kumplus- LIPSUS- Permata Adinda
8 Oktober 2021 16:47
·
waktu baca 9 menit

Sebatang Kara Karena Korona (1)

Napas Friska mendadak tersengal. Matanya berkaca-kaca. Dia tak langsung menjawab ketika aku bertanya tentang keseharian orangtuanya di rumah. Kubayangkan: memang tak mudah. Kesediaan bercerita adalah satu hal, lidah yang terkunci karena pikiran dibanjiri kenangan pahit adalah hal lain. Belum genap sebulan sejak kedua orangtua Friska meninggal dunia.
“Aku jadi agak triggered,” kata Friska, akhirnya. “Tapi nggak apa-apa. Psikologku justru menganjurkan untuk bercerita karena ini membantu prosesku berduka.”
Friska bilang, ketika kedua orangtuanya masih ada, dia selalu terbangun oleh musik dari ruang tamu setiap pukul enam pagi. Itulah tanda orangtuanya sudah mulai beraktivitas. Lagu-lagu disco, slow rock, atau jazz ‘60 sampai ‘90-an mengiringi sang ibu menyapu atau mengepel lantai selagi ayahnya menyantap sarapan.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Konten Premium kumparan+
Banyak orang Indonesia, termasuk puluhan ribu anak, kehilangan orangtua akibat Covid-19. Tak jarang mereka harus menanggung beban berat ini sendirian. Baca laporan jurnalis Permata Adinda yang dilengkapi komik karya seniman @_ebuy untuk kumparanplus.