meskipun Tentara Israel beralasan bahwa 3 warga palestina tersebut terlebih dahulu memulai penyerangan, hingga kini hal tersebut belum bisa dibuktikan. Palestina meminta bantuan pada dunia internasional dalam penanganan serangan Israel yang dapat terjadi kapan pun.
Tidak banyak yang bisa diharapkan dari PBB, bahkan penegakan hukum perang pada tahun 2021 pun tidak dapat dilaksanakan. Padahal penyerangan Masjid Al-Aqsa jelas melanggar Hukum Humaniter Internasional yang tercantum dalam Konvensi Den Haag 1977 dan 1954 tentang Perlindungan Properti Budaya dalam Peristiwa Konflik Bersenjata. Israel dibayang-bayangi oleh Amerika Serikat yang mendukung penuh gerakan kombatan perang Israel terhadap Palestina. Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat memiliki kendali terhadap badan internasional seperti PBB.
ADVERTISEMENT
Dukungan yang didapat Palestina hanya berasal dari negara-negara yang tidak mengakui negara Israel dan negara muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei yang tidak memiliki kekuatan cukup kuat untuk ikut melawan sekutu Israel. Bantuan yang didapat Palestina tidak sebesar bantuan yang diterima Israel oleh Amerika Serikat yang berupa senjata tempur, sedangkan Palestina hanya mendapatkan bantuan pangan dan obat-obatan. Ironis bantuan yang tidak seberapa tersebut terkadang dihambat dijalur masuk oleh tentara Israel. Bantuan kepada Palestina seharusnya bukan hanya bantuan pascaperang, namun dalam kondisi sebelum perang seperti alutsista yang saat ini sangat diperlukan
Keadaan terburuk yang akan menimpa Palestina tentu lebih dahsyat dari perang sebelumnya. Ancaman keamanan dan ketahanan pangan menghantui warga Palestina. Dengan mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah dialami, seharusnya pemerintah Palestina melakukan antisipasi sedini mungkin. Tidak banyak harapan dari warga Palestina, yakni mereka meminta bebas untuk melaksanakan ibadah di Masjid Al-Aqsa tanpa rasa cemas mendapatkan serangan mendadak ketika tengah melaksanakan ibadah.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020