kumparan
KONTEN PENGGUNA
20 Oktober 2018 12:08

Mau Melindungi atau Menghakimi?

Penderita gangguan kejiwaan
Penderita gangguan kejiwaan (ilustrasi). (Foto: Thinkstock)
Tak banyak orang yang paham bagaimana cara menghadapi penderita gangguan mental. Yang mereka tahu selama ini, mungkin cara membuat orang merasa lebih baik ketika ada orang yang bercerita kepadanya. Namun, justru 80 persen orang terdekat merupakan salah satu faktor yang memperburuk keadaan si penderita itu sendiri. Kok bisa?
ADVERTISEMENT
Di tulisan saya sebelumnya tentang pengalaman hidup sebagai seorang Bipolar, saya mengalami pasang surut hubungan dengan orang lain. Bahkan, saya hanya memiliki dua sahabat di dunia ini. Yang lainnya hanya sekadar relasi saja.
Bagi saya, dua sahabat, pasangan, dan keluarga adalah orang-orang yang tidak akan menghakimi saya. Karena merekalah yang mengerti bagaimana menghadapi seseorang yang punya 'kelebihan' seperti saya dan mengenal saya lebih dalam.
Banyak yang bertanya, mengapa saya tidak mencari teman untuk bercerita tentang gangguan mental saya ini? Karena menurut saya, sebagian besar dari mereka tidak membantu, malah justru memperparah emosi saya.
Suatu ketika saya pernah mencoba memberanikan diri untuk bercerita tentang keadaan emosi saya. Namun seorang teman itu justru mengatakan suatu yang seharusnya tidak boleh dikatakan kepada orang seperti saya.
"Kamu kurang bersyukur deh sama hidup. Mungkin kamu tidak dekat dengan Tuhan, makanya kamu seperti itu."
ADVERTISEMENT
Menurut saya, ucapan itu adalah kata-kata yang membuat diri saya semakin terpuruk terhadap diri saya. Saya merasa perkataan itu tidak membuat saya lebih baik, justru sebaliknya: menghakimi saya.
Jika kamu memiliki sahabat, pasangan, atau keluarga yang mengidap gangguan mental seperti bipolar, depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan mental lainnya, berikut ini adalah perkataan yang sebaiknya kamu hindari agar tidak semakin menyakiti mereka, yang dikutip dari pijarpsikolog.org.
1. “Yang lebih berat hidupnya dari kamu banyak kali”
Akuilah semua orang memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalam menghadapi suatu masalah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa orang yang bercerai tidak lebih sedih dari orang yang keluarganya hilang ditelan ombak tsunami. Atau orang yang dirisak tidak lebih sedih dari orang yang lahir di keluarga broken home. Semua berbeda.
ADVERTISEMENT
2. “Kamu kurang bersyukur sama hidup”
Jujur, setiap hari saya bersyukur bahwa saya masih memiliki orang tua, pekerjaan yang saya sukai, pasangan yang memahami saya. Tapi mengapa saya masih merasakan depresi? Karena depresi bukan cuma soal bersyukur saja.
Orang-orang dengan depresi secara klinis biasannya memiliki rasa rendah diri, perasaan bersalah, dan bahkan memiliki keinginan untuk mati. Dan itu sulit untuk dikendalikan.
3. “Mungkin kamu kurang dekat sama Tuhan”
Saya selalu beribadah kepada Tuhan, saya selalu salat dan meminta agar saya tidak lagi memiliki perasaan seperti ini lagi. Jadi depresi atau bipolar bukan berarti saya tidak dekat dengan Sang Pencipta. Kami sedang sakit, kami sudah rajin ibadah semampunya, tetapi masih saja banyak orang yang seenaknya men-judge bahwa semua itu terjadi karena kami jauh dari Tuhan.
ADVERTISEMENT
4. “Lupakan aja sedihnya”
Seandainya semudah itu bisa melupakan semua kenangan buruk yang selama ini saya alami, saya tidak perlu menulis ini sekarang dan menceritakan kisah saya.
5. “Bahagia itu pilihan”
Saya juga memilih untuk bahagia. Siapa sih di dunia ini yang tak ingin bahagia? Tak ada orang yang mau kok minum obat terapi yang efek sampingnya cukup menyebalkan. Tapi itu harus saya lakukan karena saya ingin bahagia.
6. “Saya juga pernah kali depresi, semua orang juga”
Inilah yang sering dikatakan oleh banyak orang. Sedih dan depresi itu jauh berbeda. Sedih bisa dialami siapa saja, dan akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Sementara depresi, bisa kambuh seperti halnya penyakit asma. Mungkin hari ini kamu baik-baik saja sampai beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan, tapi hal itu bisa saja terjadi lagi bagi kamu yang memiliki riwayat depresi atau gangguan mental lainnya.
ADVERTISEMENT
7. “Coba deh berhenti sedih”
Saya sering sekali mendengar kalimat ini dari beberapa teman saya. Hal itu sungguh menyebalkan. Kadang disertai dengan ucapan, "yang lebih sedih dari kamu banyak''.
Saya di sini minta untuk kamu mengerti kondisi saya bahwa saya butuh dukungan, bukan penghakiman. Jika kamu bisa bilang begitu, jadi bolehkah saya bilang untuk "berhenti bahagia karena orang yang lebih bahagia dari kamu banyak sekali di dunia ini?"
8. “Ah masa sih kamu depresi? Kamu terlihat baik-baik saja/happy terus, kok!”
Ketahuilah, bahwa orang yang depresi pintar untuk menyembunyikan emosinya dengan 'topeng'. Mereka bisa sangat ceria di depan umum atau ketika bersama orang terdekatnya. Mudah sekali untuk memalsukan kebahagiaan agar orang lain tak perlu tahu karena mengakui bahwa kita memiliki kekurangan itu sulit sekali.
ADVERTISEMENT
Kita hanya menghindari judgemental dari orang lain agar lebih baik untuk mental.
Jadi untuk kamu yang dekat dengan seseorang yang memiliki gangguan mental, apakah itu keluargamu, sahabatmu, atau pasanganmu, cobalah untuk menjadi orang yang penuh pengertian dengan kondisi mereka.
Gangguan mental bukan penyakit yang bisa sembuh kapan pun seperti luka goresan terkena pisau atau luka fisik lainnya. Butuh terapi panjang untuk mengembalikan kehidupan normal mereka.
Yang mereka butuhkan adalah orang terdekatnya adalah pendengar yang baik dan bisa bersikap bijak. Jadi setelah melihat tulisan ini, apakah kamu seorang pelindung atau justru orang yang sering menghakimi?
Sumber foto: Pixabay
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan